
Era nu metal mungkin bagi sebagian pembaca telah berakhir. Namun tak bisa dipungkiri bahwa geliat sub-genre musik metal satu ini sangat membekas dan memberi corak segar dari awal 2000-an. Band-band seperti Korn, Linkin Park, Disturbed, Limp-bizkit, RATM, dan lain-lain cukup memberikan nostalgia bagi sebagian besar dari kita.
Pernahkah terbesit dalam benak kita bagaimana bila musik semodern nu-metal dibungkus juga dengan corak musik dan tema tradisional?
WARUGA, band asal Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, menyuguhkan corak nu metal hingga alternative rock namun dengan sentuhan musik folk yang legendaris bagi mereka yang sedang menggali kembali musik tradisional.
Band ini kemarin, 9 Maret 2022 segera meluncurkan album kedua
mereka dengan tajuk “Minahasanication” setelah beberapa tahun lalu
merilis album bertajuk “Songs of the Minahasanic War”.
Album ini berisi 9 lagu, dengan musikalitas dan tipikal
sound yang berbeda dengan album sebelumnya. Band ini mengalami beberapa
perombakan antar personil di tahun-tahun berjalan.
Hal itu tidak mengubah konsistensi mereka untuk memberikan musik nu metal yang tidak hanya intens dan kompleks, namun cerdas dalam penulisan lirikal dan tema. Saya harus garis bawahi bahwa band ini mempersembahkan lirik dalam bahasa Inggris dengan sangat baik, selain memasukan beberapa lirik dalam bahasa Tontemboan (Minahasa) juga.
Hidangan Pembuka dengan Petikan Kalelon Makaaruyen
Di track pertama lagu ini Reges Le’os, kita akan disuguhkan intro musik instrumental, alunan akustik gitar dengan permainan open strings yang cukup membawakan relaksasi bagi pendengar yang sudah lama menanti band ini kembali.
Dengan ciri khas tuning gitar ala kalelon
makaaruyen (teknik memainkan gitar tradisional khas Minahasa) bersama backsound
string dan atmosfir alam seperti menjanjikan kita kesegaran baru dari
band ini. Lagu ini juga dilengkapi dengan siulan, karena memang diciptakan
untuk membentuk suasana musim berangin (dalam beberapa tradisi, siulan sama
dengan memanggil angin datang).
Di track 2, Minahasanication, kita
masih bisa mendengarkan lantunan gitar ala kalelon juga diiringi
hentakan drum yang energik dan beberapa breakdown di verse lagu. Teknik
vokal rap dan scream serta lirik dalam bahasa Tontemboan.
Perpaduan yang cukup kompleks dan kontras dengan intro sebelumnya, unik dan
berani.
Selanjutnya di track 3 album ini, WARUGA
menghadirkan sosok vokalis legendaris yaitu Kief dari band thrash metal
lawas kota Manado, KARIKATUR. Di awal lagu kita bisa mendengar
lantunan yang biasanya dipakai dalam upacara perang dan tarian tradisional
kabasaran (tarian khas Minahasa).
Lagu ini lebih berat dari sebelumnya, sangat intens dengan corak vokal harsh ala kief dan distorsi gitar di mana-mana. Di track 4, 5 dan 6, kita akan dihajar kembali dengan corak nu metal yang cukup kentara.

Lagu Waruga Bikin Kamu Headbang
WARUGA terkadang menambahkan juga efek-efek suara ala DJ di lagu-lagu ini. Efek gitar yang beragam membuat lagu-lagu ini menjadi tidak membosankan dan tentunya headbangable.
Communisto-Phobia; Political Erection;
dan Covid, tiga tajuk yang cukup kritis untuk memahami kembali kondisi
sosial politik kita hari ini. WARUGA mengungkapkan kritik mereka dengan
nuansa nu metal yang kental di tiga track ini.
Selanjutnya ada track 7, Nani Ni Tou
Kawendu’an. Lirik lagu track ini berbahasa Tontemboan dengan female
vokal yang dibawakan vokalis session mereka, Oklan. Sekalipun di chorus mereka memasukan female
vokal, kita masih bisa menikmati kembali teknik vokal rap dari vokalis utama WARUGA,
Wara.
Track 8 adalah outro berjudul Wengimo yang murni dibawakan
dengan unsur folk musik akustik ala kalelon makaaruyen dengan female vokal yang
akan membawakan teman-teman kawanua (kawan-kawan) ke kampung halaman
mereka. Track ini menggunakan backsound natural ala malam hari
untuk memperkuat nuansa alaminya.
Ditutup Dengan Lagu The Calling of Suicide
Track terakhir, The Calling of Suicide adalah versi akustik dari single yang sama, sebelumnya diluncurkan berkolaborasi bersama band black metal Manado, NORTHORN. Dengan aransemen ulang clean vocal dieksekusi oleh vokalis utama, Wara.
Chord di lagu ini tidak berubah, hanya ketambahan strings
dan improvisasi yang menambah nuansa lirik kelam yang memang kontras dengan
keseluruhan album, itu sebabnya track ini adalah bonus penutup yang di
sematkan paling akhir.
Album ini kompleks, intens, dan eksploratif. WARUGA
memadukan musik modern dan tradisional secara terpisah maupun bersamaan
dengan berani. Perpaduan dua unsur ini menjadikan band ini memiliki corak
mereka sendiri.
Dari segi lirik yang tidak hanya kritis saja namun cerdas, hingga musik yang tidak hanya bising saja namun well-played dan kompleks. Saya juga menggaris bawahi permainan bass dan drum di album ini, sangat berbeda dengan album sebelumnya.
WARUGA telah mempertunjukan kembali perkembangan musikal mereka dan eksistensi mereka di ranah musik lokal. Album ini cocok didengar para pendengar metal, pecinta pop-rock, hingga folk dan musik tradisional sekalipun.
Akhir kata, secara keseluruhan album ini menambah keragaman dan menembus batas, salut untuk WARUGA.
Rate: 9/10

Satu pemikiran pada “Review Album Waruga “Minahasanication”, Nu Metal Minahasa”