Fecalbation: Berdansalah Sebelum Mati

adhe 9 September 2026

Kemunculan Fecalbation melalui debut EP Dance, Laugh, and Die menawarkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan brutalitas khas slamming brutal death metal, tetapi juga memadukannya dengan humor gelap, satir, groove, serta gagasan tentang kebebasan manusia sebelum menghadapi kematian.

Bagi Fecalbation, underground bukan sekedar ruang untuk memainkan musik ekstrem, melainkan tempat untuk berekspresi tanpa batas dan tanpa harus kehilangan identitas. Bersama Rottrevore Records, Fecalbation membawa konsep tersebut ke dalam sebuah EP yang secara musikal maupun visual dirancang sebagai satu kesatuan cerita.

Kali ini Metallagi berbincang bincang dengan Wol, vokalis Fecalbation mengenai filosofi Dance, Laugh and Die, karakter musik mereka, pengaruh musikal, peran komunitas, rilisan fisik, hingga rencana invasi mereka ke berbagai wilayah.

Metallagi: Judul album Dance, Laugh and Die terdengar absurd sekaligus provokatif. Apa filosofi di balik konsep tersebut?

Wol: Dance, Laugh and Die adalah gambaran tentang kesenjangan dalam kehidupan manusia saat ini, sekaligus sebuah makna tentang kebebasan sebelum menuju kematian.

Dance kami artikan sebagai bergoyang atau bergerak, laugh sebagai tertawa atau bahagia, dan die sebagai kematian. Konsep ini menceritakan seorang manusia yang ingin bebas dengan kehidupan dan isi pikirannya tanpa harus membuka siapa dirinya sebenarnya. Karena itu, kami menggunakan konsep “no face”, yaitu menutup identitas asli dari sosok tersebut.

Metallagi: Dari sudut pandang kami, musik Fecalbation selalu memadukan brutalitas dengan humor yang gelap. Bagaimana kalian menjaga karakter tersebut agar tetap terdengar brutal tanpa kehilangan identitas?

Wol: Karakter tersebut akan selalu kami bawa, karena bagi kami underground adalah sebuah ruang kebebasan berekspresi tanpa batas.

Kami ingin tetap brutal, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan karakter dan ciri khas kami. Humor gelap merupakan bagian dari cara kami berekspresi.

Metallagi: Dari seluruh materi di Dance, Laugh and Die, lagu mana yang paling merepresentasikan evolusi Fecalbation?

Wol: “The Clown Disgusting Humor.” Lagu ini kami buat agar semua orang bisa enjoy dan menikmati nada groove yang dapat mengajak pendengar untuk ikut bergerak. Di dalamnya ada pukulan down-tempo khas slam dengan balutan blast-beat panjang, tanpa menghilangkan identitas brutal dan slamming kami.

Tujuan kami saat ini adalah mengajak semua penikmat musik untuk bisa menerima musik kami dengan baik.

Fecalbation
Sampul album Dance, Laugh, and Die.

Metallagi: Secara musikalitas dan lirik, apakah ada band yang menjadi sumber referensi Fecalbation?

Wol: Dari segi musikalitas, kami lebih percaya pada kemampuan masing-masing personel tanpa memberikan batasan. Namun tentu ada sedikit referensi dari band-band panutan kami seperti Katalepsy, Cephalotripsy, Condemned, Cerebral Incubation, dan Internal Bleeding.

Untuk lirik dalam EP ini, semuanya kami tata seperti sebuah cerita dari awal hingga akhir di setiap lagunya.

Metallagi: Banyak band brutal death metal memilih tema gore atau kekerasan murni. Mengapa Fecalbation justru memasukkan unsur satir dan komedi?

Wol: Kami tidak lari dari tema gore. Di EP ini kami juga menceritakan kegilaan dan objek menjijikkan yang menjadi bagian dari konsep kami.

Komedi adalah ciri khas kami dalam menyampaikan sesuatu agar penikmat musik tidak merasa bosan dengan band brutal atau death metal yang terlalu kaku. Bukankah kita diberikan kebebasan sebagai pelaku di dunia underground?

Metallagi: Seberapa besar kebebasan kreatif dan kontribusi yang diberikan Rottrevore Records selama proses produksi hingga perilisan album?

Wol: Rottrevore Records sangat besar memberikan support dan wadah bagi kami sebagai band yang baru lahir. Dengan nama Rottrevore Records yang bisa dibilang merupakan label kawakan, mereka sangat membantu Fecalbation untuk berkembang dan lebih dikenal di kalangan yang lebih luas.

Dalam hal kebebasan, Rottrevore Records juga memberikan wawasan baru bahwa kami berhak melakukan kebebasan bermusik, tetapi tetap tidak keluar dari pakem kami sebagai band slamming brutal death metal.

Metallagi: Bagaimana peran komunitas bagi kalian, terutama Mojokerto Black Conspiracy?

Wol: Mojokerto Black Conspiracy bukan sekadar wadah, tetapi juga keluarga bagi kami. Support dan peran besar mereka adalah tentang keluarga dan pertemanan yang selalu berada di garda depan bersama kami.

Metallagi: Apa tantangan terbesar selama proses rekaman, baik dari sisi teknis maupun mental?

Wol: Alhamdulillah, tidak ada sama sekali, karena memang itu adalah tujuan kami.

Metallagi: Bagaimana proses pemilihan artwork untuk sampul Dance, Laugh and Die? Apakah visual album memiliki keterkaitan langsung dengan konsep lirik dan musik?

Wol: Sangat berkaitan penuh. Kami membuat musik dan liriknya terlebih dahulu sebelum membuat artwork untuk EP ini. Jadi visual yang hadir memang memiliki hubungan erat dengan konsep musik dan cerita yang kami bangun.

Metallagi: Jika ada satu lagu yang wajib didengar pendengar baru sebelum menyelami keseluruhan Dance, Laugh and Die, lagu apa yang kalian rekomendasikan?

Wol: “The Clown Disgusting Humor.” Karena melalui lagu ini kalian akan dibawa untuk berbahagia dengan nada-nada musiknya hingga merasakan kebebasan yang luas sebelum akhirnya merasakan kematian.

Metallagi: Menurut kalian, bagaimana perkembangan skena slamming brutal death metal Indonesia saat ini dibandingkan beberapa tahun lalu?

Wol: Lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Semakin banyak band slamming baru dan evolusi musikalitas slamming yang semakin variatif membuat para penikmatnya tidak merasakan kebosanan.

Metallagi: Di era digitalisasi, apakah kalian masih menganggap rilisan fisik memiliki nilai penting bagi band underground?

Wol: Sangat penting. Meskipun kita berhadapan dengan era digitalisasi, bagi kami rilisan fisik adalah ijazah nyata.

Metallagi: Setelah album ini dirilis, apa target terbesar Fecalbation dalam satu hingga dua tahun ke depan? Tur, festival internasional, atau sesuatu yang lebih ambisius?

Wol: Kami sedang meracik penyakit baru untuk kalian semua dan sekaligus meracik video klip musik tersebut. Untuk tour, sudah pasti dan sampai saat ini sudah kami lakukan. Kami sengaja menginvasi Jawa Timur terlebih dahulu. Kami suka sesuatu yang bertahap namun merata hingga ke ujungnya. Entah nantinya sampai ke luar Jawa atau bahkan lebih dari itu.

Metallagi: Jika kalian harus mendeskripsikan album ini hanya dalam tiga kata, apa tiga kata tersebut?

Wol: “Bergoyanglah sebelum mati.”

Metallagi: Apa pesan kalian untuk para pendengar yang baru pertama kali mengenal Fecalbation melalui debut album ini?

Wol: Nikmatilah dengan hati yang bahagia, karena kami ingin membawa kalian berbahagia bersama kami di manapun kalian berada. Kebebasan kalian adalah hidup kalian tanpa kompromi.

Fecalbation

METALLAGI — Catatan Penutup

Dance, Laugh and Die memperlihatkan bagaimana Fecalbation mencoba menempatkan brutalitas, groove, humor gelap, dan kebebasan berekspresi dalam satu tubuh musik. Bagi mereka, slamming brutal death metal tidak harus selalu hadir dengan wajah yang kaku dan serius.

Di balik dentuman down-tempo, blast beat, dan atmosfer brutalnya, Fecalbation menawarkan sebuah gagasan sederhana namun provokatif: rayakan kebebasan, tertawakan kegilaan, dan nikmati hidup sebelum kematian datang.

“Bergoyanglah sebelum mati.”

Adhe Crusher

Penulis adalah vokalis Berantai, juga anchor di Night Distortion. Sentuh dia melalui instagram @adhe_crusher

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait