TARING: Menolak Omnibus Law Hingga Jadikan Musik Sebagai Senjata Perlawanan

Taring Band Members

Musik sebagai senjata perlawanan. Barangkali itu adalah kalimat yang pas untuk dilekatkan pada band Hardcore asal Bandung, TARING. Sejak awal kemunculannya tahun 2014 melalui album ‘Nazar Palagan‘, TARING mereka benar-benar tajam. Lagu-lagu yang diciptakan berupaya menelanjangi dan mengupas betapa busuknya praktik politik di negeri ini. Band yang berafiliasi dengan Grimloc Records ini sangat tegas dalam bersikap soal masalah sosial di Indonesia. Kini, mereka dengan tegas menyatakan menolak omnibus law, yang digunakan dalam perumusan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja. 

Metallagi.com berkesempatan mewancarai sang vokalis, Hardy Rosady. Ia mengatakan jika Omnibus Law berbahaya dan TARING menolaknya. “Jelasss (menolak), Omnibus Law kematian bagi kaum buruh, Omnibus Law mempermudah PHK bagi kaum buruh, Omnibus Law meniadakan pidana bagi pengusaha nakal,” ungkap pria yang akrab disapa Nyanknyank itu.

Terkini tentang Omnibus Law, meskipun dalam masa darurat wabah Covid-19, Omnibus Law tetap dibahas oleh DPR. Banyak para serikat buruh yang menentang DPR agar fokus penanganan wabah. Dan meminta gagalkan Omnibus Law. Nyanknyank mengatakan bahwa TARING akan terus bersuara lantang terkait ini. “Jika ada kesempatan turun ke jalan bersama kawan kawan buruh kenapa tidak, mungkin untuk saat ini kembali ke porsi kita sebagai pegiat seni salah satu bentuk perlawanannya lewat lirik”, ucap mantan vokalis OUTRIGHT itu.

Selain merugikan buruh, Omnibus Law juga mengancam keseimbangan ekologi. Karena peraturan itu bakal mempermudah izin perusakan lingkungan. TARING tidak akan berhenti suarakan isu-isu lingkungan juga. Bahkan di album barunya nanti, juga berbicara soal lingkungan, pemanasan global, hingga penggusuran.

“Genre musik kami penuh dengan nyali dan tak luput untuk selalu mengepalkan tangan kiri di atas demi satu kata yang sulit ditegakkan yakni “keadilan” di sekitar kami. Kami tak berhenti, kami lebih rewel dan sulit dibungkam. Sebab sampai hari ini suara derita maupun isak tangis belum juga berhenti dimana-mana,” kata Nyanknyank kepada Metallagi.com.

TARING dalam berkarya banyak terinspirasi dari INDECISION, DAMNATION AD, SOUNDGARDEN hingga band metal klasik BLACK SABBATH. Mereka meleburkannya menjadi satu. Dalam waktu dekat akan segera merilis album baru. “Karena ada pandemik corona album baru kita yang seharusnya di awal bulan udah selesai proses rekaman jadi terhambat, hanya menyisakan sesi vocal saja,” terang Nyanknyank. Untuk nama album, mereka masih mengotak-atiknya.

Nah itu tadi artikel tentang TARING. Informasi band lainnya juga dapat kamu baca di Metallagi.com. Sekian dan terima kasih.

One thought on “TARING: Menolak Omnibus Law Hingga Jadikan Musik Sebagai Senjata Perlawanan

Tinggalkan Komentar ...

Baca Juga

SOREM: Batik Adalah Atribut Bangsa Merdeka dan Berdaulat

Mereka adalah SOREM, Band black metal “nyeleneh” asal Probolinggo, Jawa Timur. Para pecandu musik hitam di wilayah tapal kuda pasti sudah tahu band ini. Saat ada event, band ini tentu menyedot perhatian. Yap, pakaian yang mereka kenakan adalah penyebabnya. Di saat mayoritas band black metal lain berlomba-lomba tampil garang dengan kostum yang terkesan nyaris meniru […]

Lagu Baru MOUTHLESS “Perompak Zaman” Tampar Para Pendengarnya

MOUTHLESS band death metal dari Jakarta telah merilis lagu berjudul “Perompak Zaman” September 2021 lalu. Lagu baru mereka ini adalah ekspresi kondisi sosial di era pandemi sekarang. Di mana pandemi telah berhasil menelanjangi manusia dan mempertontonkan sifat terkelamnya. Yakni, manusia memiliki sifat yang tidak pernah merasa cukup untuk menyengsarkan sesamanya. Menurut drummer MOUTHLESS, Gilang Muhammad […]