Kesakralan Alam Pulau Sangihe dalam Konsep Black Metal Calvarium

stevanpontoh 20 Januari 2023

Di tengah pergolakan rakyat Sangihe berjibaku melawan pertambangan yang diyakini melanggar ketentuan hukum serta berdampak buruk terhadap ekosistem pulau, sementara itu di scene musik bawah tanah Sulawesi Utara ada Calvarium, band blackened death metal yang kini sedang dalam proses perekaman album ketiga mereka yang mengangkat keresahan yang sama.

Di album ketiga, Calvarium secara tegas memperlihatkan pula ekspresi penolakan yang sama melalui konsep lirikal mereka yang menyerempet menyoal environtmentalisme dan naturalisme yang dibalut dengan tema kepercayaan kuno Sangihe, yang sangat paham bahwa alam adalah sesuatu yang sangat sakral.

Kemarin 18 Januari 2023, single bertajuk “Ghenggonalangi’s Wrath” telah rilis. Lagu itu sebagai pintu masuk bagi pendengar Calvarium yang saat ini menanti kedatangan sekuel ketiga dari album sebelumnya “The Rituals”.

Dilihat dari single cover-nya, Calvarium menggaet artworker dan pemerhati budaya muda, Garry Pontoh, untuk mempersonifikasikan tiga entitas besar ruh alam raya ke dalam gambar yang akan ditampilkan dalam visualisasi single Ghenggonalangi’s wrath.

“Senang rasanya di single kali ini bersama RaHa (Stevan), Pangkunang, Gil, dan Andrew masih bisa berkarya bersama memuat propaganda menyoal kultur. Pengaruh album ‘The Rituals’ tahun kemarin khususnya track yang berjudul ‘Ruata’ sepertinya masih membekas di benak. Karya setelah yang satu ini di pastikan masih dengan pesan yang sama, namun dengan sentuhan environment dan sentimen geografis”, tutur Asmodeus, drummer Calvarium.

Calvarium Mengusung Tema Environmentalism Hingga Paganisme

Calvarium
Calvarium di atas panggung

Genggonalangi’s Wrath adalah bentuk refleksi betapa kecilnya manusia dihadapan kemurkaan alam dan bencana yang mungkin bisa terjadi akibat ulah manusia itu sendiri. Direpresentasikan dan terinspirasi dari kepercayaan tua Sangihe tentang Ghenggonalangi yang dalam Bahasa Indonesia artinya adalah penguasa maha tinggi.

Tidak hanya tentang environmentalism, Calvarium masih konsisten mengangkat tema paganisme dengan menggali kembali legenda, mitologi, dan kearifan kuno dari pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Album Calvarium selain bakal disebar dalam bentuk digital, juga sudah di jadwalkan akan di rilis secara fisik dalam bentuk CD oleh label dari kota Malang, Jawa Timur, yaitu Throne Musickness.

Lirik dan lagu Genggonalangi’s Wrath

Deathcult recalls, the cult of doom

He who’s wading through the cosmos

The power that dwells in all living regardless

Of whether we should kneel nor worship

 

Shamanic possessions, secret spells

Buried in the thick of the woods

Whispering sasahara, sasali enchanted

Cast out all foreign spirits in our bodies

 

Kakalè e mansèmbau

Nasèmbau su kasasèmbau

Patiku namatiku

Su kèbi patiku

 

Sipirang tinèna

Mètinèna su pangenang

Jiwa niawa nehimukudè

Abe wala si sai lai, mamal(r)ui bentukè e

 

With the sound of tagonggong

The spirit of nature is dancing

For the exploitation of our land

He is immoral, the God of destruction and life

 

Spread like fire to those

Whom the spirit possessed

The books of sasambo are wide open

Waiting to be recited

 

Shamanic possessions, secret spells

Buried in the thick of the woods

Lightning after lightning, lightning strikes

Ghenggonalangi’s wrath

 

Stevan Pontoh

Penulis merupakan pengarang buku The Art of Destruction dan personil Northorn. Sapa dia di instagram @@stv_chada

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait