Label rekaman yang satu ini bikin “gemas” banyak band metal di Indonesia. Pasalnya, setahun belakangan label ini diketahui merilis album berbagai band namun royalti yang harusnya didapatkan oleh band tidak diberikan utuh bahkan ada juga yang sama sekali tidak diberikan. Dari informasi di Instagram resminya, label bernama vandalism Records yang dikelola oleh Andre (Oxa) ini bermarkas di Mojokerto, sumber lain mengatakan bahwa label ini ada di Surabaya.
Masalah dengan Parricidal
Salah satu roster yang bermasalah dengan Vandalism Records adalah Parricidal, band one-man brutal death metal asal Indragiri Hilir, Riau. Metallagi.com mewawancarai Effendy Ars (2/2), orang dibalik Parricidal. Effendy menjelaskan bahwa di kesepakatan awal bulan April 2022 Parricidal dijanjikan dirilis karya dengan royalti berupa 30 CD Parricidal Promosick, 5 kaos desain cover Promosick 2022, dan 5 kaos logo Parricidal.
Namun itu semua hanya omong kosong. Royalti tidak pernah didapatkan oleh Effendy. Ia berusaha untuk menghubungi Andre. Namun ia selalu berbelit-belit. Pada bulan Agustus 2022 Parricidal dirilis Vandalism di Youtube, di bulan September 2022 dirilis di Soundcloud dan Bandcamp namun sampai hari ini pihak Parricidal belum menerima apapun kiriman royalti dengan alasan keterlambatan.
“Andre bilang ok akan dikirim, sabar, aku tidak ada di rumah, dan alasan lainnya,” terang Effendy.
Sementara itu Effendy memaparkan kepada Metallagi.com bahwa lagu-lagu mereka dijual di bandcamp oleh Vandalism Records dengan harga 7 dollar AS. Effendy memberikan sebuah bukti bahwa lagu dia sudah didengarkan hingga ke Eropa. Salah seorang editor zine di Swedia mengaku dan memberi kabar kepada Parricidal melalui instagram telah mendengarkan lagunya melalui bandcamp.
“Kalau ditanya sudah ada yang beli atau tidak, hanya mereka yang tahu,” kata Effendy.
Effendy telah menghubungi Andre berkali-kali namun selalu berkelit, banyak alasan hingga jarang kontak dan putus kontak.
Masalah dengan Abolishment
Abolishment, band brutal death asal Sukabumi juga mengalami apes karena ulah Vandalism Records. Metallagi.com mendapatkan informasi dari Noe, personil Abolishment. Saat bulan Mei 2022, Abolishment dijanjikan akan dirilis album 100 pcs dan merchandise yang belum jelas jumlahnya. Selain itu mereka diberi janji akan dibayar royalti sebesar 35 persen.
Selang beberapa waktu, banyak kejanggalan. Album molor dirilis dan Andre sebagai owner label susah dihubungi oleh pihak band. Akhirnya Abolishment memutuskan untuk membatalkan kerjasama karena tidak ada hitam di atas putih dan menyampaikan ke Andre namun ia tetap saja tidak menanggapi. Tak diduga saat Desember 2022, tanpa sepengetahuan band, Vandalism records merilis album.
“setelah dirilis saya sering menanyakan hak band terkait royalti lalu dia membalas meminta alamat kami dan akan dikirim,” terang Noe.
Setelah itu Andre mengatakan bahwa royalti telah dikirim namun sampai hari ini ternyata belum diterima royalti. Akhirnya cerita, Andre hilang tanpa kabar dan hingga hari ini tidak merespon Abolishment.
Masalah Dengan Expire Torture
Seperti pola umum yang terjadi pada Parricidal dan Abolishment, roster yang satu ini berasal dari Bogor, yakni Exipre Torture. Mereka hanya dijanjikan omong kosong. Kami mendapatkan informasi dari Ardhi, vokalis Expire torture.
“Label gak mampu buat kasih haknya ke band, di awal terlalu banyak janji iming-iming segala macam entah itu CD demo, video clip, merchandise, dan lain-lain,” kata Ardhi.
Expire Torture dijanjikan 20 pcs demo, 20 pcs t-shirt. Sedangkan yang diterima hanya 3 pcs untuk perpersonil.
Awas! Vandalism Records Masih Berkeliaran di Sosial Media

Sempat diviralkan di Facebook oleh Effendy, tampaknya tak membuat Andre kapok. Hingga kini (21/2) ia masih berkeliaran dan meng-update status menandakan bahwa ia masih ada. Vandalism Records berubah nama menjadi VDMRECS.
Selain itu ia mengupdate riwayat pekerjaan baru di Facebook yakni sebagai manajer di Torn//Thirteen dan sebagai visualizer effect di Oxametallogomaker.
Kami menghubungi Andre melalui Whatsapp untuk meminta klarifikasi perihal dugaan penipuan yang ia lakukan kepada ketiga band di atas.
“Vandalism udah off, Mas. Jadi sudah jangan dicari-cari lagi Mas. Saya anggap sudah mati dan selesai di tahun 2022,” jawabnya.
lantas Metallagi.com menanyakan apakah royalti akan tetap diberikan, Andre menjawab, “Tetap saya berikan dan yang perlu digarisbawahi saya tidak mengambil untung sama sekali soal kasus ini,” katanya.
“kalau semisal ada yang bertindak melalui jalur hukum saya siap resikonya,” imbuhnya.
Hingga artikel ini diterbitkan, pesan terakhir kami menanyakan kapan royalti akan diberikan, ia hanya membacanya saja tanpa membalas.
