Unleash Records, Label Rekaman Kolektif dan Non-Hierarkis

Metallagi Media berkesempatan mewawancarai kru UNLEASH RECORDS, Oktober 2021 lalu. UNLEASH RECORDS adalah sebuah label rekaman musik yang mengusung konsep “nyeleneh” yang doyan rilis karya dari band-band lokal bergenre grindcore, stoner, hardcore, hingga cyber punk.

Band-band yang bekerja sama dengan label ini bisa dibilang cukup asing namanya bagi penulis karena –mungkin- mereka tidak terkenal. Setidaknya ini bisa dibuktikan jika dilihat dari profil instagram para band tersebut yang followers-nya tidak seberapa.

Katakanlah DEATHGANG, MTAD, dan lain-lain adalah band yang pernah dirilis oleh label ini. Tapi juga ada band ternama Indonesia yang akan dirilis. Belakangan ini, mereka akan merilis split album 7’’ band grindcore, EXTREME DECAY dengan BUSUK.

Perkara tidak terkenalnya kebanyakan band yang dirilis label ini, bukan berarti mereka ini “B” aja. Toh karya yang bagus tidak diukur dari jumlah followers IG belaka. 

Justru itu, Metallagi Media merasa UNLEASH RECORDS ini menarik untuk diulas karena band-band yang mereka rilis semuanya “berbahaya”. Selain itu, bagian lain yang menarik dari label musik “bawah tanah” ini dikelola dengan sistem yang tidak umum digunakan oleh label rekaman kebanyakan, yaitu KOLEKTIF.

Unleash Records 15 Tahun Bergerilya

Label rekaman asal Surakarta ini, mulai bergerilya di kisaran tahun 2010 dari komunitas ke komunitas. Salah satu orang di balik layar, adalah Alvien.

Saking cintanya dengan musik keras, sampai “kecemplung” hingga membuat label rekaman bernama UNLEASH RECORDS  & DISTRIBUTION. Nama UNLEASH diambil dari percakapan Alvien ketika berkirim pesan dengan  dengan Brad Boathright (From Ashes Rise/Audiosiege) di surel.

“Diambil dari kalimat terakhir email Brad Boatright yang kurang lebih artinya adalah ‘melancarkan, melepaskan’ setelah sebelumnya dengan bodohnya saya salah kirim email “thank u for ur time” dari Brad, padahal dia tidak menuliskan itu dan terlanjur ke publish,” ungkap pria yang akrab disapa Al itu.  

logo unleash records

Dengan uang kurang dari sejuta Al menjalankan UNLEASH RECORDS bersama kawannya Benjo melapak di berbagai acara musik. Menurut penuturan Al, yang membuat UNLEASH RECORDS berkembang adalah Benjo.

Ia menjalin networking ke luar negeri dalam kegiatan impor merchandise. Waktu terus berjalan sampai UNLEASH RECORDS dapat membantu merilis band milik kawan-kawannya.

Mengusung Semangat Kolektif dan Non-Hierarkis

Tidak seperti kebanyakan label rekaman umumnya, UNLEASH RECORDS mengusung konsep kolektif juga non-hierarkis. Duh, apan tuh? Sederhananya konsep kolektif berarti label rekaman ini tidak dimiliki oleh seorang individu saja yang lebih dominan.

“Hingga akhirnya tahun 2021 UNLEASH RECORDS dijalankan secara kolektif dan dijalankan secara terbuka kepada teman-teman lain yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kami, karena yang terpenting dari kami sebenarnya adalah dari teman, untuk teman, dan kepada teman lainnya,” jelas Al.

Menambahkan bahwa UNLEASH RECORDS dijalankan secara non hierarkis yakni tanpa struktural.

“Tidak dijalankan secara struktural karena kami tidak mau ada strata kelas di dalam UNLEASH RECORDS sendiri,” imbuh Al.

UNLEASH RECORDS digerakkan oleh tiga orang yang dibagi menjadi beberapa divisi yang dibantu banyak oleh kawan-kawan mereka lainnya. Yang ingin dicapai dari konsep kolektif non hierarkis ini bukan sekadar sarana perniagaan belaka, tapi makna luas lainnya adalah pertemanan.

“Yang ingin dicapai sendiri adalah memperbaiki UNLEASH RECORDS menjadi kolektif yang lebih bertanggung jawab untuk segala apa yang kami produksi, sehingga lebih ada keterbukaan antara satu sama lain, lebih dari itu kami sebagai kolektif ingin ebh menjadikan sarana menjalin hubungan dengan teman-teman yang lain dalam berjejaring,” terang Al.

Tidak Ada Genre Spesifik

Sejauh UNLEASH RECORDS berdiri, mereka telah merilis sebanyak 25 edisi. Yang pertama kali mereka rilis adalah split album band Yogyakarta dan Solo, Deadly Weapon dengan Arms of the Few. Sedangkan yang paling akhir saat artikel ini ditulis, adalah BISINGGAMA vol. 5 ½ Natural Rites.

Perkara genre yang spesifik untuk dirilis UNLEASH RECORDS, mereka tidak ambil pusing soal itu. Band dengan genre apapun bisa jadi dirilis. Yang menjadi prinsip UNLEASH dalam perilisian karya adalah antara pihak band dengan label sama-sama memamahami porsi peran masing-masing dengan ngobrol bersama.

Al mengatakan, bahwa Indonesia sangat besar sekali ragam musik dan tetek bengeknya. Mulai dari musisi hingga penikmatnya. Musik adalah embrio dari terciptanya banyak aspek kehidupan.

“Dari band, seniman, dari rilisan musik hingga literasi, zine, booklet, majalah, pergerakan perlawanan, pengorganisasian komunitas, hingga perubahan sejarah juga berkat musik,” Imbuh Al.

“Menurut saya mungkin musik akan selalu hadir mengisi kehidupan tiap individu, menggenerasi berbagai macam zaman dan selamanya memunculkan opini perihal musik itu sendiri,” pungkasnya.

Sekian artikel tentang UNLEASH ini. Terima kasih telah membaca tulisan metallagi.com. Maju terus musik bawah tanah Indonesia.

Tinggalkan Komentar ...

Baca Juga

Musisi Black Metal Asal Manado Ini Rangkai Buku Prosa dengan Lukisan Darah

The Art of Destruction merupakan prosa filosofis karya Stevan Pontoh, musisi black metal Manado, NORTHORN. Prosa itu ia bukukan dan menjadi manifestasi fundamental dari karya-karya ekstrim yang telah dihasilkan melalui musik dan artwork yang diilustrasikan dengan koleksi lukisan darah. Berawal dari kumpulan tulisan yang di kerjakan oleh Stevan pada tahun 2017 silam, hingga menjadi album […]

Ini Makna Dibalik Lagu “Putih Tercemar Darah” Fear Epidemic

Pertengahan Desember lalu (14/12/2021), FEAR EPIDEMIC merilis lagu pertamanya berjudul “Putih Tercemar Darah”. Lagu ini dirilis pada akun Fear Epidemic Official di Youtube dengan format video lirik. Putih Tercemar Darah ini membuat penasaran judulnya. Membuat kita berspekulasi yang tidak-tidak, hmmm… apa sih isinya? Demi menuntaskan rasa penasaran itu, Metallagi.com menghubungi salah seorang personil dari FEAR […]