TOM MORELLO, Musisi Anti Rasis

Tom Morello

TOM MORELLO, memang sudah terkenal sebagai penentang perilaku rasis, dia terlibat aktif dalam gelombang demonstrasi di Amerika Serikat (AS) menentang rasisme. Ia turun ke jalan dengan ribuan orang lainnya di Libertyville, Kota Illnois. Bukan tanpa sebab, TOM MORELLO melakukannya karena merasa geram dengan peristiwa kematian George Floyd, warga Negara Amerika kulit hitam yang dibunuh oleh seorang polisi kulit putih bernama Derek Chauvin pada akhir Mei 2020 lalu.

Peristiwa itu terekam dengan jelas melalui video dan sudah tersebar luas di internet. Dalam video berdurasi 8 menit 46 detik menampilkan George Floyd dengan tangan terborgol tengkurap di jalan dengan ditekan menggunakan lutut oleh Derek Chauvin, tepat di lehernya. Berkali-kali George Floyd merintih kesakitan dan memohon polisi untuk menghentikannya. Bahkan berkali-kali dia mengatakan “aku tidak bisa bernapas” tapi dihiraukan oleh polisi sebelum akhirnya George Floyd berhenti bicara sampai meninggal di tempat.

Amerika Serikat, Negara yang mengaku menjunjung tinggi kesetaraan dan hak asasi manusia, nyatanya hanya bualan belaka. Di sana sudah lama terjadi tindakan diskriminasi terhadap orang kulit hitam, ini adalah rasisme. Dan puncaknya adalah kasus George Floyd yang menumpahkan kemarahan massal warga AS, termasuk TOM MORELLO untuk menuntut Amerika berkomitmen mengakhiri rasisme. Hingga kini, masyarakat dunia juga ikut bereaksi di Negara masing-masing melalui tagar #BlackLivesMatter . Bahkan di Indonesia ramai menuai reaksi dengan mengaitkan persoalan nyata rasisme Papua yang didiskriminasi oleh orang-orang Indonesia sendiri yang non-kulit hitam.

Tom Melawan Rasisme

Pria bernama lengkap Thomas Baptiste Morello itu memang sejak kemunculnya di panggung musik cadas era 90’s dengan band RAGE AGAINST THE MACHINE (RATM) sebagai gitaris, konsisten membawa semangat anti rasisme, fasisme, dan kapitalisme. Selama perjalananannya dengan band RATM hingga tahun 2000, dan membentuk AUDIOSLAVE setelah RATM bubar, sikap politiknya tetap sama menggaungkan kritik terhadap polisi dan politisi yang cenderung fasis. Kini dengan band paling barunya, PROPHETS OF RAGE, TOM MORELLO masih konsisten menyuarakan suara-suara minoritas dan menuntut diwujudkannya keadilan sosial bagi siapapun. Di PROPHETS OF RAGE, Tom melakukannya bersama para personil lama drummer dan bassis RATM beserta personil tambahan yakni Chuck D, DJ Lord (Public Enemy), dan B-Real (Cypress Hill).

TOM MORELLO bukan sekadar musisi tong kosong yang nyaring bunyinya. Bersama RATM, ia membantu perjuangan tentara Zapatista di Meksiko. Lainnya, dalam aksi demonstrasi kelompok tani, juga terlibat. Bahkan sempat menuai kontroversial karena sikap mereka yang menentang hukuman mati terhadap pemimpin Black Panther, Mumia Abu Jamal, yang dianggap sebagai terroris.

Sikap beraninya itu, terutama melawan rasisme, terpicu karena sejak kecil ia sudah mengalami tindakan rasis saat tinggal di AS. ibunya, sulit sekali mendapatkan pekerjaan ditempat tinggalnya itu, hanya karena mantan suaminya (Ayah Tom), Ngethe Njoroge berkulit hitam asal Kenya. Meskipun begitu ayahnya adalah pahlawan Kenya yang berani melawan penjajahan Inggris. Tom kecil dihadapkan pada realita pahit tentang rasisme. Saat berusia 15 tahun, ia bertemu dua orang kulit putih yang mengejeknya dengan membuka hidung lebar-lebar dan menyuruh Tom masuk ke dalamnya. Namun kini tempat itu mulai sadar juga menentang rasisme. Suasana yang sangat berbeda hari ini ketika kerumunan massa demosntrasi yang Tom ikuti, disapa oleh para aktivis dari komunitas-komunitas kulit hitam tetangga, seorang Muslim, dan Libertyville bersama-sama meneriakkan, “Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian! Tidak ada polisi rasis!”.

Sekian artikel menarik tentang TOM MORELLO ini. Semoga menambah wawasan kamu tentang latar belakang musisi-musisi yang kamu idolakan. Terus ikuti update terbaru dari metallagi.com . Salam cadas!

Tinggalkan Komentar ...

Baca Juga

VOX MORTIS: Musik Metal Dan Gerakan Kampanye Kesejahteraan Hewan

Tidak lagi identik dengan tema-tema kematian dan depresi, musik death metal yang diusung oleh band kawakan asal Jakarta, VOX MORTIS, punya jalan ninja yang berbeda. Mereka membawa isu kesejahteraan hewan sebagai sajian utama. Band baru yang dibentuk oleh para musisi kondang Jakarta ini, yakni Doni Herdaru Tona (FUNERAL INCEPTION), Achmad Mustaid (VOMITOLOGY) dan Donirro (LAST […]

BELLPANIC, Psychedelic Rock Pasuruan Rilis “Drunk In Blues”

Musik rock dan berbagai subgenre-nya tampak seolah mati di Kota Pasuruan. Lajunya lambat terseok-seok. Sangat jarang ditemui event maupun kelompok musik rock yang menonjok di kota “inspiring city” ini. Band-band grunge dan punk pun juga tak ada taring. Paling banter anak-anak metal tongkrongan Orgi Studio dan Pasuruan Under Divison yang rajin membuat gigs musik cadas. […]