Nobar “Ini Scene Kami Juga!” Edukasi Anti Seksisme di Skena

ugik 11 Mei 2023

Metallagi Media melangsungkan nonton bareng film “Ini Scene Kami Juga!” di Kedai Biasa (6/5). Film tentang kekerasan seksual dan anti seksisme besutan Hera Mary ini dihadiri para musisi dan pemuja musik keras di skena hardcore, punk, dan metal di Pasuruan.

Ini Scene Kami Juga! mengulas tentang keterlibatan perempuan di skena. Mulai dari awal nyemplung, hingga menjadi pelaku subkultur di dalamnya; menjadi zine maker, musisi, hingga partisan food not bomb. Seorang pegiat zine di dalam film, Alda, menjelaskan bahwa awal mula ketertarikan masuk di skena, karena zine yang ia baca memberikan alternatif hidup yang lebih cocok baginya, berbeda dengan kehidupan yang ia dapat dari keluarganya yang terlalu konservatif dalam beragama.

Ini Scene Kami Juga
Pegiat Zine, Alda, dalam film Ini Scene Kami Juga!

Namun kehidupan di skena tidak semanis apa yang dijelaskan Alda di awal. Ada hal buruk yang masih menjadi PR, yakni tindakan kekerasan seksual. Dalam film, digambarkan bahwa selama ini skena musik keras terlalu diidentifikasi sebagai dunia laki-laki yang maskulin. Sehingga perempuan menjadi kaum minoritas yang rawan mengalami kekerasan seksual saat berada di kerumunan konser (moshpit).

Sosiolog yang menjadi pemantik dalam diskusi, Hayy Mahayya, mengatakan skena musik keras seharusnya menjadi sarana yang inklusif bagi perempuan maupun laki-laki.

“Sebenarnya bergabungnya perempuan dalam komunitas ini adalah upaya pergerakan untuk melawan sistem patriarki melalui budaya tandingan dalam budaya yang berseberangan,” katanya.

Meskipun begitu, dalam diskusi, solois Zona Hitam, Fariz Akbar Firdaus ungkap bahwa sejauh berkecimpung di komunitas punk, tidak dipungkiri ada juga perempuan-perempuan yang datang hanya bertujuan untuk mengencani dan “mengobjektivasi” laki-laki.

“Hingga pada akhirnya fenomena ini ditentang dan muncul slogan ladies punk bukan pelacur,” ungkap Fariz.

Ini Scene Kami Juga
Peserta nobar. foto: Kevin

Sekadar informasi, secara historis, gelombang awal musik keras dari berbagai aliran selalu ada gerakan feminisme yang menentang seksisme. Misalnya adalah kemunculan hardcore di tahun 80-an. Seseorang yang menjadi motor adalah Ian MacKaye, pendiri Minor Threat dan Fugazi. Salah satu lagu Fugazi tentang penentangannya terhadap kekerasan seksual dapat didengarkan pada lagunya yang berjudul “Suggestion”. Begitupun dalam budaya punk dan skinhead, di gelombang pertama tahun 80-an,  sebuah kolektif bernama The Baldies pun menentang seksisme.

Melalui diskusi ini, kita jadi tahu bahwa kekerasan seksual menjadi penting untuk diberantas bersama-sama. Yang bisa dilakukan adalah dengan cara membentuk circle atau komunitas yang anti seksisme atau melakukan kampanye di manapun berada untuk selalu menyuarakan anti seksisme.

 

 

 

 

Ugik Endarto

Penulis adalah pegiat di Akar Zine dan Perpustakaan Jalanan Wahana Baca. Sapa dia di instagram @ambivalensii

Satu pemikiran pada “Nobar “Ini Scene Kami Juga!” Edukasi Anti Seksisme di Skena”

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait