Musik Metal Dan Kesehatan Mental

stevanpontoh 15 Oktober 2023

Yang sangat saya sayangkan adalah kedangkalan berpikir kebanyakan orang dalam menanggapi kasus-kasus terkait dengan bunuh diri, karena ketimbang menyarankan solusi yang baik seperti diberikannya akses dan informasi terkait kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri, orang malah mengaitkannya dengan tren musik tertentu dan lebih jauh menyarankan sesuatu yang tidak bermanfaat

Beberapa hari ini, media sosial saya diwarnai dengan tanggapan netizen khususnya para metalheads yang mengomentari kasus-kasus bunuh diri yang terjadi di berbagai kampus akhir-akhir ini. Teman-teman bahkan mengaitkannya dengan tren mendengarkan musik cengeng dan menyarankan agar sudah seharusnya anak-anak muda mengganti playlist lagu mereka dengan musik yang bersemangat seperti metal dan hardcore.

Saya sebenarnya cukup kecewa dengan tanggapan seperti ini ya, sebab kebanyakan dari kasus-kasus di kampus tersebut terjadi karena latar belakang tekanan sosial dan ekonomi. Ini berarti masalah sebenarnya adalah lebih kompleks sehingga “mengganti playlist” dengan alasan kesehatan mental bukan solusi yang tepat sasaran, karena problem sebenarnya terkait dengan tekanan sosial bahkan kesenjangan sosial yang merupakan salah satu teori faktor resiko bunuh diri yang akan saya jabarkan di bawah ini.

Berdasarkan Riset Psikologi

Sebuah studi tahun 2019 yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology of Music menggunakan hampir 90 ribu partisipan untuk meneliti dan 2.000 di antara peserta mengaku musik metal sangat membantu mereka mengurangi stres karena pernah mengalami kecemasan sosial.

Jenis musik ini juga sudah terbukti dapat digunakan sebagai bentuk terapi pasca trauma, meskipun ini masih merupakan topik penelitian yang sedang berkembang. Salah satu alasan mengapa musik heavy metal mungkin bermanfaat dalam terapi pasca trauma adalah karena musik ini dapat memberikan pengalaman yang kuat dan emosional.

Pendengar metal cenderung memiliki ketahanan mental yang lebih baik karena dapat mengatasi emosi yang intens dan melibatkan diri dalam komunitas musik yang positif. Lalu apakah bisa disimpulkan bahwa pendengar non-metal berarti lebih lemah dari segi ketahanan mental? Tentu tidak. Pemikiran seperti ini sudah tentu dikotomi palsu ya, di mana kita menarik kesimpulan berdasarkan hitam dan putih saja.

Ada banyak faktor yang bisa membuat seseorang punya ketahanan mental yang kuat dan bukan hanya didapat dari mendengarkan musik saja. Olahraga dan berbagai kegiatan kreatif lainnya juga dapat membangun pengendalian emosi, serta ketahanan dan kesehatan mental.

Kesehatan Mental Bukan Satu-Satunya Pemicu Tindakan Bunuh Diri

Emile Durkheim, pakar fenomena bunuh diri.
Sumber foto: Kompas.com

Ada banyak teori yang dilakukan para ahli untuk mengkaji faktor-faktor penyebab bunuh diri dan kesehatan mental bukan satu-satunya pemicu. Teori klasik (misalnya, Durkheim, Baumeister, dan Shneidman) menekankan bahwa isolasi sosial dan tekanan terhadap status sosial dapat mengarah pada ide dan perilaku bunuh diri.

Lalu teori terbaru (misalnya yang dikemukakan Miller dan Prinstein) menyatakan bahwa bunuh diri remaja disebabkan oleh kegagalan respons biologis terhadap stres akut. Menurut teori ini, remaja yang berisiko untuk bunuh diri mengalami respon biologis yang maladaptif terhadap stresor yang meningkatkan risiko untuk ide dan perilaku bunuh diri. Bila secara biologis sudah maladaptif begini, diperdengarkan musik apapun juga sudah tidak akan berhasil mengurungkan resiko bunuh diri, karena di kasus demikian, ini tidak ada korelasinya dengan suasana hati.

Korelasi Antara Bunuh Diri Dan Tren Musik Cengeng

Apakah benar musik yang kita dengar dapat memicu tindakan bunuh diri? Kita sudah tahu bahwa pemicu tindakan bunuh diri tidak hanya persoalan kesehatan mental saja namun situasi dan tekanan sosial juga memberi peran penting. Jadi jawabannya seharusnya relatif ya.

Masih ingat mitos lagu bunuh diri Gloomy Sunday? Lagu yang di tulis oleh Reszo Seress pada 1933 ini sering disebut juga dengan Hungarian Suicide Song. Ada urban legend yang menyatakan bahwa lagu ini membuat banyak orang berkeinginan untuk bunuh diri.

Di tahun 1930-an diperkirakan ada sekitar 19 kejadian bunuh diri yang diakibatkan oleh lagu ini, terutama di Hungaria. Namun, data ini tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Tidak ada data yang benar-benar mengaitkan antara kejadian bunuh diri itu dengan lagu Gloomy Sunday. Apalagi waktu itu, keadaan ekonomi di Hungaria sedang tidak baik-baik saja karena krisis ekonomi.

Kita yang sedang tidak mengalami krisis apa-apa pasti menganggap lagu tersebut biasa saja, namun bisa kita bayangkan bila pemberitaan media tentang lagu tersebut di misrepresentasikan seolah-olah menjadi karya penuntun tindakan bunuh diri, ini dapat menjadi pemicu yang sebenarnya menyebabkan ideasi bunuh diri terjadi apalagi di tengah krisis yang dialami negara tersebut kala itu.

Pemberitaan akan urban legend tersebut juga bisa menjadi penyebab orang-orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri itu justru meniru metode bunuh diri sebelumnya (copycat suicide). Ini dikarenakan penularan bunuh diri (suicide contagion) dapat terjadi ketika pemberitaan bunuh diri disajikan dengan cara yang tidak tepat, sehingga mendorong tindakan bunuh diri yang lain. Sehingga, kaitan lagu Gloomy Sunday yang diikuti oleh maraknya kasus bunuh diri di Hungaria tersebut dapat disimpulkan tidak secara langsung berkaitan.

Musik sejatinya bisa menjadi media bagi apapun, pesan-pesan yang disampaikan oleh musik sangat subjektif terhadap para pendengarnya sehingga faktor kecerdasan emosional dan pengendalian amarah juga memberi pengaruh bagi cara seseorang menyerap musik. Ini terbukti karena teori-teori awal tentang kajian bunuh diri mencatat bahwa pemikiran yang kaku dan terdistorsi membuat individu memandang bunuh diri sebagai pilihan yang rasional.

Lemahnya Asumsi Musik Berpengaruh Pada Bunuh Diri

Saya tidak percaya bahwa musik dalam bentuk apapun dapat secara langsung memicu tindakan bunuh diri karena bunuh diri bukan perkara yang mudah. Tubuh kita dirancang untuk merespon adanya bahaya termasuk betapa menyakitkannya proses mengakhiri hidup sekalipun kita ingin.

Lagipula, ada sebagian orang yang tidak nyaman mendengarkan musik yang bising, dan justru menjadi tenang ketika mendengarkan musik yang halus. Ini persoalan selera. Seseorang bisa saja dalam keadaan berduka lalu mendengar lagu Gloomy Sunday namun setelahnya merasa lega karena beban emosionalnya terlampiaskan dalam melodi dan lagu tersebut.

Maka saya rasa, ini tergantung dari respon emosional dan kebijaksanaan setiap orang dalam menyerap sesuatu. Yang sangat saya sayangkan adalah kedangkalan berpikir kebanyakan orang dalam menanggapi kasus-kasus terkait dengan bunuh diri, karena ketimbang menyarankan solusi yang baik seperti diberikannya akses dan informasi terkait kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri, orang malah mengaitkannya dengan tren musik tertentu dan lebih jauh menyarankan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Stevan Pontoh

Penulis merupakan pengarang buku The Art of Destruction dan personil Northorn. Sapa dia di instagram @@stv_chada

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait