Persetan dengan kejernihan sound dan futuristik brutal death metal abad ke-21. Effendy Ars menghadirkan karya seni yang keruh layaknya kubangan lumpur yang diimpikan para babi untuk berpesta.
Parricidal, one man-brutal death metal dari Sungai Guntung, Riau, rilis album The Blood of Revenge pada awal Agustus 2026 melalui Edelweiss Production and Records. Ini adalah album yang secara sengaja dikonsep oleh eskponen band ini, Effendy Ars, dengan muatan yang keruh, mentah, dan brutal.
Tentu saja, konsep live berarti sound lagu ditangkap dengan sekali rekam. Album ini adalah live perform Parricidal di Dumai Rebel Fest, 14 Oktober 2025. Effendy ingin membuktikan bahwa apa yang disebut brutal death itu bisa disajikan dalam bentuk paling kotor sekalipun.
“Album ini adalah bukti bahwa brutalitas musik ekstrim masih bisa direkam, dikemas, dan diwariskan dalam bentuk fisik,” kata Effendy.
The Blood of Revenge tidak sekadar merekam lagu sebagai karya musik, namun tak terpisahkan juga merekam nafas yang tersengal, peluh asam di leher gitar, dan transfer energi emosional yang intim antara Parricidal dengan audience menjadi bagian tak terpisahkan saat tampil di Dumai Rebel Fest.
Secara teknis, rekaman yang dikontrol oleh Nardi Noise Harmony ini mengambil audio dari mixer panggung dan crowd mic. Setelahnya, di tahap mastering dieksekusi oleh SDP Records.
“Aku mau pendengar ngerasain drum programming, sound gitar yang gahar, jeritan vokal, dan tembok suara persis seperti yang dirasakan di moshpit,” ungkap Effendy.
Rencana brutalnya itu lalu dikomunikasikan kepada Gravefather agar digarap visual artwork-nya yang menampilkan ilustrasi kerangka terbelah dan daging yang membusuk. Ini adalah representasi dari balas dendam, konflik batin, dan logika yang mati dalam karya-karya yang ada dalam album The Blood Revenge. lainnya, pemilihan warna merah dan hitam dalam layout adalah penekanan situasi amarah yang sedang dilampiaskan di panggung.
“Artwork ini bukan cuma gambar, ini nisan untuk kemunafikan dan simbol kebangkitan scene,” terangnya.
Di album itu terdapat lima lagu. “Setetes Lendir”, “Psikologis Konflik batin”, dan “Logika Yang Mati” diambil dari album yang rilis tahun 2019 yakni Mengalir Darah Kebencian. Sedangkan dua lainnya “Obsessed to Kill” dan “Stabbed With A Knife” diambil dari album yang rilis tahun 2024 yaitu Revenge Through Annihilation.
Sebenarnya album ini direncanakan memuat 6 lagu, yang harusnya lagu “Massacre” ikut masuk, tapi karena kendala teknis, gagal dimasukkan.
“sangat disayangkan lagu ‘Massacre’ tidak direkam karena tidak cukup waktu ketika itu,” sesal Effendy.
Karya ini hanya bisa didapatkan langsung dengan membeli rilisan fisiknya yang tersedia Edelweiss Production and Records maupun melalui Instagram Parricidal.


