Bagaimana Busar Merespon Kekerasan Melalui Beneath the Soil

Delta Nishfu 17 Februari 2024

Setiap individu memiliki otonomi atau kuasa diri sendiri. Maka, perampasan atas otonomi individu lain tak diperkenankan. Begitulah Busar bersuara.

Band Hardcore Punk asal Kota Batu, Busar, merilis EP anyar setelah sebelumnya melahirkan single berjudul “Self Autonomy”. EP bertajuk Beneath the Soil itu berisi empat materi yang dirilis sejak 10 Desember 2023 di Bandcamp. Beneath the Soil menjadi bentuk bagaimana Busar merespon peristiwa-peristiwa kekerasan di sekitarnya.

EP Beneath the Soil dibuka dengan “Go” yang mengajak pendengar masuk lebih meresapi hantaman dari lirik-lirik tajam dan gelap EP ini. Kemudian dilanjut dengan “Beneath the Soil”, “How Violence Evolves”, dan ditutup dengan “Hipperreality”

Lagunya Adalah Bentuk Respon Atas Kekerasan

Dalam penggarapan EP Beneath the Soil, Busar diisi oleh Danu sebagai (vocal), Kaped (drum), Iyan (guitar) dan Samid (bass). Melalui EP ini, Busar berusaha merespon suara-suara dari bawah tanah yang menurutnya saat ini berada dalam ancaman berbagai kekerasan. 

Danu, vokalis sekaligus penulis lirik Beneath the Soil, mengungkap inspirasi Busar mengangkat keresahan tersebut ke dalam mini albumnya. Ia mengatakan keresahan itu berasal dari hal-hal di sekitarnya. Para personil Busar pun sepakat, kekerasan memang dekat dengan mereka dan lumrah dipertontonkan.

“Karena kan ada banyak kasus bagaimana individu-individu itu berada dalam ancaman, ya, apapun itu. Seolah-olah Busar itu mau ngomong di mana dunia semakin gelap semakin terpuruk yang semakin kalah, kayak ingin ngomong lewat mini album ini,” kata Danu.

Danu mengatakan, intisari dari seluruh EP Beneath the Soil masih berkaitan dengan single sebelumnya, “Self Autonomy”. Lagu yang dirilis Mei 2023 lalu itu menyuarakan bahwa setiap individu memiliki otonomi atau kuasa diri sendiri. Maka, perampasan atas otonomi individu lain tak diperkenankan. Begitulah Busar bersuara.

Kekerasan Itu Terjadi Di Sekitarnya

Busar
Cover Beneath the Soil

Kembali soal Beneath the Soil, kekerasan yang marak terjadi di sekitar Busar lahir, membuatnya resah dan harus bersuara soal itu melalui musik. Danu mencontohkan satu peristiwa kelam yang terjadi di dekat Kota Batu, Tragedi Kanjuruhan misalnya. Di mana banyak individu-individu yang mengalami kekerasan bahkan dalam proses pengusutan Tragedi Kanjuruhan. 

Meski tak secara eksplisit menggambarkan peristiwa tersebut, Busar lebih membuat lirik-liriknya universal, melihat ancaman-ancaman kekerasan juga terjadi di mana-mana. Bahkan di Kota Batu sendiri mengalami ancaman perampasan ruang hidup. Seperti ketika pembangunan sektor pariwisata yang semakin berkembang juga berdampak pada keberlangsungan hidup masyarakat Kota Batu.

“Yang paling penting kita ya mau menyuarakan hal yang dekat. Ternyata kekerasan itu semakin dekat dan semakin lumrah, semakin murah untuk ditonton,” jelasnya.

Busar sangat dibuat resah ketika melihat kekerasan semakin lumrah. Kekerasan yang dimaksud bukan hanya soal kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan lembaga melalui sistem-sistem  kebijakan yang dampak kekerasannya tak disadari. 

“Misalnya undang-undang dalam berkeyakinan dan sebagainya. Itu kan bagi beberapa orang ga dalam bentuk kekerasan, artinya non fisik. Tapi dampak yang dirasa oleh mereka ketika kebijakan itu diluncurkan, mereka-mereka yang terdampak menerima persekusi. Ya, [kekerasan] sistemik itu lah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Busar melalui EP nya ini ingin mengatakan bahwa sejatinya kekerasan semakin lumrah terjadi dan murah dipertontonkan. 

“Kekerasan semakin lumrah, semakin murah untuk ditonton, dan sebaik-baiknya sehormat-hormatnya, kita nggak berada di bagian mereka. Kalau bisa hantam. Hantaman itu bisa melalui bunyi, gerak, teks. Dan barangkali busar meresponnya itu lewat bunyi,” tandasnya.

Kini, seluruh materi dalam Beneath the Soil sudah bisa didengarkan melalui berbagai platform musik digital seperti Spotify, Youtube Music, Apple Music dan Deezer. 

Delta Nishfu

Lahir di Blitar, tumbuh di Malang. Gemar membaca sastra dan karya-karya jurnalistik. Selain itu juga sedang fokus belajar mendalami isu-isu lingkungan, seni, dan budaya.

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait