Catatan September (dari pekerja untuk pekerja): Seni, Kolektif, Hingga Skena

Alan Stevenres 26 September 2026

Fasisme Dan Penafsiran Nasionalisme

“Nasion di atas manusia, Pecah berserakan cinta”

Itu adalah sepenggal lirik berima anti-fasis, dari Efek Rumah Kaca bersama Morgue Vanguard, dalam lagu berjudul “Bersemi Sekebun”. Secara abstrak, fasisme dapat ditafsirkan sebagai gagasan tentang “persatuan”. Namun, fasisme memahami persatuan dalam suatu kelompok hingga negara-bangsa bukan berdasarkan kemanusiaan, melainkan berdasarkan kesukuan, ras, atau bangsa tertentu tak terkecuali negara. Dengan dasar yang tidak berangkat dari kemanusiaan tersebut, suatu kelompok dapat memandang bangsa lain sebagai bangsa bawahan atau bahkan sebagai musuh ras. Dengan demikian, fasisme memiliki kaitan dengan rasisme.

Fasisme juga tidak terhindarkan memiliki pertalian dengan nasionalisme. Namun, sebagai pengecualian dalam konteks Indonesia, Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Sukarno pada 1 Juni 1945, pernah menyajikan sebuah pandangan jelas, yang dapat dipahami sebagai antitesis terhadap nasionalisme Eropa yang chauvinistik dan cenderung fasis yang ditulisnya dalam naskah utuh perumusan dasar negara yaitu Pancasila. Sukarno menafsirkan pandangan nasionalismenya dengan salah satu rujukan pemikiran Mahatma Gandhi yaitu kemanusiaan. berikut kutipan pidato Sukarno:

“Gandhi berkata: „Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan „My nationalism is humanity”.

“Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropa, yang mengatakan„Deutschland uber Alles”, tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya, bangsanya minulyo, berambut jagung dan bermata biru, „bangsa Aria”, yang dianggapnya tertinggi diatas dunia, sedang bangsa lain-lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas azas demikian, Tuan-tuan, jangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulya, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.”

Bagaimana fasisme ingin memperbaiki persoalan manusia hingga bangsa?

Kita dapat melihat sejarah pemimpin partai nazi, Adolf Hitler yang disebut Sukarno dalam pidatonya di atas. Pada awal kebangkitannya, Hitler mencoba memahami kebangkrutan Jerman setelah Perang Dunia I. Namun, ia melakukan pemahaman secara dangkal hingga menyimpulkan bahwa kebangkrutan tersebut disebabkan oleh satu ras tertentu, alih-alih melakukan riset dan kajian mendalam terhadap teori politik, sistem ekonomi, dan berbagai persoalan lainnya.

Kemudian terjadilah pemusnahan terhadap kelompok tersebut yang dikenal melalui peristiwa genosida “Holokaus”. Kurang bodoh apa Hitler ini? Yang penting mencari kambing hitam, serta membaca teks pidato dengan berapi-api. Dari sejarah hitler tersebut, kita mungkin dapat menulis kalimat satiris semacam: “Rajin belajar jadi pintar, malas belajar jadi Hitler.”

Bagaimana dengan sejarah Indonesia yang kita cintai?

Rekayasa konflik etnis berdarah dapat kita lihat melalui beberapa peristiwa yang telah saya sebutkan sebelumnya yang terjadi pada rentang 1965 hingga 1998, di bawah rezim yang memiliki karakter fasis pada masa itu. Apakah fasisme dapat merasuk melalui seni, khususnya musik? Lebih spesifik lagi, melalui skena yang mengampu gigs? Ya.

Infiltrasi semacam itu pernah terjadi dan masih menyisakan jejaknya di Barat dan Eropa. Hal tersebut menunjukkan bahwa seni dan musik tidak selalu berada dalam ruang yang steril dari berbagai kepentingan isme/ideologis. Seperti yang dikutip Vice dalam “Sejarah Singkat Usaha Ideologi Fasisme Menginfiltrasi Punk dan Metal”, dari tulisan seorang dosen di Portland State University, Alexander Reid Ross, yang juga pernah menulis buku Against the Fascist Creep (AK Press). Kajiannya menunjukkan bagaimana kelompok-kelompok neo-fasis secara sadar dan diam-diam menerapkan program menyusupi khalayak luas maupun pergerakan sosial kiri lewat musik.

Di Indonesia, persoalan semacam ini bahkan pernah menjadi viral dalam skena tertentu. Kita dapat melihat kembali peristiwa sekitar tahun 2015 ketika salah satu panggung metal yang berkaitan dengan Ki Gendeng Pamungkas merilis merch yang memuat diksi kebencian terhadap ras tertentu. Peristiwa tersebut kemudian membuat beberapa band, seperti Seringai, Noxa, Down For Life, Burgerkill dan lain-lain, mengundurkan diri dari event tersebut.

Penyusupan Kapitalisme dan Fasisme

Dari keseluruhan paragraf di atas, kita dapat merenungkan kembali serta melihat bahwa kapitalisme beserta fasisme tanpa disadari ataupun disadari dapat menyusup melalui apapun termasuk melalui seni, musik, hingga unsur unsur kehidupan lainnya. Berbagai gagasan fasis dan perlakuan kapitalistik tersebut bahkan dapat menyebar melalui perkataan orang yang memahami ide politik maupun orang yang apolitis, serta dapat dipraktiskan lagi lagi tanpa disadari ataupun disadari. Akhirnya satu-satunya cara untuk melawan keduanya adalah memiliki kesadaran untuk menjaga pertemanan serta saling mengingatkan satu dengan yang lain, bahwasannya, ikut menyuarakan anti terhadap fasisme dan kapitalisme yang merusak manusia dan alamnya sudah menjadi keharusan.

Referensi

 

Alan Stevenres

Alan Stevenres. Penabuh drum di kolektif kecil Calvarium dan Tagaroa

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait