Sajian musik yang Exfetus bawakan adalah ibaratkan sebuah mesin waktu. Sebagian membawa nostalgia karena kental nuansa musik metalcore 2000an-nya, dan sebagian seakan menjadi representasi musik modern hardcore dengan intensitas padat dan petikan gitar melodis, atau lebih tepatnya representasi musik modern metallic hardcore.
Kota Manado selain menjadi salah satu kota dengan sektor pariwisatanya yang sangat menarik wisatawan dari berbagai daerah, ternyata menyimpan talenta-talenta yang begitu hebat di dunia permusikan bawah tanah. Dan yang saat ini sedang begitu produktif mengedarkan rilisan baru, entah itu berupa single, EP, full album, maupun video lirik adalah dari lini permusikan hardcore.
Selain dari percepatan arus informasi dan kecanggihan dunia modern saat ini, salah satu penunjang semangat para musisi bawah tanah khususnya para pelaku musik hardcore di Manado adalah gigs kolektif mingguan mulai dari yang sederhana hingga event besar yang beberapa bulan silam sukses mereka gelar, yakni Manado Bay Hardcore Fest.
Manado Bay Hardcore Fest sendiri merupakan event hardcore tahunan yang bisa dibilang menjadi hari raya dari para pelaku dan pecinta musik hardcore se-Sulawesi Utara. Pasca pagelaran Manado Bay Hardcore Fest pada tanggal 9 Agustus 2025, bertepatan juga dengan hari peringatan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 2025, ada satu band hardcore Manado yang merilis EP perdana, mereka adalah Exfetus.
Tentang Exfetus

Exfetus adalah satu band yang patutnya tidak boleh terlewatkan dari radar para penikmat musik khususnya musik hardcore. Berasal dari Kota Manado, Sulawesi Utara, Exfetus terbentuk pada awal Januari tahun 2025. Beranggotakan Adja pada lini vokal, kemudian Wall pada gitar 1, Jojo gitar 2, Geo pada bass, dan Jay sebagai drummer.
Kira-kira jika boleh dijelaskan secara sederhana, musik yang dibawakan dari Exfetus adalah musik hardcore yang meramupadukan antara oldschool hardcore dengan unsur-unsur modern hardcore, lalu sedikit tambahan formula metalcore gelombang 2000-an. Yang kemudian unsur-unsur musik itulah yang mereka sajikan di EP perdana mereka Rebirth In Pain.
Tentang Album Rebirth in Pain
Sebelum lanjut ke bahasan tentang album, kawan-kawan bisa mendengarkan Rebirth in Pain dari Exfetus di sini. Album Rebirth in Pain resmi mengudara lewat No Match Records sejak tanggal 17 Agustus 2025 silam. Pada penggarapannya, layaknya band-band hardcore yang lain, Exfetus banyak melakukan proses kreatif ini secara DIY.
Proses mixing dan mastering dilakukan di Blackcataudio, oleh Firman Pakaya, seorang musisi dan juga sound engineer yang namanya sudah dikenal luas di skena permusikan bawah tanah Sulawesi Utara. Dalam pembuatan artwork, Exfetus bekerja sama dengan Azez Achmadi, yang juga merupakan seorang musisi dari Manado.
Terlihat sekilas dari cover art Rebirth in Pain, gambaran suasana temaram dan depresif sangat kental terasa. Tone warnanya yang begitu terasa suram dan muram seakan menegaskan isi juga sekaligus arti dari judul EP ini.
Dari Track ke Track
Rebirth in Pain dibuka dengan sebuah track yang berupa intro dengan judul IV.III.I. Judulnya terinspirasi dari angka 431 yang kemudian ditulis dengan angka romawi, 431 sendiri berarti kode area untuk Manado. Track dengan total durasi 3 menit 20 detik ini dibuka dengan potongan dari ayat alkitab, Amsal pasal 51, yang inti dari pesan ayat tersebut adalah tentang seorang hamba yang memohon pengampunan. Sampai pada menit ke 1 lewat 45 detik, lagu dilanjutkan oleh melodi gitar dan kemudian dilanjutkan oleh detuman drum dan breakdown sampai pada akhir lagu.
Kemudian kita disuguhkan dengan track ke-2 yang berjudul “War From Grave”, sebuah lagu dengan intensitas musik padat dan cepat. “War From Grave” adalah sebuah sarkasme yang dituliskan oleh Exfetus tentang rasa resah mereka akan konflik berkepanjangan dan genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina. Lagu ini semacam sebuah tribute terhadap para korban yang jatuh akibat kekejaman perang tersebut.
Pada track-3 sedari awal unsur musik metalcore ala 2000-an sangat terasa pada lagunya. Lagu dengan judul “Impulsive” ini, menjadi lagu yang sangat unik di album Rebirth in Pain, karena menjadi satu-satunya lagu yang dibumbui dengan vokal clean.
Lagu ini juga merupakan lagu pertama yang ditulis Exfetus untuk materi Rebirth in Pain. Dari segi lirik, “Impulsive” adalah lagu yang paling menunjukan sisi manusiawi penulis, yakni tentang keserakahan dan juga sisi depresi dalam diri.
Kemudian masuk pada track terakhir yang berjudul “Under a Red Sky of Death”. Dari segi judul, mungkin ini adalah judul lagu paling puitis di EP Rebirth in Pain. Tapi jangan salah, isinya mengangkat isu yang lumayan sensitif yakni tentang masalah mental dan beberapa kejadian bunuh diri massal yang terjadi secara beruntun di kota Manado beberapa waktu silam.
Lagu ini menjadi pengingat untuk pendengar bahwa masalah mental bukan hanya sekadar candaan, masalah mental adalah sesuatu yang perlu diedukasi ke khalayak luas, terlebih ketika isu tersebut telah melebar sampai ke bahasan bunuh diri.
Kurang lebih itulah penjelasan singkat tentang isi materi EP Rebirth in Pain dari Exfetus. Total 4 track tersebut menjadi pembuktian, meskipun Exfetus bisa dibilang bukan band yang sudah lama terbentuk, namun mereka tetap menunjukan taji bahwa mereka mampu membawa semangat musik hardcore, terlebih dengan semangat DIY yang mereka tunjukan.
Dan pada akhirnya, sajian musik yang Exfetus bawakan adalah ibaratkan sebuah mesin waktu. Sebagian membawa nostalgia karena kental nuansa musik metalcore 2000an-nya, dan sebagian seakan menjadi representasi musik modern hardcore dengan intensitas padat dan petikan gitar melodis, atau lebih tepatnya representasi musik modern metallic hardcore.
Dan yang semenjak awal penulisan, saya sudah tekankan, Rebirth in Pain sangat sayang dilewatkan pecinta musik hardcore. Sebelum tulisan ini diakhiri ada sebuah sedikit bocoran informasi, kabarnya Exfetus saat ini sedang fokus dalam meramu sesuatu yang akan segera dirilis jika tidak ada halangan berarti, kita doakan saja semoga hal tersebut cepat terealisasikan secara lancar.
Itulah dia rangkuman tentang sedikit ulasan EP Rebirth in Pain dari Exfetus. Untuk teman-teman yang ingin bertegur sapa dengan Exfetus.


