Bawa Kesegaran Musik Alternatif, Tiresome Rilis ‘Bleeder’ 

Imam Muharis 7 November 2024

Adalah Tiresome, unit alternative rock yang membawa kesegaran di skena permusikan Sulawesi Utara, khususnya Bolaang Mongondow Raya. Perkenalan awal saya dengan Tiresome sendiri adalah ketika saya mendatangi sebuah gigs penggalangan dana yang dilangsungkan oleh Easternmost di Kota Kotamobagu.

Pada waktu itu, penampilan Tiresome berhasil menghipnotis saya, bagi saya itu adalah sebuah pengalaman spiritual yang sangat berarti dalam hal menikmati musik, karena bagaimana tidak, sejujurnya dengan segala keterbatasan saya, seingat saya ini adalah kali pertama saya menonton band alternatif yang memainkan musik dengan pendekatan post-hardcore yang cukup kental.

Tentang Tiresome

Tepat sehari setelah saya menonton Tiresome, sambil mendengarkan lagu-lagu mereka via aplikasi streaming musik, saya mencoba menghubungi salah satu personil mereka, berusaha berkenalan dan mencari tahu lebih dalam tentang Tiresome, karena sejujurnya juga saya penasaran dengan isi kepala mereka, para personil Tiresome. Maka pada waktu itu lewat aplikasi jejaring sosial saya menghubungi bung Firli Yogiteten yang akrab disapa Teten.

Saya bertanya seputar musik, profil Tiresome hingga beberapa hal yang sebenarnya tidak terlalu penting namun tetap saja secara spontan saya tanyakan. Bung Teten, yang mungkin sudah sangat berpengalaman menghadapi orang-orang kepo seperti saya, menjawab saya dengan begitu ramah dan santai.

Tiresome terbentuk pada awal tahun 2024, beranggotakan tiga kawan yang memiliki domisili yang berbeda-beda, mereka adalah Firli Yogiteten atau Teten pada vokal yang berdomisili di Bolaang Mongondow Timur, Aries Ishak yang merupakan gitaris berdomisili di Kota Gorontalo, dan Sadam Mamonto sang drummer yang meskipun merupakan warga Kota Kotamobagu, namun karena kesibukan pekerjaan dia harus menetap di Kota Manado.

Meskipun mereka berbeda domisili, hal tersebut tidak membatasi semangat mereka dalam berkarya, bahkan bisa dibilang proses penggarapan lebih cepat dari ekspektasi mereka.

Mereka bertiga menggarap materi hanya via whatsapp dan google meet. Mulai dari penggarapan riff dan pattern drum oleh Aries, pemilihan notasi vokal dan penulisan lirik oleh Teten, kemudian penyempurnaan kembali pattern drumnya oleh Sadam. Siapa sangka dengan keterbatasan tersebut, mereka menghasilkan materi lagu hanya dengan waktu satu atau dua hari saja.

tiresome

“Bikin band itu mirip nyari jodoh ternyata. Kadang, yang deket dan sering nongkrong, ternyata gak sinkron. Sesederhana itu. Malahan yang jauhan bisa lebih klop,” tutur Teten.

Mereka memilih nama Tiresome untuk projek musik ini, mulanya tanpa artian khusus.

“Sebatas ingin punya nama yang terkesan simple dan mudah diingat—a la band indie rock/alternative 90-an yang kesannya tidak sok keren atau sok njelimet”.

Kebetulan juga waktu itu, mereka sering mendengarkan lagu-lagu dari Drug Church pada album Hygiene dan di album tersebut ada sebuah lagu berjudul Tiresome, lalu dipilihlah lagu itu menjadi nama band mereka. Sebenarnya sebelum band ini sah menjadi Tiresome, mereka sempat ingin memakai nama Corkscrew, namun ternyata sudah ada beberapa band yang menggunakan nama itu, jadi mereka memilih menggunakan Corkscrew menjadi nama sebuah lagu dari EP mereka.

Makin kemari, mereka bertiga merasa nama Tiresome sendiri makin klop dengan materi-materi yang mereka buat, dengan lirik mengenai keresahan dan kebosanan mereka sebagai kelas pekerja dengan segala kesibukan, juga segala tetek bengek drama di tempat kerja. Semua itu semakin diperkuat dengan artwork untuk maxi-single Lethargica//Corkscrew: gambaran seorang pekerja kantor yang lemas menunggu jam pulang.

Satu keunikan yang tidak bisa begitu saja saya lewatkan adalah, Teten, Aries dan Sadam merupakan para individu yang memiliki latar belakang bermusik yang lumayan berbeda. Bagi yang sudah mengenal Teten, mungkin tahu kecintaannya pada black metal dan progressive rock. Sedangkan Aries cenderung menyukai musik pop punk, hardcore dan alternative. Sementara Sadam sendiri banyak terpengaruh musik punk.

Namun, perbedaan itu tidak menjadi masalah. Karena bagi mereka, kompromi sesungguhnya adalah bagaimana mereka menaruh kehidupan bermusik dalam kehidupan personal. Mereka bertiga yang merupakan pekerja dan notabene sudah berkeluarga, harus bersiasat untuk manggung dan rekaman. Tapi kembali lagi, berbagai perbedaan juga kesamaan itulah yang akhirnya mengikat mereka.

Mereka bersama-sama mencari katarsis di luar pekerjaan sehingga terbentuklah Tiresome, band yang mengutip Teten, terdiri dari “bapak-bapak kantoran”. Sehingga, proses penggarapan karya mereka bisa dibilang lebih matang, dan tidak tergesek dengan benturan idealis kecil atau masalah-masalah teknis yang kiranya tidak perlu dibesarkan.

Atau dalam artian, mereka sudah tahu mereka harus ke mana, apa yang harus mereka buat, dan kira-kira musik apa yang masih jarang dimainkan di skena lokal, tapi tentunya dengan tetap merespon apa yang digemari oleh banyak orang. Tentunya itu semua tidak mengabaikan preferensi masing-masing, sehingga mereka tetap menjadi diri mereka sendiri dan bermusik dengan cara mereka sendiri.

Tentang EP Bleeder

tiresome

Tepat beberapa hari sebelum tanggal 18 Oktober 2024, sosial media saya diramaikan dengan postingan dari para personil Tiresome, tentang perilisan EP perdana Tiresome yang dijadwalkan pada tangga 18 Oktober 2024. Selain senang, tentunya saya tidak sabar untuk mendengarkan keluh kesah Tiresome tentang dunia pekerjaan yang sangat menyibukan.

Tepat pukul 16.00 WITA, saya yang awalnya kelupaan, baru saja teringat bahwa hari itu adalah hari perilisan EP perdana Tiresome. Saya yang dasarnya sudah kepalang penasaran dan tidak sabar, langsung mencari sosial media official Tiresome. Dan benar EP dengan total 4 track sudah resmi mereka rilis di layanan streaming musik legal seperti Apple Music, Youtube Music, Spotify, hingga Bandcamp. EP terbaru mereka sendiri mereka beri nama Bleeder.

Dengan tidak berlama-lama, saya langsung mencoba mendengarkan EP Bleeder dari Tiresome dari track awal hingga trek terakhir. Kesan pertama yang saya dapatkan ketika mendengar track by track EP Bleeder dari Tiresome, jika dianalogikan sebagai perjalanan seharian dalam dunia pekerjaan, musik Tiresome di EP Bleeder, dari trek pertama hingga akhir adalah ibaratkan kita yang mau berangkat bekerja sampai pulang bekerja.

Jadi trek satu itu bagaimana kita bersiap-siap, kemudian berkelut dengan perjalanan yang dihiasi dengan macet, entah masalah apa yang tiba-tiba ada di perjalanan, kemudian dilanjutkan dengan kesibukan bekerja di kantor yang pas tergambarkan dengan musik yang disuguhkan trek kedua dan ketiga, lalu ditutup dengan trek  keempat yang syahdu yang bisa menjadi gambaran orang yang senang dan tenang karena sudah melewati kesibukan sehari bekerja. Mungkin, itulah perasaan yang saya rasakan ketikan mendengarkan EP Bleeder dari Tiresome.

EP Bleeder, sama seperti maxi single mereka sebelumnya, dikerjakan secara daring, seperti yang telah saya tuliskan di atas sebelumnya, domisili dan juga kesibukan menjadi salah satu faktor yang membuat mereka tidak bisa berkumpul rutin dan intens setiap waktu, sehingga EP ini mereka garap di beberapa tempat berbeda.

Untuk perekaman gitar, mereka lalukan di Howl’s Co-Space, sedangkan untuk rekaman drum dan vokal, dilakukan di Alterego Studio yang beralamat di Kota Bitung. Tiresome dibantu oleh salah seorang musisi Manado dalam hal mastering dan mixing EP Bleeder, dia adalah Firman Pakaya.

Untuk penulisan lirik, seluruh track ditulis oleh Teten, kemudian bahasannya sendiri tidak lari jauh seperti bahasan yang ada pada maxi single sebelumnya dari Tiresome yaitu Lethargica dan Corkscrew, mulai tentang bahasan rasa jenuh akan dunia pekerjaan khususnya dunia kantoran, bagaimana harus mengorbankan impian dan juga keinginan karena kesibukan dunia kerja, bagaimana kita harus pandai memakai topeng drama, memaksa diri kita seakan sedang baik-baik saja, padahal sedang sebaliknya. Hingga bahasan tentang bagaimana keinginan mereka untuk melarikan diri atau mencari pelarian karena kesibukan di dunia kerja tersebut.

Untuk artwork dari Bleeder sendiri, dikerjakan oleh salah seorang seniman visual asal Surabaya bernama Djoko Iksan. Penggambaran darinya tentang artwork Bleeder sendiri seakan lebih mempertegas, bagaimana kesuraman dan realita bekerja di kantor yang tidak selamanya seindah apa yang digambarkan media atau khalayak publik.

EP Bleeder dibuka dengan track pertama berjudul Come Asthray, sebuah track pembuka yang sangat grungy, sebuah track yang asik didengarkan dan dipakai untuk berdansa ria di arena moshing, vokal dari Teten disini sangat mengingatkan saya dengan para vokalis band-band Seattle Sound 90an.

Kemudian Bleeder dilanjutkan dengan track berjudul Once Upon a Man. Track ini sendiri pasti akan sangat disukai oleh para peicnta musik Emo, Post Hardcore, yang setidaknya akan membuat kita mengingat masa keemasan musik emo di awal 2000an. Mengingatkan kita pada band-band sekelas Hum, Nothing, Basement hingga Superheaven.

Lalu Bleeder dilanjutkan dengan track berjudul Jubilee yang seingat saya, Jubilee adalah nama seorang superhero dari jagad dunia Marvel Cinematic. Jika track pertama sangat grungy, track kedua sangat terasa kesan Emo dan Post Hardcorenya, maka track 3 adalah gabungan unsur musik dari track pertama dan kedua. Pada track ini, Tiresome dibantu oleh saya seorang musisi wanita bernama Novela untuk backing vokal.

Untuk track terakhir EP Bleeder berjudul Another Day, track penutup ini menjadi sebuah penutup mini album yang sangat pas bagi pendengaran saya pribadi. Track ini terasa agak dreamy, sedikit dibumbui unsur musik shoegaze, namun tidak berlebihan, sehingga mungkin lebih tepat disebut sebagai track dengan warna musik Emogaze, musik yang tepat didengarkan ketika sedang menikmati perjalanan pulang dari kantor, semacam musik tepat untuk melepas penat. Overall, Bleeder menjadi sebuah EP yang sangat sayang dilewatkan para pecinta musik, terlebih pecinta musik yang biasa mendengarkan musik alternative/emo/post-hardcore/grunge era akhir 90an, atau awal 2000an.

Itulah dia sedikit informasi dari saya tentang salah satu band Bolaang Mongondow/Kota Kotamobagu, yang tidak boleh dilewatkan para pecinta musik, terlebih untuk rilisan EP perdana mereka yang berjudul Bleeder. Untuk yang penasaran dengan EP Bleeder silahkan klik tautan ini.

Untuk siapapun yang ingin tahu dengan Tiresome lebih dekat, ingin bekerja sama atau sekadar berkenalan, bisa langsung hubungi Instagram Tiresome.

Sebelum saya menutup tulisan ini ada satu hal yang paling mengena bagi saya yaitu kata-kata Teten tentang gol artistik dari Tiresome. Menurutnya, sejauh apapun mereka menarik referensi dalam bermusik, eksekusinya harus catchy.

“Referensi musik itu bisa diulik, tapi bisa membuat musik yang catchy, itulah tantangannya.” imbuh Teten.

Ohh iya, saya hampir lupa kabarnya pasca perilisan Bleeder, Tiresome akan melakukan tour di Pulau Jawa. Kita doakan semoga semua keinginan dan misi Tiresome kedepannya lancar jaya dan tidak ada halangan sedikitpun. Overall, tetap support skena permusikan lokal dan tetap jaga kesehatan!

Imam Muharis

Seorang pengelana yang menapaki jalan spiritual dalam dunia musik, khususnya musik yang kelam dan gelap. Sapa di facebook Imam Muharis Kastoredjo

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait