Apakah musik benar-benar sekadar musik, atau ia tak pernah benar-benar steril dari penetrasi ideologis?
Tulisan ini saya mulai pada penghujung Agustus dan berlanjut hingga awal September 2026. Di waktu yang hampir bersamaan, salah satu band kecil saya, Calvarium, membatalkan rencana kerja sama dengan sebuah label karena alasan tertentu. Di sisi lain, setiap personel harus menjalani kesibukan masing-masing, terutama karena persoalan yang tidak dapat dihindari: bekerja untuk mendapatkan modal memenuhi keperluan hidup.
Kami sebenarnya pernah berniat merilis karya secara DIY (do it yourself). Namun, rencana tersebut kembali berhadapan dengan persoalan modal yang sama. Dalam situasi seperti itu, saya menyadari bahwa menjaga hubungan dengan musik tidak selalu harus dilakukan melalui produksi atau perilisan karya. Ketika proses produksi tertunda oleh persoalan modal, sepertinya menulis dapat menjadi alternatif untuk merawat semangat sekaligus mempertahankan hubungan dengan gagasan yang selama ini hidup di sekitar musik itu.
September merupakan bulan yang penuh dengan kisah. Seperti kisah persahabatan gerakan perjuangan sosial anti-kapitalis dan anti-fasis yang terjadi pada 28 September 1864 di Inggris, berbagai pekerja dan peneliti sosial dari tradisi sosialis seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Mikhail Bakunin, Pierre-Joseph Proudhon, dan lainnya terlibat dalam International Workingmen’s Association (IWA), yang kemudian dikenal sebagai Internasional Pertama.
Di Indonesia, masih pada bulan September, pada tahun yang berbeda, tepatnya 1965, menjadi awal pemusnahan besar-besaran terhadap gerakan anti-kapitalis dan anti-fasis yang pernah bersatu tersebut. Begitu pula dengan berbagai peristiwa berikut: Tragedi Tanjung Priok, Tragedi Semanggi II, pembunuhan Munir Said Thalib, pembunuhan Salim Kancil, dan lain-lain yang terjadi pada bulan September.
Terlalu sulit untuk memisahkan berbagai peristiwa di atas dengan diksi anti-kapitalis dan anti-fasis. Berbagai peristiwa tersebut kemudian membentuk ingatan kolektif sejak lahirnya, yang dalam sejumlah praktik seni dan kebudayaan hari ini melibatkan diksi “September Hitam” dalam berbagai narasinya.
Tampaknya bulan ini merupakan waktu yang tepat untuk mengungkit dan mengingat beberapa hal di atas selain persoalan modal, terutama yang berkaitan dengan seni, musik, serta hubungan di antara mereka. Mengingat sejarah tidak berarti menerima seluruh tafsir yang telah diwariskan kepada kita. Mengingat juga berarti mempertanyakan kembali cara sejarah dibentuk, membaca, serta mengungkitnya ulang dalam setiap bincang, tulisan hingga musik.
Skena saat ini serta relevansinya dengan ke-antian terhadap fasisme dan kapitalisme
Secara sederhana, gigs dapat dipahami sebagai sebuah pertunjukan musik berskala kecil. Gigs sendiri mustahil tanpa campur tangan komunitas. Oleh karena itu, gigs dapat menjadi jelmaan dari komunitas itu sendiri. Dalam kesinambungan itu, kita sebagai pelaku yang terlibat dalam komunitas dan gigs, lingkungan pergaulannya sering disebut sebagai skena (scene).
Melihat perkembangannya di beberapa daerah, skena dan gigs bertumbuh dengan baik. Saya sendiri mulai mengenal dan terlibat dalam gigs sekitar tahun 2010 melalui sebuah organ seni kemahasiswaan kecil dari salah satu Universitas di Kota Manado. Sebut saja Pabrik Aesthetics, organisasi yang membuat saya betah belajar di kampus, dan sempat membuat saya dan kawan dekat bereksperimen dengan band kecil yang kami beri nama Electric City.
Dari sana, saya mulai mengenal beberapa kolektif yang disatukan oleh kepentingan seni yang sama, entah karena didasari pertemanan dalam satu label rekaman, selera musik, dan lain-lain. Beberapa di antaranya adalah Gudang Sendjata Record, Manado Bay Hardcore (MB-HC), yang sempat mempertemukan saya dengan kolektif hardcore Barol-HC, North Celebes Infantry Battalion (NCIB) yang mempersatukan saya dengan Calvarium (yang tak jelas itu hahaha).
Hingga yang terbaru dan konsisten menjaga api ketika api skena musik Manado lainnya meredup, seperti Moshpit Records, dan masih banyak lagi kolektif yang merangkul seniman, khususnya musisi, dari berbagai latar belakang dan minat musik. Mengikuti penyebarannya ke daerah tetangga Manado, seperti Pulau Sangihe/Sanger, tempat kelahiran saya, kita dapat melihat Rage in Malahasa (RIM), yang akhirnya mengakrabkan saya dengan kolektif grind anti-fasis bernama Tagaroa, hingga Klok, kolektif yang juga baru dan lebih ramping, tetapi teruji keteguhannya ketika menerjunkan diri bekerja dalam sebuah gigs.
Sebelumya, saya mengungkit beberapa peristiwa yang terjadi karena usaha usaha menentang kapitalisme dan fasisme. Dan sebagai pelaku sekaligus pengedar seni musik, yang juga memahami serta berusaha anti terhadap keduanya, pembahasan selanjutnya akan difokuskan terhadap kapitalisme dan fasisme.
Kapitalisme, serta salah kaprah sesama kelas pekerja
Untuk bersikap menentang atau anti terhadap sesuatu, kita harus terlebih dahulu memahami apa yang kita tentang tersebut. Ketika kita hanya mengutip begitu saja beberapa poin dalam bacaan pendek, kita bisa saja keliru dalam menyimpulkan bahwa “kapitalisme = perdagangan”, “kapitalisme = perusahaan”, “kapitalisme = pasar”, bahkan “kapitalisme = gigs/event dengan sponsor tertentu”. Pada akhirnya, kita bisa saja sampai pada kesimpulan keliru bahwa kapitalisme merupakan sesuatu yang alami, baik, serta relevan sebagai pelopor kemajuan bangsa. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. Satu lagi kekeliruan yang sering menjadi cemooh sesama kelas pekerja/buruh seperti:
“Anti-kapitalis kok pakai laptop produk kapitalis untuk mengetik tulisan ini?”
Bagi sebagian orang yang mendaku anti-kapitalis tapi malas membaca, pertanyaan semacam itu mungkin terdengar seperti kritik yang tajam. Namun, pertanyaan tersebut justru menunjukkan kesalahpahaman tentang hubungan antara produk, pekerja, pemodal dalam kapitalisme. Sebab, apakah sebuah laptop layak diistilahkan sebagai “produk kapitalis” hanya karena diproduksi dan dijual oleh perusahaan yang secara “diam-diam” beroperasi dengan cara-cara kapitalistik?
Bagaimana bisa kita menghilangkan nilai pekerja/buruh dalam cemoohan semacam itu? Jangan-jangan yang mencemooh adalah si kapitalis? Mari kita balik cemoohan tersebut, menjadi:
“Laptop bukan produk kapitalis, melainkan hasil kerja kolektif jutaan buruh/pekerja.”
Prosesnya dimulai dari buruh/pekerja tambang yang mengambil bahan mentah seperti aluminium, tembaga, silikon, dan berbagai mineral lainnya, yang kemudian diolah oleh buruh/pekerja pabrik menjadi komponen seperti papan sirkuit, prosesor, memori, layar, baterai, kabel, dan casing. Selanjutnya, buruh/pekerja manufaktur, teknisi, insinyur, dan buruh/pekerja manufaktur perancang mengembangkan serta merakit perangkat keras, sementara buruh/perkeja programmer dan pekerja perangkat lunak menciptakan firmware, sistem operasi, dan program yang membuat laptop dapat digunakan. Setelah dirakit dan diuji oleh buruh/pekerja sekali lagi, laptop masih melewati tangan buruh/pekerja pengemasan, gudang, logistik, pengemudi, hingga tenaga buruh/pekerja penjualan sebelum sampai kepada pengguna. Hitunglah peran pekerja/buruh dalam satu produk yang sering disebut sebagai produk kapitalis tersebut.
Jadi begini, kapitalisme misalnya, merupakan istilah yang digunakan dalam berbagai analisis terhadap: individu serta kelompok yang tunduk pada suatu modus produksi hingga membentuk sebuah sistem. Para pemikir sosial yang saya sebutkan pada pengantar di paragraf kedua, khususnya Marx dan Engels menerjemahkannya hingga mendapati pokok dalam kapitalisme adalah: M – C – M’ ( Money Commodity More Money) yang dalam bahasa Indonesia adalah uang – komoditas – uang yang lebih banyak.
hingga peneliti penerusnya menyebutkan ciri-ciri pasti yang dapat dibaca dari kapitalisme saat ini adalah sebagai berikut:
Pemodal yang bergantung dengan – tuntutan kompetisi – peningkatan produktivitas – eksploitasi terhadap manusia dan alam secara intensif – untuk akumulasi modal dan terus mengulang prosesnya tanpa keadilan. Jadi, bagaimana cara melihat kapitalisme telah atau masih ada dalam individu/diri seseorang, komunitas, organisasi hingga perusaahan sektor privat maupun negeri?
Lihatlah kerja kerja yang saling memberlakukan pertukaran barang hingga jasa. Apakah barang dan jasa dalam suatu lingkungan kerja diatas diapresiasi? diberi nilai? dihargai? masih sesuai “kesepakatan” atas nama apapun misalnya: “kontrak bertanda tangan, ideologi pertemanan atau yang sering disebut para anarkis sebagai mutual-aid”? Jika tidak, patut dicurigai kapitalisme telah tumbuh di situ.
Satu-satunya cara untuk melawan kapitalisme yang telah menyusup hingga sendi-sendi kehidupan adalah bersifat adil terhadap sesama bukan? dan tentu kita harus berani menafsirkan adil hingga menjadi diksi berimbuhan ke-adil-an itu seperti apa. Saya jadi teringat sebuah Sila dalam Pancasila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, kawan-kawan bisa menafsirkannya dengan mengganti dua kata “rakyat Indonesia” dalam sila kelima tersebut menurut tafsir masing-masing sesuai lingkunganmu, seperti: lingkungan, komunitas, organisasi, swasta/negri dan seterusnya. Tapi sudahlah, kata Pancasila sepertinya telah disalahpahami karena begitu melekat pada kelompok preman “muka tua” tapi ngakunya Pemuda.
Jika masih terlalu sulit untuk memahami kapitalisme dan hanya terlibat dengan cemoohan tumpul perihal “satu produk” seperti contoh di atas, saya ingin merekomendasikan buku yang ditulis oleh Ellen Meiksins Wood- Asal Usul Kapitalisme: Kajian Secara Menyeluruh.
Pembaca dapat melakukan eksplorasi lebih lanjut mengenai berbagai isu ekologis sehingga dapat melihat bahwa lingkungan kita telah mengalami kerusakan di banyak tempat, misalnya di Sangihe, dimulai beberapa tahun yang lalu hingga saat ini, sebagai rujukan kita bisa menuju pada membaca artikel Greenpeace.
Setelah memahami hal-hal yang saya sebutkan di atas, kita dapat melihat bahwa akumulasi yang dilakukan oleh kapitalisme tidak hanya merusak manusia karena ketidakadilannya, tetapi juga lingkungan/alam beserta hubungan antara manusia dan alam itu sendiri. Lalu, bagaimana dengan fasisme?
