Musisi Black Metal Asal Manado Ini Rangkai Buku Prosa dengan Lukisan Darah

The Art of Destruction merupakan prosa filosofis karya Stevan Pontoh, musisi black metal Manado, NORTHORN. Prosa itu ia bukukan dan menjadi manifestasi fundamental dari karya-karya ekstrim yang telah dihasilkan melalui musik dan artwork yang diilustrasikan dengan koleksi lukisan darah.

Berawal dari kumpulan tulisan yang di kerjakan oleh Stevan pada tahun 2017 silam, hingga menjadi album NORTHORN sebelumnya. Akan tetapi di dalam buku ini lebih menekankan kondisi nihilis yang berkaitan dengan filsafat kehidupanHal ini juga menjadi pondasi dasar referensi dari lirik dan tema musik di dalam NORTHORN.

Pada dasaranya buku ini punya esensi untuk melampaui kondisi nihil itu, yaitu kondisi di mana seseorang berusaha untuk melewati fase nihilistic tersebut dengan membentuk kembali pemaknaan.

Di band NORTHORN sendiri banyak orang yang salah memahami latar belakang pikiran Stevan. Terbitnya buku The Art of Destruction berharap bisa menjadikan suatu referensi agar tidak salah kaprah untuk memahaminya. Tulisan-tulisan di buku ini banyak korelasinya dengan filsafat kontemporer.

Di buku The Art of Destruction sendiri lebih banyak berbicara tentang estetika yaitu apakah beragam kesenian harus melulu tentang apa yang dianggap “indah” dan “rapi” belaka. Akan tetapi tentang kebebasan dalam berekspresi.

Makna dari kehancuran yang Stevan maksud adalah suatu kondisi atau perasaan absurd dan kondisi nihilistic.

“Secara garis besar, pesannya eksistensialnya sama tapi di tulisan final, saya menambahkan sedikit tulisan dan kutipan-kutipan dari beberapa filsuf untuk memperkuat argumen di dalamnya,” ujar Stevan.

The Art of Destruction

Proses penyusunan buku ini, Stevan banyak mengotak-atiknya. Hal itu berkaitan erat dengan pergolakan pemikirannya dalam memakn ai hidup.

“Dahulu tulisan saya stuck tentang nihilisme pessimistic ala arthur Schopenhauer/buddhisme di mana hidup sudah selayaknya dikutuk dan dihancurkan, nah ..di tulisan sekarang saya menambahkan argumen soal keadaan absurd itu serta cara melampauinya, ada beberapa konsep di tulisan final yg kutambahkan yang kemudian akhirnya jatuh seperti filsafat eksistensialisme pada umumnya dimana kita tahu hidup memang tidak bermakna, namun kita punya segala kemampuan untuk membentuknya Kembali,” jelas Stevan.

Tentu saja ini dibutuhkan perenungan yang cukup dalam untuk memahami buku ini. Bagi yang akrab dengan pergulatan filsafat kontemporer, ini adalah buku yang cocok anda miliki. Di masa pre-order kemarin stevan memberikan bonus berupa lukisan darah dari Stevan sendiri dengan mempresentasikan kesenian dengan darah yang menjadi dari estetika dan artistik.

Januari ini The Art of Destruction akan sediakan ready stock, jadi bila ingin memesan silahkan kontak saja Selvmerch production (Solo). Sekian artikel ini, terima kasih telah membaca Metallagi.com.

Tinggalkan Komentar ...

Baca Juga

Ini Makna Dibalik Lagu “Putih Tercemar Darah” Fear Epidemic

Pertengahan Desember lalu (14/12/2021), FEAR EPIDEMIC merilis lagu pertamanya berjudul “Putih Tercemar Darah”. Lagu ini dirilis pada akun Fear Epidemic Official di Youtube dengan format video lirik. Putih Tercemar Darah ini membuat penasaran judulnya. Membuat kita berspekulasi yang tidak-tidak, hmmm… apa sih isinya? Demi menuntaskan rasa penasaran itu, Metallagi.com menghubungi salah seorang personil dari FEAR […]

Dissanity Band Brutal Pendatang Baru Yang Benar-Benar Brutal

DISSANITY adalah salah satu proyek brutal death metal antar kabupaten di Jawa Timur yang terbentuk pada awal tahun 2021. Sosok-sosok dibalik proyek ini yaitu 3 pemuda brutal yang namanya tak asing lagi di lingkaran penikmat death metal tanah air. Jossi Bima (Invigorate, Innocent Decomposure, Perveration, dll). Kemudian Dwiki yulianto (Maggoth, Vitrectomy, Hypoxemia, dll) dan yang […]