SLFR : Black Metal yang Menyuarakan Perlindungan Binatang dan Alam Semesta

slfr band members

SLFR atau biasa disebut sebagai SELFAR, kelompok musik Black Metal pendatang baru dari Bekasi. Mengusung genre Post-Black Metal adalah komitmen besar dari para personil yang sejak awal untuk menyatukan kejujuran hasrat bermusik mereka sendiri. SLFR baru saja terbentuk namun sudah menuai progres cepat dengan penggarapan sebuah debut album yang rencananya dirilis pada tahun 2020 ini. Bukan tidak mungkin bahwa SLFR bisa menjadi ancaman berbahaya di ranah musik bawah tanah Indonesia. SLFR adalah side project dari beberapa band-band cadas ternama yakni VISCRAL, HUMANIMAL, IRIS, GERAM dan SPEEDFUZZ.

Melalui pewarta Metallagi.com bernama Jhon Tacvlt, vokalis SLFR, yaitu Eggi Pradia Dislan bercerita tentang arti nama band secara luas. “Diarahkan melalui intuisi untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan aturannya sendiri, dengan bergantung kepada pemikiran yang rasional, cenderung terpacu untuk mengembangkan diri dengan menitik kepada hal yang disiplin, diwarnai perasaan yang istimewa dan ekstrem untuk mengajak orang lain kedalamnya. Memang terlalu panjang artinya, enggak perlu dipusingkan. Untuk cukup tau saja dengan mengucap SELFAR tanpa memikirkan arti,” kata Eggi.

Terlepas dari soal konsep musik kelamnya, yang menarik lainnya yaitu soal tema lirik yang dibawakan banyak mengangkat isu pentingnya menjaga lingkungan alam semesta. Dan kemudian adapun juga isu perlindungan terhadap binatang. Tidak banyak sebuah band yang bersuara tentang akan hal-hal seperti itu, dan itulah bagian dari keunikan SLFR tersendiri.

Kini mereka sudah sampai penggarapan demo untuk nanti diperkenalkan sebelum album rilis. Namun sayang tertunda karena wabah covid-19. Lewat official instagram SLFR di @SLFRofficial kalian bisa melihat progres mereka menuju kegilaan dalam berkarya. Kini, band digawangi 5 personil yaitu Eggi (VISCRAL) vokalis, Alamsyah (HUMANIMAL) gitaris, Jafar (IRIS) gitaris, Urfan (GERAM) sebagai bassis, dan Erlangga (SPEEDFUZZ) sebagai drummer.

Recording masih di wilayah Bekasi, engineering juga dilakukan player sendiri. Masteringnya pun demikian. Untuk label mereka sudah mendapatkan 3 kontak label di eropa, dan 2 label di Indonesia, namun belum dipastikan akan berlabuh kemana. Dan tetap dirahasiakan sampai waktunya untuk di umumkan.

SLFR terbentuk bukan sekadar band yang ingin tampil meramaikan kancah permusikan saja. Namun sebagai media untuk menyampaikan rasa. “Yang membuat kami ingin terus berkarya adalah, musik yang kami mainkan dibuat untuk memenuhi keinginan bukan dibuat untuk kata bersaing. Kepuasan menciptakan lagu yang diapresiasi positif oleh teman-teman adalah reward terbaik untuk kami, semoga teman-teman menyukainya. Selebihnya hanya bonus dari apa yang kami tanam”, kata Eggi.

Akhir wawancara dengan Metallagi.com, Eggi berpesan kepada para penggemar musik metal agar senantiasa menjaga alam semesta.”Tetap jaga kesehatan, kebersihan, mulai biasakan hidup bersih, peduli dengan lingkungan, satu langkah kecil atau besar untuk kalian yang peduli akan lingkungan adalah kalian sudah menjadi salah satu earth guardian serta menjadi pengingat sesama untuk menghormati kehidupan,” pungkasnya.

2 thoughts on “SLFR : Black Metal yang Menyuarakan Perlindungan Binatang dan Alam Semesta

Tinggalkan Komentar ...

Baca Juga

Anthem baru Fingerprint Untuk Sapa Kamu Para Pengembara Jalanan

FINGERPRINT, band hardcore asal Medan, merilis karyanya di bulan Juli 2021 ini. Diawali dengan perilisan single “Dongan Sahuta” tanggal 7 Juli 2021. Selang dua hari, mereka mengumumkan perilisan album ketiga bertajuk “Determinasi” yang resmi dirilis tanggal 9 juli 2021 dalam versi CD oleh Lawless Records Jakarta. Dan versi kaset pita oleh Disaster Records. Album ini […]

Foreplay Sebelum Penetrasi Klimaks, WARBLOOD FEST Adakan Live Sessions

WARBLOOD FEST sudah berjalan hingga chapter delapan. Harusnya bulan Juli 2021 ini lagi akan digelar yang kesembilan. Namun sayang, karena kondisi PPKM darurat memaksa mereka mengurungkan niatnya. Padahal udah siap banget nih acara digelar. WARBLOOD FEST kesembilan rencananya akan di adakan di salah satu tempat di Penanjakan Bromo seperti acara Mountains of Death gitu, sih. […]