TRIGGER WARNING: Artikel di bawah ini mengulas karya musik yang memuat konten eksplisit mengenai kekerasan ekstrem, mutilasi, tindakan aborsi, kanibalisme, serta deskripsi visual artwork yang sadis (gore). Segala materi yang dibahas murni merupakan ekspresi seni. Mohon kebijaksanaan pembaca sebelum melanjutkan.
EP Cut Up The Prostitute’s Body dari Human Flesh party ini berisikan 4 track masing-masing berjudul “Mutilasi”, “Aborsi”, “Pesta Daging”, dan “Slaughter of the Saint”.
Salah satu yang tidak boleh terlewat dari radar musik kawan-kawan penikmat musik metal adalah band-band yang datang dari Kota Manado. Mereka merupakan satu band berbahaya yang harus didengarkan, yakni unit brutal death metal Human Flesh Party.
Beberapa bulan silam, tepat pada pergantian tahun 2025 ke 2026, di tanggal 31 Desember Human Flesh Party merilis EP terbaru mereka dengan tajuk Cut Up The Prostitute’s Body. EP ini dirilis secara digital via bandcamp Moshpit Records. Kawan-kawan bisa langsung mendengarkan EP Cut Up The Prostitute’s Body di sini.
Tentang Human Flesh Party
Human Flesh Party terbentuk pada tahun 2019 di Kota Manado, Sulawesi Utara. Human Flesh Party sendiri adalah Fiali pada vokal, Sandy yang mengisi posisi gitar, lalu Chimank pada bass, dan Icrot pada lini drum.
Human Flesh Party, secara tata bahasa jika diartikan ke bahasa Indonesia berarti pesta daging manusia. Kalimat ini sendiri secara harfiah merujuk pada kegiatan kanibalisme. Nama ini dipilih menjadi nama band sebagai penguat dari konsep musik brutal death metal yang mereka bawakan, juga sebagai bocoran halus tentang materi-materi seperti apa yang nantinya ada dalam rilisan-rilisan Human Flesh Party.
Seksualitas dan Gore Terangkum Dalam Album

Human Flesh Party pada Cut Up The Prostitute’s Body mengambil tema yang cukup gelap dan brutal, tentang pembunuhan, mutilasi, dan hal-hal yang tidak jauh dari sesuatu yang berbau kanibalisme dan gore, serta tambahan sedikit bumbu bahasan seksualitas. Agaknya tema seperti ini sangat cocok untuk para pendengar yang juga menikmati film-film horor slasher.
Terlihat dari artwork Cut Up The Prostitute’s Body, representasi judul dan tema yang diangkat dalam EP sudah sangat gamblang diperlihatkan. Gambarnya didominasi oleh warna merah yang seakan mempertegas kesan gore dari album, terlihat dalam gambar ada seorang penjagal yang memegang kapak, sedang menjagal tubuh seorang perempuan yang sudah terkulai mati dengan separuh isi perut keluar dari tubuhnya, satu bagian kaki yang telah terpotong, bagian mata yang telah tercabik, dan juga bagian kepala yang ditancapkan sebilah pisau.
Seperti yang telah saya tuliskan di atas, secara detail sebenarnya Human Flesh Party telah benar-benar memberikan informasi gamblang tentang EP Cut Up The Prostitute’s Body lewat gambaran yang mereka sajikan pada artwork album. Jika disimpulkan dalam beberapa kata, gambar artwork –Cut Up The Prostitute’s Body sangat terlihat sadis, vulgar, dan seram dalam waktu yang bersamaan. Konsep dari artwork album ini dibuat oleh Sandy, sedangkan pembuatannya dieksekusi oleh salah seorang seniman asal Manado yakni Adhitya Ramadhan.
Sementara itu, dalam proses penggarapan Cut Up The Prostitute’s Body, Human Flesh Party bekerja sama dengan Firman Pakaya (Alter Ego Studio) dalam proses perekaman. Adapun untuk mixing dan mastering, prosesnya dikerjakan oleh Roger Salawati dari Moshpit Studio. Ke dua nama tersebut merupakan nama-nama yang sudah tidak asing lagi di skena permusikan bawah tanah Manado, sepak terjang mereka dalam dunia kreatif khususnya dunia musik sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.
Mencoba Membedah Track Demi Track

Cut Up The Prostitute’s Body berisikan 4 track masing-masing berjudul “Mutilasi”, “Aborsi”, “Pesta Daging”, dan “Slaughter of the Saint”. Secara musikalitas Human Flesh Party sedikit banyak terinspirasi dari band-band seperti Devourment, Abominable Putridity, dan Analepsy.
secara general dalam Cut Up The Prostitute’s Body, Human Flesh Party menyajikan musik dengan ketukan drum padat kemudian diramupadukan dengan riff gitar agresif dan berat. Sedangkan dari warna vokal, suara yang dihasilkan menambah kesan brutal dari berbagai track yang disajikan. Komposisi seperti inilah yang akhirnya menghasilkan sebuah EP berbahaya dengan kesan menghancurkan yang begitu dalam.
Dalam segi bahasan, Cut Up The Prostitute’s Body membahas hal-hal yang cukup tabu untuk dibahas secara gamblang, dan memang membahas sesuatu yang berbau gore, seksual, dan horor adalah sesuatu yang pas dipadukan dengan musik brutal death metal seperti ini.
Pada track “Mutilasi” liriknya membahas tentang sebuah pembantaian terhadap suatu kaum dan kelompok, secara metafora lirik dalam lagu Mutilasi bisa diartikan sebagai sebuah kritik satir terhadap kejadian-kejadian genosida masal yang pernah terjadi selama sejarah. Mutilasi membawa keunikan, sebuah protes akan kejadian tidak manusiawi yang dibungkus dengan nuansa horor yang kental.
Track selanjutnya berjudul “Aborsi”. Jika melihat sekilas secara lirikal “Aborsi” adalah track yang menjadi representasi penuh dari gambaran artwork album. Tentang seorang perempuan yang terjagal di meja aborsi. Ini adalah sebuah pembawaan pesan moral dengan cara yang sedikit berbeda atau mungkin sangat seram. Lagi-lagi lirik ditulis sebagai sebuah kritik sosial, namun dibalut sebaik mungkin dengan kesan horor yang sangat dalam.
Kemudian dilanjutkan dengan track ketiga, berjudul “Pesta Daging”. Jika track sebelumnya merupakan representasi dari artwork album, maka “Pesta Daging” adalah representasi dari makna nama band. Atau bisa dibilang “Pesta Daging” adalah jawaban dari pertanyaan kawan-kawan yang penasaran mengapa band diberi nama Human Flesh Party.
Secara sadis lirik “Pesta Daging” membahas tentang kebengisan juga kebrutalan seseorang yang sedang melakukan tindak kanibalisme yang dilihat dari sudut pandang orang pertama. Track terakhir berjudul “Slaughter of the Saint”. Sebuah track dengan judul berbahasa Inggris, namun liriknya tetap menggunakan bahasa Indonesia.
Pada track terakhir, Human Flesh Party memberikan sedikit sentilan pedas untuk para oknum yang bersembunyi di balik jubah agama. Kritik ini tetap dibawa dengan ciri khas mereka sedari awal membuka album, yakni penggunaan bahasa dengan metafora sesuatu yang tetap berbau horor dan gore. Keseluruhan isi lirik pada EP Cut Up The Prostitute’s Body ditulis oleh sang vokalis Fiali.

Dengan konsep album yang mumpuni, musikalitas yang memuaskan dahaga para pecinta musik brutal death metal atau musik slamming, overall lewat album Cut Up The Prostitute’s Body, Human Flesh Party berhasil membawa pendengar berada dalam situasi seakan sedang menonton film slasher-brutal tak berkesudahan. Juga berhasil meneruskan tongkat estafet perjuangan para band-band death metal Manado terdahulu.
Mungkin, bisa juga dibilang Human Flesh Party adalah jawaban atas kerinduan kawan-kawan metalheads yang sudah rindu dengan band death metal dari Manado seperti Guillotine, Human Decay, Sabaoth dan lain sebagainya.
Sebagai informasi tambahan, dalam waktu dekat ini Human Flesh Party akan merilis merchandise juga CD. Untuk update informasinya kawan-kawan bisa langsung cek di instagram Human Flesh Party.
