Call Me A Dog, Grunge Asal Manado Rilis Album Baru

Imam Muharis 29 Desember 2025

Band ‘spiritual grungy’ asal Manado, Call Me a Dog merilis album penuh yang patutnya tidak kita lewatkan.

Sebuah penantian yang lumayan cukup lama, sejak dirilisnya EP perdana dengan tajuk Rakshasha di tahun 2018 silam, akhirnya setelah kurang-lebih 7 tahun, Call Me a Dog merilis In the Shade of The Almond Tree, dan resmi dirilis lewat Moshpit Records pada tanggal 25 November 2025 silam. Kabar menyenangkan ini juga diberengi dengan perilisan film dokumenter pengerjaan album In The Shade of the Almond Tree.

Ini merupakan penghormatan dan apresiasi dari Call Me a Dog, kepada keluarga, teman, dan semua yang telah mengambil peran dalam perjalanan bermusik Call Me a Dog.

Pada album In the Shade of the Almond Tree, pengerjaan album bisa dibilang lebih memakan waktu dan tenaga ketimbang pengerjaan EP Rakshasha. Ada juga beberapa pertimbangan yang akhirnya membuat para personil CMaD harus beberapa kali memutar otak, mulai dari harus mengubah arah musikal, mengkurasi isi materi yang harusnya arah bahasannya lebih ke arah mana, dan harus menjadi seperti apa.

Namun, justru hal tersebutlah yang bagi para personil CMaD membuat penggarapan ini lebih seru dan matang dari segi musikalitas atau bahasan lirik, atau secara sederhana CMaD menggarapnya tidak grasah-grusuh dan terkesan kejar target semata. Sebagian besar pengerjaan album dilakukan secara DIY di Mandala Records sejak tahun 2021.

Album Dengan Substansial Filosofi

Call Me a Dog

Pembuatan artwork untuk album In The Shade of the Almond Tree, CMaD bekerja sama Ferdi Kaladu yang juga merupakan seorang musisi dan seniman asal Manado. Bagi CMaD, buah tangan Ferdi adalah gambaran yang sangat pas untuk merepresentasikan tentang materi apa yang dibahas dalam album In the Shade of the Almond Tree.

Jika dalam EP Rakshasha, artwork-nya terlihat begitu berkesan ‘gelap’, tidak terlalu berwarna, maka pada In the Shade of the Almond Tree, terlihat sedikit lebih berwarna dan tidak terlalu berkesan ‘gelap’. Hal inilah yang cukup mengecoh, pikiran langsung mengambil kesimpulan, jangan-jangan CMaD sedang keluar dari zona nyaman, tidak lagi membahas sesuatu yang terlalu berat dan satir.

Atau jangan-jangan ada arah musik yang akan menjadi berbeda di album ini, ada banyak jangan-jangan yang akhirnya mendapatkan jawaban pasti setelah mendengarkan materi In the Shade of the Almond Tree secara penuh. Selain hal-hal tersebut penyebab prasangka ‘jangan-jangan’ yang saya pikirkan juga adalah perubahan dari font logo band pada cover album.

Dalam Rakshasha, CMaD berupaya memperlihatkan kepada khalayak, bahwasanya CMaD adalah band dengan konsepsi spiritual dari artwork-nya. Sedangkan dalam In the Shade of the Almond Tree, perubahannya cukup signifikan, malah sangat signifikan. Saya sendiri malah makin yakin, ‘jangan-jangan’ CMaD semakin berubah. Logo CMaD pada album In the Shade of the Almond Tree sangat terinspirasi dengan logo band-band alternative tahun 90an.

Artwork pada album itu digambarkan sebagai tempat gersang, yang di sana ada sebuah pohon almond yang tergambar indah, dalam satu cabang pohon almond, ada sebuah simpul tali yang menggantung, tali yang terlihat sebagai pengakhir hidup seseorang, dan di bawah simpul tali tersebut terlihat ada sebuah bayang-bayang seorang yang telah terbujur kaku.

Harusnya, jika pada awal melihat artwork ini saya tidak kadung membandingkan dengan artwork Rakshasha, saya harusnya langsung sadar sisi gelap manusia apalagi akan dibahas CMaD.

Dan yang juga baru saya sadari ketika membuat tulisan ini, jika benar-benar memperhatikan dengan seksama detil-detil artwork albumnya kita akan mendapati perbedaan paling mencolok dari artwork album Rakshasha dan In the Shade of the Almond Tree, yakni In the Shade of the Almond Tree tidak berkesan klenik dan sangat mistis seperti Rakshasha, atau bisa juga saya katakan dalam In the Shade of the Almond Tree, CMaD tidak banyak memberikan ‘kode’ seperti pada EP Rakshasha.

Sarat Renungan Kehidupan Hingga Kematian

In the Shade of the Almond Tree dibuka oleh track berjudul “Commite Suicide”. merupakan sebuah track yang pada menit-menit awalnya berisikan narasi dari para pembawa berita tentang insiden kematian para pelaku musik grunge, mulai dari Kurt Cobain hingga Chris Cornell.

Track ini merupakan sebuah track yang menjadi tribute kepada mendiang para pelaku musik grunge yang memilih mengakhiri hidup mereka sendiri. Meskipun track ini bersifat tribute, namun secara satir CMaD menolak dengan tegas tentang tindakan bunuh diri.

Pada track ke-2, kita akan disuguhkan dengan sebuah nomor lagu berjudul “Do I Know You? (Shame on You)“. Lagu ini menurut Eko, si vokalis sekaligus penulis lirik dari seluruh materi album In The Shade of the Almond Tree, merupakan sebuah lagu cinta.

Menceritakan tentang filosofi percintaan lewat pendekatan filsafat jawa atau kejawen. Dalam lagu ini dijelaskan bagaimana ketika seseorang sudah mulai mengenal perasaan cinta, biasanya manusia mulai merasakan perasaan ini secara mendalam di umur 25-an. Dalam bahasa Jawa, 25 berarti selawe, beberapa kalangan beranggapan selawe bermakna seneng lanang wedo (artinya dalam bahasa Indonesia: senang laki-laki perempuan).

Track ke-3, sebuah lagu grungy nan filosofis, berjudul “Hari Dimana Aku Tidak Membutuhkanmu”. Lagu ini sangat terasa kental akan pengaruh psikedelik-nya. CMaD berusaha tidak ingin melepas ciri khas seperti pada album Rakshasha, yakni menambah beberapa lagu dalam album dengan part bernuansa psikedelik.

Lagunya sendiri menjelaskan tentang filosofi umur sewidak. Dalam pengertiannya, Eko menjelaskan pada dasarnya, manusia itu di umur sewidak atau umur 60-an sudah tidak lagi membutuhkan apa-apa lagi selain ibadah. Fokus hidupnya berganti menjadi ibadah, tidak lagi membutuhkan apa-apa selain menyiapkan diri dengan amal baik sebelum ajal menjemput. Bagi beberapa kalangan sewidak bisa diambil artian sejatine wis wayahe tindak, atau dalam bahasa Indonesia berarti sudah saatnya pergi.

Dilanjutkan pada track ke-4, yang berjudul “Lullaby”. Bagi CMaD, “Lullaby” adalah sebuah track pemutih di album In The Shade of the Almond Tree. Lagu ini dari segi bahasan dan makna adalah lagu paling ringan bahasannya dibanding lagu yang lain. Menceritakan tentang kasih sayang seorang Ayah terhadap anaknya.

Lagu ini sendiri diciptakan di atas pesawat, ketika CMaD dalam perjalanan pulang tur di Pulau Jawa. Rasa senang penulis lagu mendapatkan kabar bahwa istrinya sedang mengandung anak pertamanya membuatnya begitu bereuforia hingga secara spontan muncul rif dan juga lirik lagu “Lullaby” dalam kepalanya.

Namun, selain kesenangan itu, dibalik lagu ini juga ada cerita haru, di mana Kang Jesse sang manajer dari CMaD dalam panggung perdana CMaD membawakan lagu ini, yang mana ketika itu sekalian juga dengan pemutaran slide foto para personil sedang bersama orang tuanya, mendapatkan kabar bahwa Ayahanda dari Kang Jesse meninggal dunia. Jadi kurang lebih ada dua cerita haru, suka dan duka yang menjadi cerita di balik lagu Lullaby ini.

Call Me a Dog

Kemudian In the Shade of the Almond Tree dilanjutkan lagi dengan sebuah lagu yang kembali membawa tema yang lumayan berat dan gelap. Yakni lagu yang berjudul “Sister”. Lagu ini merupakan sebuah representasi dari imajinasi terliar dari penulis lirik, meneruskan tentang filosofi selawe tentang percintaan, lagu ini membahas cinta dengan berbeda, yakni tentang perasaan cinta terhadap saudari kandung.

Dilanjutkan lagi dengan sebuah lagu berjudul “Luigi Got Big Tities”. Sama seperti track pertama yang menjadi sebuah track satir tentang penolakan akan bunuh diri, “Luigi Got Big Tities” merupakan track yang berisi materi pengulangan lirik. Yang kembali menegaskan bahwa CMaD begitu menolak apa yang mereka bahas di dalam lagu ini secara tegas.

Lagu ini sendiri menceritakan tentang ketidaksukaan atau penolakan dari CMaD terhadap kaum pelangi atau kaum LGBTQ++. Kita bisa perhatikan juga “Luigi Got Big Tities” bisa disingkat dengan LGBT.

Lalu album dilanjutkan dengan track berjudul “Almond”. Sebuah track yang hingga saat ini merupakan salah satu track paling favorit dari album In the Shade of the Almond Tree. Juga merupakan sebuah lagu yang menjadi jawaban mengapa album ini diberi nama demikian.

Lagu “Almond”, terinpirasi dari kasus seorang ibu yang memaksa anaknya untuk meminum cairan sianida, dan setelahnya mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Yang kita ketahui dari awal, In the Shade of the Almond Tree pada cover-nya terdapat gambar pohon almond dan simpul tali seperti tali yang digunakan untuk bunuh diri, gambar itulah yang jadi representasi dari kasus bunuh diri ibu-anak tadi.

Eko sendiri dalam penjelasannya secara ringkas pada press release, memilih pohon almond, karena ada sebuah kandungan senyawa amigdalin glikosida pada kacang almond mentah, yang mana ketika dikonsumsi senyawa ini dapat terurai menjadi beberapa senyawa termasuk hidrogen sianida, yang merupakan sebuah senyawa yang mematikan dibalik kenikmatan dan manfaat almond tersebut.

Itulah kurang lebih makna dari lagu “Almond” dan alasan mengapa Mas Eko dan kawan-kawan memilih pohon almond sebagai gambar sampul dari album In the Shade of the Almond Tree.

Dan sampailah kita pada track terakhir. Yakni “River, Steals”. Lagu ini sendiri merupakan sebuah single yang telah dirilis sejak tahun 2023 silam. Menjadi spoiler dari album In the Shade of the Almond Tree. Bagi pendengaran pribadi, lagu ini adalah lagu paling ringan dari segi musik atau paling terasa alternative selain lagu-lagu lainnya.

Menceritakan tentang bagaimana sesuatu bisa memberikan sebuah gambaran tentang masa lalu, atau retrokognisi. Lagu ini merupakan sebuah tribute dari CMaD, terhadap kasus bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela pada tahun 2018 silam, karena bagi penulis lirik, tempat itu adalah tempat yang penuh kenangan indah baginya di masa kecil.

In the Shade of the Almond Tree dari CMaD adalah album musik grunge dengan gaya yang tidak konvensional (cutting edge). Albumnya sendiri memperlihatkan kita bagaimana CMaD mencoba kembali pada akar musik grunge atau rock alternative yang lebih raw dan noisy.

Melalui total 8 materi yang disuguhkan, CMaD berusaha membahasakan tentang siklus kehidupan manusia semenjak lahir sampai mati dengan cara mereka yang begitu unik. Secara sederhananya juga, In the Shade of the Almond Tree mencoba membawa kita untuk kembali merenungi bahwa, sejatinya hidup tak akan selamanya berjalan indah. Akan selalu ada pasang dan surut yang berjalan, entah bergantian atau bahkan beriringan.

Dan pada akhirnya In the Shade of the Almond Tree lagi-lagi menjadi sebuah album grunge yang sangat berbeda dengan album grunge atau alternative rock pada umumnya. Alih-alih menyuguhkan musik yang ‘menjerumuskan’, CMaD malah memilih dakwah lewat jalur grunge yang pastinya merupakan dakwah yang sangat tidak mainstream.

Tentang Call Me a Dog

Call Me a Dog

Bagi para teman-teman pecinta musik, wabil khusus mereka yang mengikuti perkembangan musik alternative, grunge, atau seattle sound era 90’an, tentunya tidak asing dengan lagu berjudul Call Me a Dog dari band Temple of the Dog. Bisa dibilang, lagu ini seakan menjadi anthem seattle sound bahkan sampai saat ini.

Dari Kota Manado, Sulawesi Utara, ada sebuah band yang terbentuk bulan Agustus tahun 2016 dan senang menyebut diri mereka sebagai mesin pembawa musik ‘spiritual grungy’ yang terinspirasi dari konsep manunggaling kawula gusti (konsepsi spiritual tentang penyatuan antara hamba dan tuhannya dalam ajaran sufistik dan kejawen), dan kebetulan band mereka diberi nama Call Me a Dog.

Sebenarnya awalnya mereka pernah memakai nama Salt Water Fish sebagai nama band, namun karena kurang mengena dengan konsep yang mereka sajikan, akhirnya dipilihlah Call Me a Dog sebagai nama band. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, sedikit-sedikit pasti kita sudah ketahui benang merah dari apa yang ingin disajikan oleh Call Me a Dog.

Yakni sebuah musik alternative/grunge ala seattle sound era 90-an dengan bumbu musik bertema spiritual, yang tentunya dibawakan dengan ciri khas mereka.

Belakangan ini juga, Metallagi baru benar-benar paham arti Call Me a Dog yang akhirnya dijadikan nama band, itu dikarenakan kata Call Me a Dog bisa menjadi representasi dari kesatuan buruk dan baik, manusia-tuhan dalam frasa anagram “Dog dan God.” Dog mewakili sifat buruk manusia dan god mewakili sifat baik tuhan.

Call Me a Dog (yang selanjutnya akan saya tulis CMaD), saat ini beranggotakan Eko Julianto pada vokal dan gitar, Egy pada bass, Gilang yang mengisi posisi drumer, dan Risky Kusumah pada posisi gitar 2.

CMaD telah merilis sebuah EP dengan tajuk Rakshasha pada tahun 2018 dan sebuah single berjudul “River, Steals” pada tahun 2023 silam. Rakshasha seakan menjadi sebuah identitas yang tidak bisa begitu saja lepas dari CMaD.

Terlebih bumbu materi Rakshasha yang penuh dengan unsur mistis, klenik, dan spiritual dari kejawen hingga sufisme yang akhirnya membuat CMaD memiliki ciri khas tersendiri dan apalagi, ini terbilang baru di skena permusikan Manado, Sulawesi Utara.

Sedangkan “River, Steals” merupakan single yang menjadi penghormatan dari Call Me a Dog terhadap sebuah tragedi yang terjadi pada tahun 2018, yakni tragedi bom yang terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya,

Single ini akhirnya menjadi bagian dari album In the Shade of the Almond Tree. Metallagi juga sudah pernah menuliskan tentang Rakshasha dan River, Steals di sini.

https://www.youtube.com/watch?v=M9St5FNBGcA

Imam Muharis

Seorang pengelana yang menapaki jalan spiritual dalam dunia musik, khususnya musik yang kelam dan gelap. Sapa di facebook Imam Muharis Kastoredjo

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait