Muram sejak awal muncul di tahun 2019 sudah konsisten mengangkat isu perampasan lahan, kriminalisasi petani, dan berbagai masalah ekologi lain. Isu itu berangkat dari masalah yang terjadi di pulau tempat mereka hidup, yakni Kalimantan
Seakan telah terbayangkan sebelumnya, konflik lahan yang terus-terusan terjadi antara masyarakat adat di Kalimantan dengan korporasi yang “dibeking” polisi maupun preman, akan menemui titik terburuknya. Senin (09/10/2023) seorang warga Desa Bangkal, Seruyan, kehilangan nyawa karena tembakan polisi terkena dada warga bernama Gijik.
Peristiwa bermula saat Gijik dan warga lainnya memblokade akses ke perusahaan sawit. Ini dilakukan karena mereka muak menunggu nyaris 10 tahun untuk mendapatkan tanah plasma sawit yang dijanjikan perusahaan yang ternyata hanya isapan jempol belaka.
Metallagi.com berbincang dengan Gorey, vokalis band stoner rock asal Banjarmasin, Muram. Band ini sejak awal muncul di tahun 2019 sudah konsisten mengangkat isu perampasan lahan, kriminalisasi petani, dan berbagai masalah ekologi lain. Isu itu berangkat dari masalah yang terjadi di pulau tempat mereka hidup, yakni Kalimantan.
“Dan yang pasti Seruyan bukan konflik pertama. Konflik lahan akan selalu ada selama masyarakat adat yang tidak mempunyai ‘legalitas tanah’. Aneh saja saat 17 Agustus pakai baju adat, tapi masih banyak masyarakat adat yang tanahnya diambil paksa atas nama pembangunan dan investasi,” kata Gorey.
Pria yang bernama asli Ari Sutrisno itu telah menulis banyak lagu tentang konflik lahan sawit, misalnya di lagu “Api di Khatulistiwa” atau “A.R.I”. Bahkan sebelum dengan Muram, ia juga menulis itu di bandnya yang lain yakni saat di The Rindjink dan Hang Us. Kepada Metallagi, Gorey flashback menceritakan tentang yang ia alami selama tumbuh besar di Kalimantan.
“…aku merasakan apa itu rasanya asap sampai masuk rumah, ingat, masuk rumah loh. Dan ini di kota, apalagi yang berada di wilayah langsung yang terbakar atau dibakar. Banjir awal 2021 hal yang paling sangat aku rasakan pribadi, ya alam yang marah bisa melakukan apa saja. Di 2020 masa pandemi, pernah ngomong dalam hati, apa sih yang lebih berat dari pandemi, Januari 2021 banjarmasin banjir. Sebulan gak bisa kerja gak bisa makan,” kenang Gorey.
Harapan Gorey, tentu saja harusnya Kalimantan semakin membaik. Ia melihat masalah yang ada sekarang adalah banyaknya korporasi yang bertengger di pulau seribu sungai itu tidak peduli dengan kondisi lingkungan dan efeknya terhadap masyarakat adat.
“Ya menurutku pribadi alam memang harus digunakan sebaik-baiknya, tidak melarang tambang sama sekali. tapi lebih baiknya menutup lubang tambang, jangan dibiarkan menganga. mengambil hasil hutan, dan menanam kembali. lucu aja, dulu kita diajarkan kalimantan sebagai paru-paru dunia. Sekarang bagaimana,” kata Gorey.
“Mungkin beberapa tahun lagi masih ada band atau pemusik dengan isu yang sama. Penyebabnya ya masalah yang sama selalu berulang, tidak ada solusi yang konkrit dari penguasa seakan ada pembiaran,” imbuhnya.
