Wai’99, Musik Punk Cita Rasa Khas Manado

stevanpontoh 29 September 2023

Band ini tidak sedang mempromosikan Kota Manado sebagai pusat pariwisata, karena album Wai’99 ini lebih membahas soal kontradiksi dan kompleksitas urban dari segi lirik-lirik lagu mereka.

Saya sedikit senyam-senyum sendiri melihat sampul album perdana dari band punk melodic asal Minahasa, Wai’99. Mereka baru saja merilis album perdana mereka via platform digital dengan judul “The City of Sex Tourism”, setelah band ini eksis sejak 2016.

Kenapa? Karena band ini menggunakan foto yang cukup ikonik yang sering digunakan oleh instansi pemerintah untuk mempromosikan kota Manado yaitu foto kampung pelangi yang terletak di Kelurahan Sindulang, satu Kecamatan Tuminting, dengan tulisan “Welcome to Manado”-nya diubah menjadi judul album mereka.

Apapun maksudnya, intinya band ini tidak sedang mempromosikan Kota Manado sebagai pusat pariwisata, karena album Wai’99 ini lebih membahas soal kontradiksi dan kompleksitas urban dari segi lirik-lirik lagu mereka.

Mengingat ikon kampung pelangi adalah kawasan pemukiman kumuh yang disulap oleh pemerintah kota dengan mengecat dinding dan atap perumahan serta merapikan pekarangan, dan taman yang bertuliskan “Welcome to Manado” yang dulunya juga merupakan kompleks pekuburan cukup memberikan gambaran akan Kota Manado yang tidak hanya majemuk namun kontras sekaligus kompleks.

Musik dari Wai’99 ini tidak jauh-jauh dari style punk melodic dan alternative rock. Ada satu trek bahkan yang bernuansa akustik di album ini. Musik mereka easy listening dan cukup parodik karena ada trek yang merupakan lagu daerah atau lagu rakyat berjudul “Kota Menado”, dan “O Ina! Si Keke” (Terinspirasi dari lagu daerah Minahasa “O Ina ni Keke” yang diubah aransemennya dengan nuansa punk).

Wai'99
Wai’99 saat berada di panggung. Sumber: ist

Trek favorit saya adalah “Lemelo”. Bukan hanya karena ini merupakan lagu balada punk yang mengingatkan saya pada lagu-lagu mid-tempo seperti Misfits, tapi karena liriknya ditulis dalam bahasa melayu Manado. Pengalaman yang cukup unik bagi saya karena saya tidak banyak mendengarkan lagu dengan lirik bahasa melayu Manado, pesan dalam lirik terkesan gamblang dan straight to the point (mungkin karena bahasa ibu saya adalah melayu Manado).

Kritik yang mungkin bisa menjadi masukan bagi Wai’99 adalah saya menyadari bahwa band ini tidak banyak menggunakan harmonisasi vokal maupun autotune (mungkin tujuan mereka memang agar musiknya terdengar mentah). Akan tetapi di setiap lagu ketika vokal terselip, beberapa part terkesan miss (sekalipun tidak juga bisa dikatakan out of tune). Seharusnya bisa diakali dengan autotune atau harmonisasi dengan merekam beberapa layer vokal yang tentu saja akan lebih membuat lagu-lagu di album ini menjadi padat mengingat aliran musik yang dipilih adalah jenis musik punk yang melodius.

Tapi so far, album dari band yang beranggotakan Wara ameko (vocal), Tou Lutau (bass/backing vocal), dan Roland (drum) ini cukup menyenangkan untuk saya nikmati. Komikal, gamblang, fun, cocok untuk menemani kegiatan lari sore atau ngopi sore saya di kawasan Boulevard Manado dengan latar belakang kampung pelangi yang ikonik tersebut.

Stevan Pontoh

Penulis merupakan pengarang buku The Art of Destruction dan personil Northorn. Sapa dia di instagram @@stv_chada

2 pemikiran pada “Wai’99, Musik Punk Cita Rasa Khas Manado”

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait