Surat Terbuka Paroots Untuk Wali Kota Pasuruan dan Wakilnya

Admin 22 Desember 2022

*Sekali lagi kami diingatkan dengan pukulan beberapa tahun silam (DIDISKRIMINASI DI PANGGUNG
KOTA KAMI SENDIRI). Kemudian aksi protes kami kumandangkan. Dan yang terjadi kemudian hanya (pura-pura) didengarkan dengan kami diajak ngobrol tanpa solusi. Sudah lama kok kami nggak berharap pada government. Tapi alasan tentang hanya PAROOTS yang dicancel karena alirannya “Reggae” ini sungguh sangat melukai hati kami. Dengan alasan alasan jika potensi masa kami dicap mengkhawatirkan. Mohon maaf masa yang mana. Jangan jangan oknum dalam event-event gratis.

Tapi jika itu oknum, lah ini yang didatangkan ARTIS NASIONAL lho. Yang potensi masanya juga lebih masyaallah subhanallah. Lek PAROOTS yo ganok apan-apane. Sebab yang kami tahu ini sungguh SANGAT MENCARI-CARI. Memang hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin logika. Tapi alhamdulillah event semalam ini aman, karena ternyata masuknya TIDAK 100% GRATIS. Ini hiburan rakyat (rakyat-rakyat yang diundang saja). Bisa dimengerti, karena jika benar benar dibuat siapa saja bebas masuk, tidak bisa kami bayangkan betapa akan tumplek blek. Secara ini ARTIS NASIONAL ya kan ya. Waduh kalo sudah tumplek blek, WOES jelas.

Baru bisa bilang ini event gratis siapa saja bebas masuk. Untungnya terfilter baik dengan event dibuat hanya untuk undangan berupa ASN, pejabat, dan PPPK blablabla. Lantas jika sudah difilter dengan baik, apalagi yang perlu ditakutkan, toh-toh mereka mereka yang tidak sampean-sampean harapkan sudah tidak bisa masuk toh.

Kami sangat sadar kapasitas kok, Pak. Sebab itu kami gak asal asalan ambil event. Ketika dikabari event ini, sangat plong bagi kami waktu tahu akan bareng ARTIS NASIONAL di mana riders keamanannya bakal mumpuni, screening ketat. Seperti lagu resik-resik itu sendiri yang ramai diperbincangkan teman teman local kami yang lain. Kapan hari.

Bapak Wali Kota, Bapak Wakil Wali Kota yang masih kami junjung tinggi. Kami percaya mungkin selip ini terjadi di segmen-segmen yang mana terjadi -dibawah anda -(mungkin) Sebab itu kami hanya bantu reminder untuk dicek ulang. Itu saja Gus-Mas.

Ngapuntene, Gus-Mas. Kami cukup berterima kasih dengan angin segar yang sudah njenengan-njenengan bawa ke
kota kami dengan sering sekali menyelenggarakan event-event dengan bintang tamu dari luaran sana. Tapi mbok ya berimbang, biar slogan terhadap cintai produk lokal ini jadi lebih “wongkol” Seimbang terhadap talent-talent lokal. Jangan jargonnya saja tapi realitanya gak ada. Sebab kalaupun ada talent lokal yang nangkring di kota kami, ya turunnya ke itu itu saja. Hmmmmm….

Lebih dari sekedar event ini. Kesenjangan yang terjadi antara panggung-panggung megah dan seniman lokal bukan kali pertama ini terjadi. Masih kental diingatan kami panggung Batik Harmony. Panggung alakadarnya untuk talent lokal. Dan panggung megah diperuntukan – siapa? Apa karena saking tidak pantasnya mereka mereka berada di sana. Tapi sayangnya bagaimana pun juga sepertinya mereka adalah produk lokal yang wajib kita cintai. Ya biar nggak itu itu saja juga Gus- Mas.

Kami masih anak njenengan njenengan kan Gus- Mas? Boleh mengadu seperti ini kan Gus Mas? Ruang gerak yang sangat dibatasi oleh oknum-oknum birokrasi, putus asa terhadap bayang-bayang apalagi yang bisa kami harapkan selain panggung-panggung kampanye saja. Kami ndak nuntut banyak, Pak. Gak pernah nuntut malah. Selama bisa berdiri di atas kaki kami sendiri, jangan beri kami tongkat. Kami yakin masih banyak teman-teman kami yang lain yang berharap bisa duduk bersama untuk menyampaikan kesah-kesah serupa.

Oh iya nitip salam, Dear bapak OKNUM dalam rapat yang menolak keras kami sejak 2018 silam ini. Ada apa sampean dengan kami, Pak? Bapak OKNUM dalam rapat yang memang sudah tidak bisa pro dengan banyak warna. Maunya itu-itu saja. Apa salah kami kepada kota ini Pak OKNUM? Sehingga pantas bagi kami mendapat perlakuan anak tiri macam ini. Sebab sepanjang ingatan, kami nggak pernah bikin kesalahan macam bakar jembatan atau merobohkan tugu alun alun mungkin.

Gus- Mas, akhirnya, tidak apa-apa jika kesah ini tidak disikapi dengan serius. Sebab apalah kami yang hanya akar-akar rumput ini. (Namun) akar rumput yang berani ngadek jejeg ngarep dewe untuk njenengan di saat semua orang cari aman. Gak papa Gus-Mas. Kami sudah biasa kok dibunuh di tanah sendiri. Sebab itu, setelah unggahan ini, kami akan melanjutkan hidup. Dimana perkiraan kami ini hanya akan jadi cuitan cuitan sesaat saja. Baiklah, Teman-temanku, JANGAN PADAM !!!

*Unggahan ini disalin dari teks pernyataan resmi Paroots

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait