Aku lumayan kaget ketika tahu, seorang Stevan Angga Pontoh, musisi black metal dari NORTHORN yang dalam benakku adalah musisi paling gelap di Indonesia yang aku kenal, ternyata punya band post-punk bernama ALIEN PENUMBRA.
Ini adalah proyek solo yang ia kerjakan sendiri sejak tahun 2020. Post-punk bagiku adalah genre yang cukup jauh berbeda dengan black metal, genre yang selama ini Stevan selami.
Di sinilah letak ketertarikanku ketika Stevan bikin story WA mempromosikan album barunya ALIEN PENUMBRA, Planet Lost yang rilis Februari 2022 lalu. Seketika itu, langsung saja kukirim pesan ke dia untuk tanya-tanya seputar ALIEN PENUMBRA.
Alasan dia sebagai musisi black metal yang berkarya dengan genre post-punk, menurutnya dilatarbelakangi oleh kesamaan dalam sisi persoalan filosofis antara kedua genre itu.
“Black metal kebanyakan berbicara soal nihilisme dan pessimisme atau misanthropy, post-punk juga bereksplorasi dengan hal-hal gelap itu,” terang Stevan.
Cukup berat apa yang diungkap Stevan. Demi menghindari salah tangkap istilah yang ia lontarkan, aku mencoba mencari pengertian nihilisme dari berbagai sumber. Yang pada intinya, nihilisme adalah faham tentang ketiadaan (nihil) yang dipopulerkan oleh filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche.

Alien Penumbra dan Petualangan Filosofinya
Stevan memang punya ketertarikan khusus dengan teman nihilisme. Yah, dari lagu-lagu NORTHORN sendiri kita bisa merasakan auranya. Apalagi jika membaca bukunya “The Art of Destruction” yang disusun dengan rasa sakit dan luka, yang dibalut gambar-gambar lukisannya yang tintanya adalah darah!. Begitupun proyek solonya, ALIEN PENUMBRA juga memiliki arti yang cukup filosofis.
“Alien Penumbra is not even a sentence, karena kata penumbra punya definisi “bagian luar bayangan yang sebagian diarsir oleh objek buram”, contohnya seperti pada fenomena gerhana, sederhananya itu adalah “objek buram dalam bayangan”, ucap pria 28 tahun itu.
Stevan mengatakan bahwa ia adalah orang yang lumayan intens mendengarkan musik post-punk, apalagi sejak pandemi melanda di tahun 2020. Beberapa yang menginspirasinya adalah Asylum Party, Spandau Ballet, dan tentu saja yang populer dari genre ini adalah Joy Divison ia dengarkan juga.
Sejak itulah dia tertarik untuk bereksperimen. Meskipun begitu di komposisi lagu, ALIEN PENUMBRA tidak memasukkan unsur synthesizer seperti kebanyakan post-punk new wave lainnya.
“Sekalipun sebenarnya saya mengenal post-punk dari kelompok paling modern seperti Amesoeurs dan karena memang di 2020 tersebut pandemi covid membludak, kerehatan itu saya selingi dengan bereksperimen menciptakan musik,” terang pria sarjana sains terapan itu.
Soal lirik yang dibuat, ia tidak terlalu memusingkan apakah pesan yang ia sampaikan akan benar-benar dihayati oleh pendengar. Karena yang ditonjolkan terlebih dahulu ialah lirik.
“Sepertinya tidak ada yang konkrit, karena lirik-liriknya multitafsir, first impression orang mendengarkan sebuah lagu adalah musiknya dahulu, baru lirik di dalamnya. ALIEN PENUMBRA mengedepankan eksperimen musikal ketimbang lirikal. Liriknya juga tergantung mood saya sedang membaca buku apa ketika menulisnya,” terangnya.
Tema yang ia usung di ALIEN PENUMBRA juga terinspirasi oleh filsuf juga novelis, Albert Camus.
“Kebanyakan soal keterasingan dan absurdisme, ini karena waktu itu juga saya sedang membaca buku The Stranger dan Myth Of Sysiphus-nya Albert Camus. Ada juga satu lagu soal fetisme, yang dalam konteks positif ya,” imbuhnya.
Dia akhir chatting-ku dengannya sekaligus menutup sesi wawancara ia kutodong untuk menjawab harapannya untuk scene musik underground lokal.
“Lebih eksploratif dan kreatif, lebih kritis dan selalu berbenah diri, kurangi ghibah banyakin karaoke, kurangi mabuk banyakin latihan, dan jangan mengemis apapun pada kekuasaan, tetap semangat, have fun, dan maknailah musik dan kesenian sebagai penebus penderitaan dan kesenjangan kita!,” pungkasnya.


Satu pemikiran pada “Alien Penumbra, Band Post-Punk Manado dengan Tema Nihilisme”