Reviu Single Unit Post Rock Asal Bitung, First Breath After Coma

stevanpontoh 19 April 2024

First Breath After Coma (FBAC), band post-rock instrumental asal Bitung, merilis single berjudul “Fifteen In Aries” pada 15 April 2024.

Memang sudah tidak banyak lagi yang memainkan instrumental post-rock di Sulawesi Utara, di samping beberapa nama lokal seperti Kahumata dan Exceed the Atmosphere. First Breath After Coma (FBAC) menjadi salah satu alternatif bagi teman-teman yang merindukan musik post-rock dengan nuansa yang menenggelamkan dan hangat, tetapi tetap melankolis.

Bagi saya yang dahulunya cukup banyak mendengarkan band-band seperti God is an Astronaut, Explosion in the Sky, Sigur Ros, dan Airiel, telinga saya sudah cukup familiar dengan nuansa yang dibawakan FBAC. Apalagi ketika menonton live perform mereka. Band yang dibentuk tahun 2019 ini beranggotakan Giras (drummer), Alfa (gitaris), dan Koko (bassist). Tak hanya itu, di live perfom biasanya mereka menambahkan dua gitaris additional lainnya dengan lead gitar dari Alfa yang menuntun instrumen lain secara melodius bak menggantikan posisi vokal.

First Breath After Coma

Single “Fifteen In Aries” berisi materi yang menghadirkan pengalaman emosional yang dinamis. Hal itu bisa dirasakan dari detik-detik awal single ini yang dimulai dengan sound effect sebelum masuknya instrument musikal dengan slide-slide lead gitarnya yang tipikal. Bisa kita soroti juga di tengah lagu ini terdapat bagian clean gitar dengan chord pickingnya yang lembut seakan menjembatani pendengar kepada bagian distorsi dengan gebukan drum yang tegas. 

FBAC mengajak kita menggali segala jenis perasaan kita dalam 8 menit lebih di single instrumental ini. Bagian ini lah yang membuat musik instrumental menjadi mewah karena tidak monoton. Keragaman sound gitar juga menjadi kunci agar maksud dari lagu tersebut terartikulasikan melalui setiap bunyi instrumen. Bass yang ditampilkan juga tegas di part-part yang juga tepat.

Tentunya untuk satu single dengan durasi 8 menit-an, FBAC belum bisa menemani saya menyelesaikan membaca satu buku novel. Namun, single mereka sudah pantas diselipkan dalam satu playlist bersama beberapa band post-rock instrumental kesayangan kalian untuk menemani kalian bersantai, belajar, baca buku, dengan menikmati kopi di pagi hari. Meditatif!.

 

 

Stevan Pontoh

Penulis merupakan pengarang buku The Art of Destruction dan personil Northorn. Sapa dia di instagram @@stv_chada

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait