Review: Xerografi Semesta, Kebisingan Tanggung yang Tidak Merongrong

ugik 19 April 2023

Jimi Jazz, kelompok musik Jakarta yang mengaku sebagai band thrash metal, 12 April 2023 lalu merilis lagu Xerografi Semesta. Band ini adalah side project Jimi Multhazam, vokalis band The Upstairs dan Morfem. Seperti biasa, yang kita temui di karya-karya seorang Jimi Multhazam di band-band sebelumnya itu, Jimi selalu membuat lirik-lirik yang mampu menjerat sekaligus pikiran beserta emosi para pendengarnya.

Lirik-liriknya seputar apa yang dekat dengan kehidupan kita yang kontemporer memikat keterhubungan yang intim meskipun kita dan Jimi berbeda latar belakang dan tak memiliki kedekatan. Prosa yang dijadikan lirik di band The Upstairs dan Morfem menggunakan diksi-diksi yang jarang diucapkan oleh kebanyakan orang, memiliki kekayaan imajinasi dan terdengar seperti kata-kata motivasi yang menyelinap masuk ke dalam otak kita untuk meluruhkan endorfin dan memberikan pasokan semangat kita sebagai pendengar yang lelah dihajar kerjaan seharian.

Seorang Jimi yang terlihat punya kepribadian asyik dan suka menyapa orang-orang dengan sebutan “fren” ini emang orang yang cukup menginspirasi. Bahkan ia diulas di sebuah akun Youtube yang banyak memuat kisah tokoh-tokoh dunia, yakni TEDx Talks. bagi saya, ia pantas masuk di kanal itu, karena memang yang saya sampaikan di atas tentang The Upstairs dan Morfem, karyanya sangat memikat. Atau mungkin di luar itu, banyak dedikasi dan karya selain musik yang telah ditorehkan oleh Jimi Multhazam yang menjadikannya pantas berada TEDx Talks.

Namun di karyanya yang tertuang dalam Jimi Jazz, yakni di album “Kebisingan Pancaroba yang Merongrong”, pria kelahiran 1974 itu tampak berbeda dengan membuat dirinya terlihat jauh lebih agresif. Jimi Jazz mengusung genre thrash metal yang memang lebih cadas dari band Jimi lainnya. Liriknya pun (mungkin) seputar ingatan dia saat orde baru seperti “Ada Petrus Semalam”, yakni petrus adalah singkatan dari “penembakan misterius” yang diduga kuat dilakukan oleh pemerintah orde baru untuk menghabisi orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan negara. Lainnya lagu berjudul “Lebak Bulus 93” adalah nostalgia bahwa saat orde baru Indonesia pernah didatangi oleh raksasa metal Indonesia, Metallica di stadion Lebak Bulus di tahun 1993.

Album itu sangat klimaks sekali. Musik kencang, vokal yang berstamina, dan pukulan drum yang bertubi-tubi. Cukup mengagetkan, seorang Jimi yang puitis membuat karya seberingas itu.

Xerografi Semesta dan Yang Membuatnya Beda

Jimi Jazz
Sampul Xerografi Semesta

Tentang Xerografi Semesta, single yang baru dirilis itu, masih dengan karakter thrash yang tidak jauh dari album Kebisingan Pancaroba yang Merongrong. Namun agaknya, ada yang kurang di lagu itu. Pertama, tempo. Bagi yang sudah mendengarkan album pertama, seseorang akan berharap akan  mendapati lagu yang lebih nendang di karya yang akan datang. Di album pertama lagu tempo lebih cepat dan yang keren adalah suara gitar terdengar “kotor” ala thrash 80-an. Di Xerografi Semesta, temponya tak secepat album pertama. Selain itu suara gitar terdengar lebih tebal distorsinya (lebih modern).

Yang kontras lainnya adalah corak warna isian suara yang dinyanyikan oleh Jimi. Di Xerografi Semesta lagu ini terdengar kurang bersemangat. Jimi tidak semenjerit di album sebelumnya. Selain itu di awal lagu, tidak ada batas yang jelas antara musik intro dengan masuknya vokal Jimi. Kita yang baru mendengar masih dengerin intro eh tiba-tiba ada suara si Jimi, buru-buru masuk gak sih Fren?

Kalau soal lirik, udah top lah. Judul lagunya juga sangat keren, Xerografi Semesta. Isinya tentang kenangan era fotokopi yang hitam putih di jaman dulu. Jimi merekam sejarah dengan menciptakan lagu. Sejak awal kemunculan Jimi Jazz banyak mengangkat peristiwa-peristiwa lampau. Apa yang telah ditulis oleh Jimi, harusnya dijadikan referensi band-band lain dalam menyusun lirik yang bermakna. Karena mohon maaf nih, masih ada aja band yang menyusun lirik yang tidak bermakna. Ada juga yang bermakna, tapi pemilihan diksi yang tidak tepat dan terlalu dilebih-lebihkan itu malah bisa mengaburkan makna.

Perihal ulasan ini, tentu sangat subjektif. Apa yang saya lekatkan pada Xerografi Semesta berdasarkan kuping saya, belum tentu sesuai dengan kuping kebanyakan orang. Jadi maafkan kalau tidak sependapat dengan kuping-kuping lainnya.

 

 

 

Ugik Endarto

Penulis adalah pegiat di Akar Zine dan Perpustakaan Jalanan Wahana Baca. Sapa dia di instagram @ambivalensii

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait