Selama ini musik death metal selalu lekat dengan stereotip maskulin. Artinya, death metal hanya dianggap cocok bagi para pria untuk mengaktualisasikan diri sebagai pria sejati. Sering kita jumpai celetukan bahwa para metalhead anti ‘musik cengeng’. Sehingga persepsi umum yang terbentuk adalah penikmat death metal lebih cocok dengan laki-laki.
Namun stereotip itu haruslah dihapus, karena emang sudah gak jaman mengagungkan maskulinitas. Bahkan orang paling metal sekalipun seperti gitaris Slipknot, Jim roots, ngefans sama Ariana Grande yang lagunya banyak berbicara perihal kasih sayang, sebuah tema yang diharamkan dalam perbincangan maskulin. Selain itu grup metal asal Garut, Voice of Baceprot yang belakangan viral karena tur Eropa, seluruh personilnya perempuan. Jadi metal gak melulu pria.
Di Bandarlampung, Sumatera, juga ada band metal bernama Soul of Slamming, yang dua personilnya perempuan, yakni Popo Puji sebagai vokalis dan Malvi sebagai drummer. Lainnya personil laki-laki, Ricko sebagai gitaris dan Bobo sebagai bassis.

Malvi Akrab dengan Musik Metal Sejak Belia
Sang drummer, Malvi, menjelaskan kepada Metallagi bahwa selama ia menggeluti peran sebagai drummer metal, banyak orang yang mendukungnya, tidak melekatkan stigma buruk perihal gendernya.
“Orang di sekitar saya mendukung kegiatan saya. Kebetulan di lingkungan saya tidak ada (yang memandang negatif, red),” ujar Malvi.
Bagi Malvi musik itu selera. Entah laki-laki maupun perempuan, bebas memilih aliran musik yang disukai. Dan kebetulan perempuan berusia 21 tahun itu suka musik metal. Drummer favoritnya adalah Thomas Lang, dan Emmanuelle Caplette. pengakuannya, sejak kecil memang sudah mendengarkan musik cadas dan memulai memegang stik drum sejak usia 10 tahun.
“Karena belajar otodidak, kebetulan referensi dari orang tua itu metal. Selain itu, saya pernah nonton klinik drum extreme metal yang main Yogi drummer Asphyxiate (sekarang Viscral). Dari situ saya dapat dasar untuk bermain extreme metal,” ujar perempuan dengan nama lengkap Malviana Oktasari.

Awal Terbentuknya Soul of Slamming
Soul of Slamming dibentuk akhir tahun 2013. Yang menarik, Malvi dengan ayahnya sendiri adalah pendirinya, yakni Ricko. Kemudian mereka mengajak Tomi (vokal) dan Heru (bass). Di tahun 2016 album pertama mereka rilis dengan tajuk “Agresi Prematur”. Tiga tahun kemudian merilis album kedua, Rekonstruksi Dogma (2019). Tahun ini, mereka berencana merilis EP album.
Seperti nama bandnya, komposisi musik yang diusung adalah subgenre dari death metal, yakni slamming. Perihal lirik, Soul of Slamming banyak mengangkat tema sosial.
“Lirik bertemakan sosial dengan lingkup lingkungan sekitar skena kami, kadang dengan pemilihan diksi yang tersirat seperti perang, wabah, dan lain-lain kadang secara gamblang,” terang Malvi.
Kedepannya setelah rilis album mereka berencana tour di tahun 2023. Harapan Malvi untuk scene underground tanah air adalah ia ingin kualitas band-band semakin meningkat.
“Semoga tambah produktif, kualitas meningkat, band-band berkarya dengan maksimal tanpa banyak gimmick, dan penikmat lebih jujur dalam mengapresiasi karya,” pungkasnya.

Satu pemikiran pada “Malvi “Soul of Slamming” Drummer Perempuan Mendobrak Maskulinitas Death Metal”