Sabaoth Dan Perkembangan Scene Musik Ekstrim Manado

stevanpontoh 26 Januari 2023

Bicara soal perkembangan musik ekstrim metal di Indonesia timur khususnya di Sulawesi Utara, kita tidak bisa lepas dari setidaknya dua band lawas yang sampai kini masih sering terdengar rilisan-rilisan fisiknya, ada band seperti Durhaka (dulunya bernama Titanica), band black metal yang terbentuk dari tahun 1996, dan Sabaoth, band Brutal death metal yang sudah malang melintang di dunia underground dari kurun waktu 2000-an hingga sekarang.

Saya mendapat kesempatan untuk berdiskusi bahkan tepatnya berbagi kilas-balik per-metalan bersama salah satu personil Sabaoth yakni Bung Boy Sompotan (a.k.a Boy Sabaoth). Saya pribadi sudah mengenal beliau sejak duduk di bangku STM (2010-an), setelah sebelumnya di jaman SMP (2008-an), saya sempat ‘dipinjamkan’ CD demo Sabaoth berjudul “Demogrind” yang dirilis tahun sebelumnya.

Di jaman itu di Manado/Minahasa, musik seperti yang disajikan dalam Demogrind bisa dikatakan masih sangat teralienisasi karena menjamurnya trend emo dan nu metal di generasi saya kala itu. JFYI, padahal kala itu di Manado scene punk dan hardcore juga sudah lumayan berkembang, sebut saja band-band seperti Captikus-Squad, Bloodlines, dan Emergency Revenge yang sempat saya saksikan sendiri performanya di gigs-gigs bawah tanah kala itu.

Tutur Boy Sabaoth, ia menyukai musik metal lantaran sering menyaksikan klip-klip metal yang sering sekali di siarkan di stasiun TV (Saat itu hanya ada stasiun TVRI). Ia kemudian memulai meriset band-band sepantaran, lalu mulai membeli majalah yang membahas soal band-band metal kala itu. Bahkan tak jarang menyisihkan uang jajannya untuk mengkoleksi rilisan band-band yang covernya seram demi mencari band-band serupa dari kredit dan thanks list di kaset.

“Jaman itu paling sering band-band rock seperti Guns N Roses, Warant dan lain-lain, Kalau beruntung, nyempil lah video klip Metallica ato Sepultura,” tuturnya.

Dikarenakan akses soal permetalan masih susah, informasi mengenai pergerakan musik bawah tanah hanya bisa didapat dari majalah-majalah di jaman itu, sebut saja media zine semacam Hai!, majalah Rock, dan lain-lain karena akses internet juga masih sulit.

Sekalipun begitu, dari awal saya mengenal beliau, ia sudah punya akses ke beberapa pelaku musik underground di pulau Jawa di jaman itu. Tuturnya hal itu terjadi karena cuma modal ‘bergaul’ dirinya pribadi. Pesannya kala itu yang penting tidak gengsi apalagi self-centered.

“Awalnya masih kirim-kirim surat, wesel pos kalo beli kaset, kaos dan merch. Kalau order biasanya telponan di wartel. Nah, nanti sekitaran tahun-tahun 2003 udah jaman sms tuh, lumayan terbantu,” Jelas Boy.

Menjamurnya Internet dan Maraknya Musik Metal

Sabaoth
Penampilan Sabaoth di Groupies Death Fest 2016

2007, internet mulai menjamur dan media sosial kala itu ada friendster dan myspace. Jaman itu adalah pembuka jalan baginya agar getol koresponden sama rekan-rekan luar Manado. Saya sendiri pun sebenarnya mengenal beliau awalnya dari Friendster (2009-2010). Bila ditanya mengenai apakah ia lebih nyaman di era dulu atau sekarang, Boy Sabaoth merasa hal tersebut lebih ke fifty-fifty. Karena bila dinilai dari sudut pandang akses, tentu saja jaman sekarang lebih mudah untuk mengakses apapun.

 

Untuk generasi seperti saya pribadi yang mengenal musik bawah tanah baru di awal 2010-an, pasti tidak paham struggle mereka kala itu yang tentu saja banyak mendapatkan kepuasan tersendiri dari berburu media cetak, rilisan fisik, sampai mengkoleksi berbagai merchandise band secara langsung.

Ia juga sedikit bercerita tentang awal mula terbentuknya Sabaoth, karena awalnya memang teman metal pertama Boy adalah gitarisnya sendiri, Rio.

“Dia sering memperkenalkan band-band metal yang dulunya nggak pernah saya dengar”, ungkap Boy.

Sabaoth kala itu memang memainkan musik metal ekstrim (death/grind), namun bagi Boy, ia tidak “mentok” menyukai death metal saja, mungkin lebih dominan di death metal dan dikenal di death metal, namun ia juga menyukai thrash metal, black metal, dan metal in general.

Sempat Dituduh Memuja Setan

Sabaoth
Boy Sompotan, vokalis Sabaoth

Meskipun kala itu di Manado stigma masyarakat bagi musik metal masih tergolong cukup parah karena di jaman itu metal dianggap musik setan (apalagi dengan adanya isu gereja setan yang sangat simpang siur sebelumnya). Jadi Metalheads sering dianggap pemuja setan, dicibir atau malah dijauhi.

Lambat laun, karena kemudahan dan kebebasan informasi sekarang, masyarakat sudah lebih bisa memahami konteks, menerima, dan maklum. Akhirnya, dengan diadakannya berbagai gigs underground, Musik ekstrim mulai sering diperdengarkan. Awal pertemuan Boy dengan teman-teman metalheads kala itu pastilah di gigs underground, Namun Boy mengakui awalnya ia belum sering ngumpul (nongkrong).

Nanti ngumpul dan nyetel pas Sabaoth formasi asli vakum dan Rio inisiatif bentuk lagi Sabaoth dengan formasi baru,” Jelas Boy.

“Dulu sih sayanya bergaul dengan scene punk, karena dulu underground hanya ada mereka. Nah dari kumpul-kumpul dan ketemu di gigs underground tersebut lah saya bisa berkenalan dengan figur-figur yang kemudian bersama-sama bikin event full genre underground (MADFEST, 2005) dan event metal (Distorsi Maksimum, 2008) pertama di Manado. Jaman itu untung-untungan kalo manggung setahun sekali karena keterbatasan event, venue dan bahkan spesifikasi alat yang memadai,” imbuhnya.

Di era 2008-2009 sesudah Distorsi Maksimum, yang aktif buat event justru teman-teman dari Tomohon dan Tondano (Kabupaten Minahasa), bahkan salah satu band era itu masih aktif sampai sekarang, yakni band Scarlett Letters.

Kota yang paling difavoritkan saat perform dulu sepertinya semua, karena saya pribadi enjoy menikmati perjalanan, suasana di tempat baru, dan terutama ketemu teman-teman di kota tersebut, paling jauh di provinsi sendiri kami main di daerah Langowan,” tambahnya.

Dari Death-Grind ke Brutal Death

Sabaoth
Sabaoth

Sabaoth dikenal dengan musiknya yang bermain di ranah death metal/grindcore. Tapi makin kesini, apalagi di album paling baru mereka, The Inquisition (EP, 2019, Dismembered Records), musik mereka mulai terbawa ke arah brutal death metal.

Ungkap Boy, hal tersebut karena dulunya, Sabaoth bermain dengan materi yang simple dan straight to the poin. Namun makin kesini, mereka terus mengeksplor proses kreatif masing-masing dan secara alamiah terjadilah perubahan warna tersebut. Berbeda dengan sekarang yang sudah banyak bermunculan media promosi online, Boy juga sharing soal bagaimana proses promosi Sabaoth di Manado dulu.

“Pengalaman pribadi waktu Sabaoth rilis cd Demogrind di tahun 2007 itu sistemnya gerilya, chat via mirc, sms dan testi (istilah untuk komen-komen di kanal bernama friendster) ke teman-teman yang kita tahu bahwa dia suka metal dan kita mintain alamat untuk kita kirimkan cd kita tersebut. Yah, lumayan buang duit kirim-kirim cd, pulsa sms, billing warnet dan waktu di warnet lah demi promokan cd band,” Jelasnya.

Yang Kontras di Metalheads Generasi Lama dan Baru

Sabaoth
Boy Sompotan, vokalis Sabaoth

Hal tersebut cukup membuat saya sadar mengapa ada kontras sudut pandang antara pelaku musik generasi sebelum dan setelah saya. Kebanyakan dari band-band lama/pelaku musik yang lama, biasanya tidak sungkan untuk mempromosikan CD atau rilisan mereka secara cuma-cuma apakah itu fisik atau online (karena hal itulah yang mereka lakukan dahulu). Sedangkan banyak band hari ini yang lebih memilih merilis single mereka di plattform seperti Spotify dan iTunes dengan mempertimbangkan modal dan benefit finansial ketimbang merilis full-album mereka secara langsung/D.I.Y dan mempromosikan album mereka ke label-label secara fisikal.

Hal ini yang membuat saya sangat memaklumi pernyataan Boy Sabaoth waktu melihat postingan sharing session di “Jumat Membara” bareng Adjie dari Blackandje. Boy berargumen bahwa “Saat ini metal bukan lagi merupakan sebuah kultur perlawanan, tetapi sudah menjadi industri”.

Karena dulu, orang-orang ‘bicara’ soal keresahan mereka didalam musik sebagai reaksi bungkamnya media kesenian mainstream terhadap issue politik, ketidak-adilan, anti-otoritarianisme, dan issue-issue kemanusiaan. Hari ini, bahkan banyak band-band ekstrim yang lebih memilih merilis merch ketimbang merekam album. Sekalipun begitu, tidak bisa saya menafikan bahwa kondisi setiap jaman itu berbeda, dan hanya dengan adaptasi lah kita bisa bertahan. Seperti istilah “Survival of the fittest” dalam Darwinian Evolution. Yang bertahan bukan mereka yang paling kuat, namun mereka yang pandai beradaptasi.

Sabaoth juga merupakan salah satu band metal yang sudah perform paling jauh waktu mereka melaksanakan tour di pulau Jawa 2016. Mereka tampil di Jakarta dan Bandung. Selain itu mereka juga pernah melaksanakan Tour di Rock In Celebes, di 3 kota, Makassar, Gorontalo, Manado.

“Kalau yang di Makassar, itu dalam rangka tour Rock In Celebes. Sabaoth waktu itu dapat 4 kota (Makassar, Kendari, Gorontalo dan Manado) Tapi di Kendari kami berhalangan, akhirnya hanya ambil 3 titik saja. Selain itu, Kota Palu juga seru tuh, kita diajak main untuk memeriahkan opening salah satu distro di sana. kita main bareng Mushroom Squad (Gorontalo), Critical Defacement (Makassar) dan Siksakubur,” Tutup Boy.

 

 

Stevan Pontoh

Penulis merupakan pengarang buku The Art of Destruction dan personil Northorn. Sapa dia di instagram @@stv_chada

2 pemikiran pada “Sabaoth Dan Perkembangan Scene Musik Ekstrim Manado”

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait