Ngobrol Bareng Januaryo hardy, Mastermind Band Atmospheric Black Metal “Pure Wrath”

stevanpontoh 12 Maret 2022

PURE WRATH adalah salah satu band atmospheric black metal asal Bekasi yang cukup menonjol. Tentu saja dikarenakan banyak faktor salah satunya selain kepiawaian bermusik, adalah produktivitas seorang mastermind dibaliknya yang harus kita acungi jempol.

Sebut saja project musik seperti PERVERTED DEXTERITY, LAMENT, CADAVORACITY, INSOLENCE, BLOODRIVEN, dan banyak lagi proyek musik lain yang merupakan perpanjangan tangan dari Januaryo Hardy, the man behind PURE WRATH.

Tidak tanggung-tanggung, PURE WRATH bersekongkol dengan Debemur Morti Productions. Bagi yang belum taHu, itu adalah label asal Perancis yang juga melepas karya-karya band seperti ARCHGOAT, BEHEXEN, sampai CRIMSON MOON.

Beruntung sekali saya berkesempatan mewawancarai mas Januaryo Hardy (Ryo) via media sosial. Berikut perbincangan kami:

Dikenal di Asia, Eropa, Hingga Amerika

Metallagi: Halo mas Ryo, bagaimana kabarnya? Bagaimana apresiasi rekan-rekan penikmat PURE WRATH terhadap album terbaru Hymn to the Woeful Hearts? Apakah ada feedback baru yang berbeda dengan sebelumnya?

Ryo: Kabar baik, terima kasih. Respon sejauh ini terhadap album baru benar-benar gila dan lebih masif dibanding rilisan-rilisan terdahulu. PURE WRATH mendapat banyak pendengar baru dan permintaan distribusi dari beberapa toko musik wilayah Asia Timur, khususnya Jepang dan Korea Selatan. Ini merupakan hal yang sangat baik, karena sejauh ini rilisan PURE WRATH hanya tersebar di wilayah Eropa, Amerika Utara dan Asia Tenggara saja.

Saya mendengar PURE WRATH sejak proyek ini murni project studio (belum perform), mengapa memutuskan perform ? Apakah sebagai seorang musisi menurut anda kita selalu punya perasaan tergelitik dan tertantang dari dalam diri untuk membawakan karya kita dalam bentuk perform? Apa saja kesulitannya? Berhubung setahu saya, personil lainnya adalah additional player.

Memang sebelumnya, saya tidak ada waktu untuk membawa PURE WRATH ke dalam format “band” dan bermain live. Ditambah beberapa proyek terdahulu saya lumayan menyita waktu, energi, dan uang. Tapi seiring waktu, saya mulai sadar bahwa PURE WRATH-lah yang mampu menerjemahkan ide-ide di belakang kepala saya, baik secara musikal maupun substansial, dan tentunya mampu memenuhi kebutuhan materiil.

Hal ini tentunya membuat saya lebih condong mengerahkan waktu, energi dan uang untuk menulis materi-materi baru, mengumpulkan beberapa pemain sesi, merencanakan tur hingga memenuhi beberapa ajakan pertunjukan atau wawancara langsung. Tidak banyak kesulitan sejauh ini selain jarak tempat tinggal saya dengan pemain sesi lokal maupun pemain sesi untuk wilayah Eropa. Beberapa aspek bisa dijangkau dengan internet, seperti berbagi “music sheet” sebelum nantinya kami bertemu di beberapa kesempatan.

Januaryo Hardy di atas panggung

Apakah bagi seorang pemain solo, menemukan additional yang tepat dan mampu menangkap ungkapan musikal kita itu penting sehingga mereka dapat merepresentasikan lagu-lagu kita?

Tentunya, ya. Banyak aspek yang menjadi pertimbangan, apalagi “chemistry” personal di sini berperan penting selain kemampuan musikal. Saya telah mencoba beberapa orang yang tinggal satu kota, namun pada akhirnya pencarian saya terhenti di beberapa teman baik saya yang tinggal dua jam jauhnya. Semua ini tentang “chemistry” yang menjadi poin penting bagi saya.

Untungnya, mereka sudah memiliki kapabilitas yang mumpuni dalam mempresentasikan musik PURE WRATH secara live. Saya harus mengatakan bahwa, dibutuhkan sekitar dua tahun lamanya bagi kami untuk menjadi “flawless” saat bermain live bersama.

Melodius, namun tetap punya emosi. Terkadang saya mendengarkan teriakan shout ala Neige ‘Alcest’ di beberapa part, seberapa berpengaruhnya Alcest dalam musik anda (khususnya PURE WRATH), saya soalnya pernah mendengarkan anda meng-cover lagu Les Voyages d’lame nya Alcest.

Saya bisa bilang bahwa saya memang “fanboy” ter-gila Alcest. Mungkin ini bisa ditemui di album debut Lament, proyek sampingan saya. Berbicara soal karakter vokal, saya lebih condong mencampur teknik-teknik yang dipakai oleh beberapa entitas black metal Perancis, seperti Vlad Tepes, Ardraos (Suhnopfer), Hreidmarr (di album Glaciation “Sur les falaises de marbre”), Amertume (Necropole, Caverne) dan tentunya Neige (di album Mortifera “Vastiia Tenebrd Mortifera” atau ketika ia mengisi lini vokal di album Glaciation “1994”).

Dapur Produksi Pure Wrath

Memilih sendirian atau berkelompok ketika menulis lagu? Boleh tahu alasannya mengapa?

Tentunya, sendiri. Saya memang tidak nyaman berbagi “part” dengan orang lain ketika menulis lagu atau bahkan membuat aransemen. Saya juga tidak ingin lagu-lagu yang saya tulis harus mengalami perubahan minor yang tidak bisa saya tolerir ketika sudah 100% selesai.

Apakah feedback penting? Ataukah PURE WRATH sengaja bereksplorasi tanpa tendensi apapun agar karya/ide itu mengalir tanpa beban?

Saya terbiasa membuat musik tanpa memikirkan “feedback” atau dalam tendensi apa pun. Label yang menaungi PURE WRATH pun tidak pernah memberi “deadline” atau mencampuri urusan artistik. Saya pikir, terpatok kepada hal-hal tertentu dapat mengurangi kebebasan dalam berekspresi. Hal ini sudah menjadi kebiasaan sejak saya masih sibuk di proyek brutal death metal saya, PERVERTED DEXTERITY.

Saya bisa melihat bahwa beberapa band sangat kontras dari segi sound dengan kebanyakan band-band dalam negeri, apakah durasi penulisan dan penggarapan juga penting agar tidak terburu-buru demi mencapai hasil sound yang benar-benar memuaskan? Berapa lama proses perekaman part gitar dalam satu lagu (misalnya)?

Saya tidak pernah tahu berapa lama saya menulis lagu per lagu, karena saya terbiasa menulis album tanpa memikirkan jumlah lagu. Bahkan, beberapa lagu PURE WRATH merupakan hasil dari satu lagu yang dipisahkan menjadi tiga, dan hanya ditambal dengan “riff-riff” baru saja. Biasanya, ini terjadi di saat saya melakukan pra-produksi album sebelum masuk ke proses rekaman.

Sehingga sesi pra-produksi album selalu memakan waktu yang tidak menentu. Terkadang satu tahun, atau bahkan hanya satu minggu saja. Proses rekamannya sendiri bisa dibilang singkat, karena saya selalu punya amunisi hasil dari pra-produksi sebelumnya.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa skena kita saking majemuknya, seringkali punya gesekan ideologi entah dari segi musik maupun paham, bagaimana PURE WRATH menangani gesekan-gesekan tersebut?

Menurut saya, gesekan-gesekan yang ada di “scene” musik adalah hal lumrah yang bahkan aneh jika tidak terjadi. Bayangkan jika “scene” musik tidak memiliki keanekaragaman dalam penyampaian pendapat, pastinya sangat-sangat membosankan. Seni haruslah dinamis dengan perbedaan perspektif dalam artistik, konsep, ideologi atau apa pun itu.

Tidak ada batasan-batasan apa pun yang mengharuskan band A seperti band B atau sebaliknya. PURE WRATH sendiri adalah entitas metal yang menjunjung tinggi keanekaragaman dan kebebasan berpendapat. Gesekan-gesekan atau pun perbedaan perspektif dalam “scene” musik adalah sebuah hal lumrah, yang secara tidak langsung melahirkan seniman-seniman baru dengan ide-ide yang terbaharukan juga. Mungkin yang harus diubah adalah pemikiran “butt hurt” ketika temanmu tidak sejalan atau bahkan tidak menggemari bandmu. We can disagree and still be friends.

Sampul album ketiga Pure Wrath, hymn to the Woeful

Black Metal yang Tidak Melulu Satanisme, Teologi, dan Okultisme

Mengapa memilih tema sejarah? Banyak band lokal yang sekarang tidak lagi menggunakan satanisme sebagai propaganda, apakah menurut anda karena satanisme memang tidak pernah cocok dengan iklim kita?

Menurut saya, sejarah selalu lebih dekat dengan realitas yang berputar di sekitar kita, apalagi jika kerabat dekat terlibat di dalamnya. Saya berbicara soal sejarah ter-kelam negeri ini yang telah merengut hidup beberapa sanak saudara saya, yang fakta-nya diputar-balik dan tidak pernah diajarkan di sekolah kepada generasi-generasi muda.

Hal ini tentu menyakitkan dan menggerakkan saya untuk menyebarluaskan cerita kelam ini ke khalayak luas, hingga ke luar negeri. Beberapa jurnalis majalah metal “mainstream” dari Eropa sangat-sangat tertarik mengulasnya. Banyak dari mereka tidak pernah mendengar tentang kejadian ini.

Hal ini tentunya kini memacu saya untuk lebih informatif pasca perilisan album baru dan melakukan lebih banyak wawancara dibanding menolaknya seperti dahulu. Menurut saya, kita tidak harus berada di dalam iklim-iklim tertentu hanya untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran di dalam musik.

Namun, ini hanyalah soal pemikiran pribadi saja. Menurut saya, berbicara soal teologi, okultisme dan hal-hal abstrak lainnya tidak pernah membuat saya “konak” dalam ber-musik, apalagi saya pribadi tidak menganut keyakinan atau percaya abstrak apa pun, karena “real life” saja sudah membuat saya ber-ulang kali ingin mengakhiri hidup.

Seberapa pentingnya bahasa dan literatur dalam bermusik? Apakah menurut anda hal tersebut mempengaruhi kualitas pendengar?

Tentunya, penting sekali. Pemikiran kita harus sampai kepada mata khalayak di kecepatan yang sama dengan musik yang merambat masuk ke telinga mereka. Saya adalah orang yang cukup “snob” terhadap detail-detail ini dan seringkali merasa tidak nyaman dengan musik yang saya beli, jika lirik yang dibuat tidak se-bagus musik yang dipresentasikan.

Lirik dalam suatu karya musik merupakan penentu kualitas penciptanya. Menurut saya, semakin buruk liriknya maka semakin dipertanyakan kualitas dan kejujurannya dalam ber-musik. Hal ini seringkali membuat saya sangat-sangat selektif dalam men-support suatu entitas musik.

Memilih dipahami, atau didengarkan?

Didengarkan untuk dipahami.

Terima kasih untuk mas Januaryo Hardy yang telah menyempatkan diri berbincang-bincang bersama Metallagi.com, semoga kedepan PURE WRATH menyuguhkan kembali musik yang kita semua selalu nantikan, turut bangga dengan pergerakan global PURE WRATH!

Salam!

Stevan Pontoh

Penulis merupakan pengarang buku The Art of Destruction dan personil Northorn. Sapa dia di instagram @@stv_chada

Satu pemikiran pada “Ngobrol Bareng Januaryo hardy, Mastermind Band Atmospheric Black Metal “Pure Wrath””

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait