Madness of Bloody Ground: Festival Musik Di tengah Ancaman Deforestasi

adhe 10 Juni 2026

Sebagai komunitas yang lahir dan tumbuh di kawasan pegunungan, kami melihat isu kerusakan lingkungan sebagai ancaman serius. Karena itu, kami ingin mengajak para metalhead untuk tetap kritis dan turut menjaga alam yang menjadi ruang hidup bersama – Dwiki.

Komunitas musik bawah tanah Tretes Sindikat Bawah Tanah (TSBT) kembali akan menunjukkan eksistensinya melalui gelaran “Madness of Bloody Ground (MBG) 2026”. Ini akan diadakan pada pada 12 Juli 2026 di kawasan lereng Arjuno-Welirang, Prigen, Kabupaten Pasuruan. MBG 2026 ini akan hadirkan 15 band lintas kota dan gaungkan kampanye pelestarian alam.

Menggabungkan semangat kolektivitas, musik ekstrem, dan kepedulian terhadap lingkungan, acara ini diproyeksikan menjadi salah satu perhelatan underground yang menarik perhatian skena Jawa Timur tahun ini. Ketua pelaksana MBG 2026, Dwiki, mengatakan bahwa acara tersebut lahir dari semangat komunitas untuk terus menjaga denyut pergerakan musik bawah tanah di kawasan lereng Gunung Arjuno-Welirang.

“MBG bukan hanya panggung bagi band-band ekstrim, kami ingin menjadikannya sebagai ruang berkumpul, berdiskusi, sekaligus menyuarakan keresahan terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitar kami,” ujarnya.

Seperti yang kita tahu dari banyak berita, masalah utama yang sedang mengancam ruang hidup dan kelestarian ekologis di kawasan Tretes dan sekitar gunung Arjuno-Welirang adalah rencana alih fungsi lahan hutan untuk real estate, wisata, hingga proyek geothermal.

Musik Ekstrem sebagai Medium Perlawanan

Berbeda dari sekadar konser musik, MBG 2026 mengangkat isu lingkungan sebagai salah satu pesan utama yang ingin disampaikan kepada publik. Nama Madness of Bloody Ground dipilih sebagai simbol kemarahan dan kegelisahan terhadap berbagai bentuk eksploitasi alam yang dinilai semakin mengancam kawasan pegunungan Arjuno-Welirang. Selain itu, pamflet acara tersebut memuat ilustrasi gambar yang menunjukkan rusaknya hutan.

Bagi TSBT, musik bawah tanah memiliki akar historis sebagai medium kritik dan perlawanan terhadap berbagai bentuk ketidakadilan sosial. Bocoran yang kami dapat, akan ada band juga nantinya yang memanfaatkan waktunya di panggung untuk unjuk ekspresi penolakan terhadap eksploitasi alam.

“Sebagai komunitas yang lahir dan tumbuh di kawasan pegunungan, kami melihat isu kerusakan lingkungan sebagai ancaman serius. Karena itu, kami ingin mengajak para metalhead untuk tetap kritis dan turut menjaga alam yang menjadi ruang hidup bersama,” kata Dwiki.

Bertahan dengan Semangat Kolektif

Di balik penyelenggaraan acara, TSBT mengaku masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait pendanaan. Sebagian besar kegiatan komunitas dijalankan secara mandiri dengan mengandalkan sistem kolektif dan gotong royong antaranggota. Selain persoalan finansial, stigma negatif terhadap musik bawah tanah juga masih menjadi tantangan yang kerap ditemui. Namun, menurut panitia, solidaritas yang terbangun di dalam komunitas menjadi modal utama untuk terus bergerak dan berkembang.

“Semua berjalan karena semangat kebersamaan. Ketika satu orang memiliki keterbatasan, yang lain akan membantu. Kultur gotong royong itulah yang membuat kami tetap bertahan hingga sekarang,” tambah Dwiki.

Sebagai tambahan infomrasi, TSBT sendiri merupakan komunitas yang didirikan oleh dua metalhead asal Tretes, Dadang Santoso dan Khohandi Dewantoro. Berangkat dari minimnya wadah bagi pencinta musik keras dan independen di kawasan pegunungan, keduanya membangun komunitas yang kini berkembang menjadi salah satu simpul pergerakan skena underground di wilayah Pasuruan dan sekitarnya.

Sejak berdiri, TSBT telah menyelenggarakan sejumlah kegiatan musik, termasuk dua edisi “Welirang Extreme Fest” serta beberapa studio gigs yang menjadi ruang ekspresi bagi musisi lokal maupun regional.

Hadirkan 15 Band dari Berbagai Kota

MBG 2026 akan menghadirkan sederet nama yang sudah tidak asing di telinga penikmat musik ekstrIm Jawa Timur. Sebanyak 15 band dipastikan tampil dalam acara ini, mewakili berbagai subgenre metal, hardcore, grindcore, hingga punk.

Deretan line-up tersebut antara lain:
• Endrom (Kediri)
Dissanity (Jawa Timur)
• 1984 (Malang)
• Fecalbation (Jombang)
• Predator (Malang)
• Nemothorax (Tretes)
• Negara Boneka (Sidoarjo)
• Astor Ayem (Tretes)
• Vomiting Intestine (Pasuruan)
• Kebek Duso (Sidoarjo)
• Inveksi (Purwosari)
• Tigris (Pasuruan)
• Bleedmood (Mojosari)
• Path of Immortal (Pasuruan)
• XIX (Tretes)

Dengan komposisi tersebut, MBG 2026 diharapkan menjadi titik temu bagi berbagai elemen skena bawah tanah dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Menjaga Regenerasi dan Dampak Sosial

Melalui gelaran ini, TSBT berharap skena underground tidak hanya berkembang dari sisi musikalitas, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Regenerasi pelaku skena, kesadaran sosial, kepedulian terhadap lingkungan, hingga penguatan ekonomi kreatif lokal menjadi bagian dari visi jangka panjang komunitas. Menutup pernyataannya, Dwiki menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini mendukung perjalanan TSBT dan Madness of Bloody Ground.

“Terima kasih kepada semua yang terus mendukung pergerakan kami. Jaga persaudaraan, jaga ketertiban, jaga lingkungan lokasi acara, dan sampai jumpa di moshpit.”

Adhe Crusher

Penulis adalah vokalis Berantai, juga anchor di Night Distortion. Sentuh dia melalui instagram @adhe_crusher

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait