Bangsat Kuasa dan Betapa Membosankannya Lirik Band Death Metal

ugik 27 Januari 2023

DeadSquad, band death metal dari Jakarta baru-baru ini merilis lagu dengan judul yang bombastis “Bangsat Kuasa”. Berdasarkan informasi, Bangsat Kuasa merupakan lagu lama yang tercipta sebelum album pertama mereka “Horror Vision” keluar di tahun 2009.

Lirik itu ditulis tahun 2006 oleh Iqbal Amazi (Babal), vokalis DeadSquad yang lama. Dulu lagu itu tak pernah direkam secara “official” namun terrekam secara live dan tersebar di berbagai radio hingga banyak platform di zaman mp3 bajakan seperti 4shared dan lain-lain (saya dulu download di situ).

Selang tidak lama, lagu itu diaransemen ulang dengan pergantian lirik dan judulnya berganti menjadi “Sermon of Deception” yang ditulis oleh vokalis pendatang baru DeadSquad untuk album Horror Vision, yakni “Daniel Mardhany”.

Bulan lalu, Desember 2022 lagu “Bangsat Kuasa” lagi-lagi diaransemen untuk ketiga kalinya.  lagu itu kembali diluncurkan secara resmi oleh DeadSquad sendiri di akun Youtube mereka. Tentunya dengan aransemen yang jauh lebih baru dengan para personil yang baru juga, tanpa Daniel. Liriknya dikembalikan pada versi milik Babal dengan tajuk “Bangsat Kuasa” dengan vokalis baru, Vicky Mono yang featuring Babal sebagai vokal tamu “pemilik” lirik.

Ngomongin soal aransemen musik, tampaknya sudah tak perlu diperdebatkan lagi. Banyak orang mengakui mereka adalah salah satu death metal terbaik di Indonesia. Meskipun begitu, terbaik bukan berarti yang paling sempurna, kan. Karena yang “Sempurna” hanya lagu ciptaan sang gitaris, Stevi, di band Andra and the Backbone.

Entah apa motif DeadSquad merenovasi ulang Bangsat Kuasa. Kalau boleh julid sih jangan-jangan ingin membuang karakter eks vokalis mereka Daniel Mardhany yang kadung melekat di DeadSquad? Atau DeadSquad yang baru sedang tumpul ide untuk membuat lagu baru? Entahlah.

Di sini saya tidak mau rasan-rasan perihal hipotesis motif-motif di atas. Tapi ingin memberi perhatian  khusus perihal lirik “Bangsat Kuasa” dengan judul yang menohok itu. Kalau boleh jujur, itu adalah judul yang keren, cukup provokatif dan “metal banget”. Tapi apakah liriknya sekeren judulnya, tampaknya hal itu belum tentu. Simak liriknya berikut ini:

“Atas semua yang tlah dikorbankan

karnanya dan semua korban yang tak terhitung

bangsat

bangsat untuk mereka  

untuk semua kuasa yang hina

bangsat

bangsat untuk mereka yag mengubur busuk korbannya

Atas semua yang tlah dikorbankan

karnanya untuk korban bisu yang terpendam

tuk seluruh bisu yang mendendam

semua punah terpendam kuasa

Bangsat untuk mereka

Untuk semua kuasa yang hina

bangsat

bangsat untuk mereka yang mengubur korbannya

bersihkan aku, bertingkah laku

bersihkan aku, bertingkah laku

Rusak

tusuk belah dadanya tuk pertahankan nurani

potong belah dadanya berdalih takkan pernah kulakukan

tusuk belah hatiku panas

tusuk belah

tusuk belah

tusuk belah

tusuk belah”

Yang Buram dari Bangsat Kuasa DeadSquad

Bangsat Kuasa
Bangsat Kuasa art cover

Dilihat dari kacamata anarkisme, Bangsat Kuasa terdengar seperti sikap anti otoritas atau anti patron, yakni semacam sikap manusia yang enggan mengkultuskan seseorang atau makhluk lain yang dianggap lebih berdaya dan berkuasa. Diimaknai lebih ekstrim, Bangsat Kuasa bisa berarti sikap mengumpat sang kuasa, entah itu penguasa (pemerintah) atau kuasa dalam arti “Tuhan” atau bisa jadi kuasa-kuasa yang lain, karena sesungguhnya yang benar-benar paham lirik itu adalah si Babal saja.

Sebagai pendengar saya hanya bisa menerka dan menafsir sendiri. Toh setiap band membuat karya sastra dalam lirik biasanya menyerahkan intepretasi bebasnya kepada pendengar. Sebagai pendengar, saya adalah tipe orang yang mengharapkan mendapat makna lirik dari sebuah karya lagu, apapun itu aliran musiknya.

Dari judul saya berekspetasi kalau lirik di dalam Bangsat Kuasa adalah lirik beraroma anarkisme yang menyengat. Jika memang demikian adanya, ini adalah sesuatu hal yang menarik. Karena tidak banyak band yang dengan serius menulis lirik dengan pandangan politik yang mengakar kuat pada ideologi. Namun sayangnya tak sesuai ekspetasi. Bagi saya, judul lagu tidak sedahsyat isinya. Isinya hanya seperti sedang meracau saja, seperti bikin lirik sekadarnya, tanpa arah. Seakan benar kata netizen di kolom komentar Youtube DeadSquad, bahwa DeadSquad pincang sastrawi tanpa Daniel.

Lirik lagu tersebut cukup buram untuk dimaknai secara intuitif. Susunan kata demi katanya; maaf, sulit dimengerti. Maunya membangsatkan apa atau siapa juga tidak terdeteksi. Yang bisa dilakukan, meraba-rabanya meskipun di dalam ruangan yang gelap pekat.

Biasanya lagu metal itu bicara Tuhan, pemerintah-negara, atau cinta sesama umat manusia bahkan yang buruk, bicara kekejian. Bisa jadi beberapa diantara itu adalah objek sasarannya. Tema-tema itu, kalau mau maksa, yang paling dekat dengan pengalaman kita hidup sebagai warga negara, agaknya bisa dimasukkan sebagai lirik yang mencaci pemerintah karena membungkam rakyatnya. Ya meskipun tidak secara gamblang mau ke sana karena saya tidak benar-benar menemukan hubungan-hubungan antar variabel yang merefleksikan musik (lirik lagu) Bangsat Kuasa dalam kehidupan sehari-hari ini.

PR Band Death Metal

Sebenarnya lagu metal dengan lirik yang nirmakna seringkali kita jumpai, terutama pada band-band death metal yang mengusung konsep “gore”. Gore dalam artian ini adalah lirik-lirik yang kontennya berisi tentang pembunuhan, darah, psikopat, dan lain-lain. Materi tampak sulit untuk dieskplor memang jika tidak banyak menguasai diksi-diksi dan semiotika sastra. Banyak band-band yang ingin terkesan garang dengan tema itu, tapi sudah kadung pasaran.

Misalnya banyak diksi-diksi seputaran kekejian yang sering disebut dan bikin bosan; itu lagi, itu lagi.  Misalnya adalah kata: sodomi, bunuh, mutilasi, tusuk, amarah, dendam, dan lain-lain sangat sering sekali ditemui di band death metal. Memang beberapa pendengar tidak peduli dengan lirik. Pokonya asal ngebut aja temponya dan musikal secara teknis disusun dengan apik. Tapi itu hal itu tidak bisa mengaburkan fakta, bahwa ada juga penikmat death metal yang lebih menaruh perhatian khusus pada lirik.

Ada baiknya memang band-band death metal mulai dengan serius menulis lirik. Band death metal perlu merenovasi sudut pandangnya agar tidak membosankan. Karena estetika musik tidak hanya dilihat dari hanya aransemen musiknya saja, tetapi liriknya juga. Mari menggiring kembali ide-ide filosofis, kepercayaan, dan fenomena sosial ke dalam musik death metal dengan balutan prosa yang benar-benar gagah.

Ugik Endarto

Penulis adalah pegiat di Akar Zine dan Perpustakaan Jalanan Wahana Baca. Sapa dia di instagram @ambivalensii

5 pemikiran pada “Bangsat Kuasa dan Betapa Membosankannya Lirik Band Death Metal”

  1. Coba lihat Mouthless deh liriknya Sabda Api, Perompak zaman.

    Sama coba baca liriknya Rajasinga di album mana saja, penggunaan diksi nya unik dan kontekstual

    Reply

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait