‘Indonesia Menang’ dilantukan tidak seperti menyanyi pada umumnya. Lagu ini dibawakan oleh sang vokalis dengan seperti membaca puisi. Barangkali Chairil Anwar akan senang mendengarnya karena puisi ini berisi tentang perjuangan dan nasionalisme
Mereka adalah orang-orang nasionalis. Beberapa jam sebelum laga Timnas Indonesia melawan China pada 5 Juni 2025 Joki Tong Setan merilis video musik “Indonesia Menang” di Youtube.
Tindakan optimis mereka membuat saya yakin emang mereka adalah si nasionalis mental baja. Bagaimana tidak, kalau Indonesia kalah pasti dihujat mereka. Nilai plus-nya, saat itu ternyata Indonesia menang, doa yang jadi judul itu terkabul.
Terlepas dari itu, saya suka dengan semangat Joki Tong Setan yang mekspresikan perasaanya ke dalam karya seni. Yang bikin heran, bisa-bisanya riuh pujian yang pantas berada di tribun itu dilimpahkan ke dalam selongsong musik hardcore. Terlebih karakter sound yang disangrai itu penuh protein rendah lemak. Padat dan mudah ditelan.
Di setiap milidetik heningnya groove, noise barang sebutir debu yang bocor dari celah-celah distorsi secepat kilat dipastikan tersapu. Mereka terlampau higienis, sang peramu musik di tahap akhir harus diacungi jempol.
Lagu ini sangat pantas untuk dijadikan anthem para pemain timnas saat di ruang ganti untuk membakar semangat, seperti lagu-lagu Metallica yang konon digunakan tentara AS sebagai penyemangat dalam menyiksa tahanan perang.
“Indonesia Menang” dilantukan tidak seperti menyanyi pada umumnya. Lagu ini dibawakan oleh sang vokalis dengan seperti membaca puisi. Barangkali Chairil Anwar akan senang mendengarnya karena puisi ini berisi tentang perjuangan dan nasionalisme meskipun harusnya diselipkan diksi yang lebih provokatif juga agar Chairil Anwar sudi kelompok musik ini bagian dari circle-nya.
Cara Joki Tong Setan Menyusun Musik

Intro “Indonesia Menang” memang sangat istimewa. Bar-bar yang disusun berkelok, mengecoh ramalan pendengar yang terbiasa dengan birama standar. Joki Tong Setan, berada setingkat di atasnya karena cukup piawai dalam bekreasi.
Bagi saya, lagu ini akan lebih bagus lagi kalau punya versi yang lebih panjang. Di awal mendengarkan lagu, saya kira puisi adalah part pembuka. Nyatanya, hingga lagu berakhir sang vokalis tetap berpuisi. Jadinya sulit untuk menentukan ritme di mana saya harus merasa klimaks.
Lagu “Slaptika” milik Taring bisa jadi perbandingan. Mereka di awal hingga tengah lagu memainkan lagu dengan tempo yang konsisten kencang. Namun di akhir, puisi dan sludge dihidangkan dengan sempurna sebagai pencuci mulut sebelum meninggalkan meja makan.
Namun kalaupun Joki Tong Setan tetap ingin berpuisi dengan durasi yang cukup pendek, lagu ini akan menjadi lebih setakar jika dijadikan soundtrack film tentang sepakbola seperti Garuda Di Dadaku, sinetron Tendangan Si Madun, atau jadi atau pembuka game E-Football.
Bayangan saya di masa yang akan datang seandainya Timnas Indonesia masuk piala dunia, Joki Tong Setan harus melakukan tur di atas mobil pick up dengan mengambil alih format sound horeg yang bagi sebagian orang banyak mudaratnya itu. Lagu “Indonesia Menang” pantas menggema di sudut-sudut kampung hingga warkop-wakop semacam Giras yang biasanya mengadakan nobar timnas.
