Kemenyan: Entitas Black Metal di Timur Nusantara

stevanpontoh 2 Juni 2022

Kemenyan

Redaksi metallagi.com berkesempatan berbincang bersama salah satu pentolan logam hitam kota Makassar, Faizal dari grup musik KEMENYAN. Band ini sangat menarik mendapat sorotan karena memang tulisan soal band-band black metal Indonesia timur minim sekali (dikarenakan keberadaan mereka memang bisa dihitung dengan jari). Dan selama ini, band-band black metal memang tumbuh subur di dataran Jawa dengan unsur-unsur tradisional yang sarat dengan kultur budaya Jawa.

Saya tidak serta merta mengatakan ini adalah fenomena javasentris, namun apabila kita memang ingin memaknai kenusantaraan kita yang majemuk dan luas ini, adalah sangat fair bila band-band dari timur Indonesia juga semakin diulas, disorot, dan diberi ruang karena Indonesia adalah sebuah negara multikultural yang artinya memiliki beragam suku bangsa, agama, sejarah, dan juga budaya. Jadi ketika hal tersebut tidak tercermin dalam media dan komunitas, ini disayangkan sekali.

Band seperti KEMENYAN terdiri dari beberapa dedengkot pegiat logam hitam lama. Mereka bukan pelaku-pelaku baru di skena metal Makassar, band ini sendiri sudah mengeluarkan debut album mereka di 2021 lalu, tentunya akan sangat menarik bila diulas. Berikut adalah wawancara redaksi dengan Faizal, drummer KEMENYAN.

Kemenyan

1. Ceritakan sedikit mengenai latarbelakang terbentuknya band KEMENYAN!

Sebelumnya saya sampaikan saya bukan drummer awal KEMENYAN dan bukan juga salah satu pendiri dari band KEMENYAN. Saya drummer kedua dari band ini, berhubung lingkungan kami tidak jauh karena masih di jalur yang sama jadi sedikit banyak saya tahu progres awal band ini.

Band ini dibentuk oleh beberapa pentolan-pentolan black metal terdahulu yang pernah eksis di Makassar. Mereka bersepakat untuk memainkan kembali musik black metal dengan membuat band baru bernama KEMENYAN yang digawangi Rafis (vokal), Fadli (gitar), Azis (gitar), Bahri (drum) untuk bass mereka blum menetapkan pemain paten sampai saat ini.

Arena visi misi dan disiplin main mereka yang sama jadi bukan hal sulit lagi buat mereka untuk beradaptasi di KEMENYAN. Sampai saat Bahri (drum) berniat mengundurkan diri karena sesuatu hal. Nah, disaat itu lah saya diajak untuk bergabung meneruskan progres mereka yang ketika itu sedang mengerjakan album perdana.

2. Bagaimana atmosfir di skena musik Makassar terkait black metal dan sejenisnya?

Secara garis besar untuk skena musik underground di Makassar agak sulit digambarkan. Sederhananya begini, kondisinya tidak naik sekali tapi tidak juga redup, secara khusus untuk musik black metal masih sangat sedikit yang berminat untuk memainkan entah alasannya apa, padahal penikmatnya juga tidak bisa dibilang sedikit. Mungkin beberapa takut berbenturan dengan kultur budaya timur atau faktor satanisme dan lain-lain. Entahlah, padahal ada banyak tema lain yang bisa kita angkat dari musik black metal selain satanisme dan kritik agama.

3. Bagaimana dengan stigma masyarakat, apakah Makassar termasuk kota yang notabene masyarakatnya ‘konservatif’?

Kalau soal ini sih sepertinya masyarakat Makassar sudah lebih cerdas menyikapi dalam hal kebebasan bermusik dan berkesenian. Selama itu tidak menonjol dalam arti bertentangan atau menentang berlebihan kultur budaya mereka yah semua baik-baik saja, sederhananya apapun yang kita lakukan selama konteksnya sebatas berkesenian, mereka akan terima dengan baik-baik saja.

4. Apa pesan yang ingin kemenyan wartakan, dan apakah ada latar belakang filosofis dari tema lirik kemenyan?

Untuk tema KEMENYAN kami mengangkat tema ‘neraka’, kita tau lah kilasan tentang neraka secara umum, isinya, dan penyebab kita bisa berada di sana itu karena apa, jadi kami berfikir kalau ini tema yang spertinya cocok untuk kami angkat dalam karya kami, tentang kengerian neraka, kegelapan neraka, dan pasukan-pasukan penggoda yang bisa membawa kita ke sana, mungkin secara garis besarnya seperti itu.

Kemenyan

5. Bagaimana pandangan anda terhadap satanisme, paganisme dan okultisme dalam lingkup bermusik, black metal sarat dengan tema tersebut, apakah kemenyan mengeksplorasi tema terkait atau mengeksplorasi lebih jauh?

Secara pribadi tentu saja saya termasuk orang yang menentang ide-ide seperti itu, khususnya satanisme tradisional. Jadi saya seorang musisi black metal yang bukan pemuja setan, sihir, dan ilmu hitam, hahahahahahahaha, soal eksplorasi lirik saya sudah jabarkan sebelumnya.

6. Menurut anda, mengapa tidak banyak band yang memainkan black metal di Indonesia timur?

Soal itu sedikit banyak sudah dibahas dipertanyaan sebelumnya, beberapa mungkin tidak mau berbenturan dengan kultur dan budaya juga pandangan masyarakat yang menganggap musik black metal hanyalah musik bagi para satanis, dan mungkin juga mereka pada gak mau ribet dengan properti yang cukup banyak di tiap performnya, hahaha.

7. Apakah Makassar pernah punya sejumlah pegiat musik black metal lain di masa lalu?

Yes, dulu sangat banyak pengiatnya di era 90-an akhir sampai 2000-an awal. Tapi seiring waktu, mereka semakin hilang dari komunitas, nah pendiri awal KEMENYAN itu sisa-sisa dari saksi pelaku-pelakunya di pergerakan awal musik black metal di Makassar. Di era sekarang mereka kembali memainkan musik black metal dengan style yang sama tapi dengan balutan sound dan suasana yang tentunya berbeda.

Stevan Pontoh

Penulis merupakan pengarang buku The Art of Destruction dan personil Northorn. Sapa dia di instagram @@stv_chada

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait