9 Maret 2024, Varg Vikernes, pria dibalik musik black metal Burzum, merilis buku yang berjudul To Hell & Back Again: Part III: My Prison Story. Buku tersebut berisi perjalanan Varg selama dia 15 tahun mendekam di penjara. Bercerita tentang hari-hari yang dilewatinya. Mulai dari kegelapan yang mengikat hingga cahaya terang yang pada akhirnya datang.
Pria kelahiran 1973 tersebut terlihat jenius dalam buku yang dikarangnya. Asam garam kehidupan yang dia jalani selama di sana, berhasil diselesaikan dengan tuntas bukan malah tanpa harapan. Ini yang membuat saya menulis judul The Black Metal Prodigy, karena hal tersebut tidak mudah dijalani. Pria muda nan tampan bernama varg Vikernes itu membuat saya terkagum ketika membacanya.
Menolak Bunuh Diri
Kehidupan penjara yang keras bukan tanpa alasan menjadikan sebagian orang tempat tersebut sebagai pemberhentian terakhir. Mulai dari teman, sipir, hingga kepala penjara semuanya sama saja, sama-sama menjijikan. Tindak kriminalitas kasus masing-masing tahanan dan sipir penjara yang sok keras semua itu membuat perasaan tidak betah.
Varg yang berusia sekitar 20-21 tahun pada saat itu, merasakan nasib yang sama. Ruang tahanan yang sempit, teman tahanan yang berbeda negara, ruang isolasi mandiri menjadi saksi dirinya selama mendekam di sel. Faktor tersebut yang dikiranya menjadi sinyal bagi rekan tahanannya untuk mengakhiri hidupnya. Ia yang beberapa kali mendekam di penjara yang berbeda, Oslo, Bergen dan lainnya, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perihal fenomena tersebut.
Menurut Varg, faktor di atas menyebabkan para rekan tahanannya depresi, stress dan kalang kabut. Itu semua yang membuat hidup terasa tidak nyaman dan tidak bisa dinikmati. Namun, tidak dengan dirinya. Walaupun tidak sepenuhnya merasakan kenyamanan tapi Varg punya visi yang jelas di masa depan, yang akhirnya menghindarkan dirinya dari perbuatan tidak terpuji. Visi apa itu? Nanti akan saya jelaskan di sub-judul berikutnya. Varg mungkin menggenggam istilah let it flows di masa itu. Intinya visi merupakan sari dari suksesnya ia bertahan hidup.
“Siapa suruh punya CV tapi kaga punya visi,” ucap Abim a.k.a Noise from Under dalam lagunya bersama Laze, Veteran.
Varg Vikernes Lahap Banyak Buku

Apa Varg kenal Bung Hatta? Atau membaca otobiografinya? Nampaknya sih gitu! Sama seperti Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia, Varg juga menghabiskan banyak waktu dengan membaca buku di penjara. Mulai dari buku politik, sejarah, kebudayaan dan segala macamnya sudah dibaca. Itu yang mengilhami dirinya untuk menulis buku. Tumpukan pikiran yang menggerogoti isi kepalanya dituangkannya dalam tulisan.
Di dalam bukunya ada hal yang menarik yang diceritakan olehnya. Dia menolak untuk bekerja di penjara. Sistematika penjara yang berusaha menciptakan suasana penjara sama persis dengan keadaan di luar sana, dengan bekerja dan sebagainya, terlihat suatu program sia-sia di mata Varg.
Kerjaan sedaanya, walaupun pasti ada manfaatnya, dirasa tidak menguntungkan sama sekali. Lagi jika memang soft skill atau kemampuan bekerja itu didapat di penjara, lantas ketika sudah bebas, memangnya ada yang mau menerima seorang tahanan untuk bekerja di perusahaanya?
Dengan visi yang kuat dan tajam, oleh karena itu ia menolak bekerja semasa di penjara. Dirinya lebih suka menganggur, mengisi leisure time dengan membaca buku sebanyak mungkin. Sampai saat ini, ia sudah menulis lebih dari lima buku. Buku ini sendiri memiliki tiga bagian.
Buku yang pertama bercerita perihal perkenalannya dengan musik black metal, yang kedua mengenai masa kecilnya dan ketiga, yang ini, bercerita pengalamanya ketika di penjara. Buku dengan judul Vargsmal sendiri ditulis ketika ia mendekam di penjara, 1994, yang mana usianya baru berumur 21 tahun.
Bikin Album
Ya, Varg berhasil menciptakan satu album semasa kurungannya di penjara. Album tersebut adalah Dauði Baldrs. Album yang menceritakan tentang kematian Baldrs, dewa dari norse mythology. Terdapat enam lagu tanpa vokal yang dihadirkan pada album tersebut. Berbeda dengan album-album sebelumnya, gitar cadas dan vokal scream, di sini ia hanya bermain dengan menggunakan ntah keyboard atau pun MIDI.
Album ke lima dari Burzum ini dirilis di tahun 1997. Ada yang menarik dalam proses penciptaan album tersebut. Pada masa itu, ntah sekarang masih atau tidak, para tahanan dilarang untuk menggunakan alat telekomunikasi apa pun. Baik gawai atau pun komputer. Mereka totally terisolasi dari dunia luar.
Sempat beberapa kali Varg meminta untuk dihadirkan komputer dan keyboard di dalam selnya, namun hal itu sia-sia. Semua permintaanya itu ditolak. Itu lah sebabnya dirinya lebih senang ke perpustakaan penjara guna membaca buku.
Namun, di suatu saat permintaanya dituruti. Varg Vikernes yang dicap sebagai anak baik-baik di masa tahanan, rasanya meluluhkan hati sipir penjara untuk sesekali mengabulkan permintaan anak muda tersebut. Perilaku dan karakter sopan yang dimiliki juga merupakan trik dirinya untuk memperpendek masa tahanan. Namun, hal itu tidak terjadi.
Alat musik yang berbaring di selnya, langsung saja digunakan untuk mengisi hari-harinya ketika di penjara. Album Dauði Baldrs itu adalah hasilnya. Album yang bagi penikmat musik dijuluki dengan genre dungeon synth.
Membuat Game RPG
Varg Vikernes mengakui dirinya adalah seorang gamer. Dia sering bermain RPG guna menghabiskan waktu luang. Namun, ketika di penjara karena kasus pembunuhan gitaris dan pioner Mayhem, Øystein Aarseth yang memiliki pseudonim Euronymous, dirinya tidak dapat melanggengkan aktivitas tersebut. Burzum sendiri, terinspirasi banyak dari game RPG, role playing games.
“Permainan-permainan ini tidak hanya mempengaruhi mood, tema dan lirik, tapi juga membantu saya membentuk dan mengembangkan permainan RPG ciptaan sendiri, yang mana saya gunakan segala macam pengalaman dengan permainan tersebut guna merangkai permainan yang sempurna untuk saya,” ucap Varg dilansir Ultimate Guitar, 27 Januari 2017.
Bacaan yang Varg Vikernes punya, mulai dari sejarah hingga mitologi Nordik, menjadi landasan lahirnya game buatannya yang diberi nama MYFAROG (Mythic-Role Playing Game). Struktur dan buah imajinasi permainan yang diciptakannya semasa di penjara menciptakan game RPG yang sesuai dengan kriteria dan kemauannya. Kini MYFAROG sendiri sudah mencatatkan beberapa edisi. Rilisan terbaru adalah MYFAROG keluaran edisi tahun 2024.
