Boleh Putar Pasuruan Resik, tapi Karya Musisi Lokal juga dong!

pasuruan resik

Sejak awal bulan bulan Juni hingga tulisan ini dibuat (21/06/22), lagu “Pasuruan Resik” yang diinisiasi pemerintah sering diputar di berbagai perempatan di Kota Pasuruan. Bukan tanpa alasan, mengutip siaran pers dari laman resmi Dinas Kominfo Kota Pasuruan, tujuannya adalah untuk memeriahkan gelaran MTQ ke-XXX di Kota Pasuruan.

Selain itu juga keinginannya sang Walikota, Gus Ipul, lagu itu bisa menginspirasi warga untuk menjaga kebersihan di Kota Pasuruan. Tentu, ini adalah tujuan yang bagus. Lagu ini cukup menjadi perbincangan yang menarik, sejauh saya singgah di berbagai warung-warung kopi sekitaran Pasuruan bertemu dengan banyak pegiat seni. Rata-rata orang yang saya temui, mengkritiknya. Saya pun demikian.

Yang enggak banget dari Lagu Pasuruan Resik

Terlepas dari tujuannya yang mulia itu namun (mungkin) yang tidak diketahui Gus Ipul adalah lagu Pasuruan Resik tidak “wow” jika bermaksud untuk didoktrinkan ke rakyat luas. Maap-maap nih, nuwunsewu meskipun diciptakan oleh musisi dangdut kawakan yakni Cak Sodiq Monata, bagi saya aransemen lagunya biasa saja, vokalnya biasa saja, hingga nada-nada juga begitu-begitu saja.

Tentu bikin suasana hati saya biasa-biasa saja juga (meskipun cenderung merasa kesal), hehe. Yang kedua, kualitas pengeras suara di perempatan cempreng Bruh!. Ini sih yang cukup megganggu pendengaran. Tapi bisa jadi ini apa settingan apa yah?

Maksud saya, terlepas dari nada yang biasa saja, justru pengeras suara yang cempreng itu agaknya memicu kita untuk memberi perhatian lebih demi menyimak lagu. Yang awalnya saya hanya mengernyitkan dahi karena lagu terdengar aneh, akhirnya kepo untuk tahu lebih dalam tentang makna dan susunan nadanya.

Jangan-jangan kualitas pengeras suara yang cempreng itu memang bagian dari strategi pemerintah agar pengendara membatin “Iki nada dan lirik e opo seh?”. Dan ini terbukti, akhirnya saya sepulang dari jalanan membuka Youtube untuk menjawab rasa penasaran yang mengganggu di kepala sepanjang perjalanan. “Oh jadi ini toh makna lagunya,” gumam saya.

Lagu ini hampir diputar di banyak lampu merah. Masalahnya adalah lampu merah di Pasuruan satu sama lain saling berdekatan. Bayangkan, saat di perempatan Purut, kamu kena lampu merah. Dua menit kemudian, kena lampu merah lagi di perempatan Kebonagung.

Alhasil kamu akan mendengarkan dua lagu absurd hasil olahan speaker yang tidak mumpuni itu dalam empat menit. Mungkin ini tidak terlalu mengganggu amat sih. Tapi bagaimana dengan para ojol dan kurir yang setiap hari menyusuri aspal? Semoga tidak bosan ya mereka.

Akan Lebih Keren Jika Yang Diputar Karya Musisi Lokal

Daripada memutar lagu itu saja, mending pemerintah memutar juga lagu-lagu musisi lokal (apa kabar pemenang lomba jingle Pasuruan 2021?). Musisi lokal di Pasuruan mungkin ada ratusan hingga ribuan karya yang telah diciptakan.

Akan terdengar lebih masuk akal jika lagu musisi lokal itu diperdengarkan. Itung-itung memberi wadah sekaligus beri perhatian khusus untuk musisi lokal, sebut saja karya musisi nasional almarhum Agus Muhadi, musisi lainnya Abnormal Streetrockers Unity; Berantai; Inidia; The Laksono; Silverzone, dan lain-lain.

Jika lagu-lagu tersebut diperdengarkan, ini bisa memperbaiki citra pemerintah yang menurut Kemendagri sebagai kota “kurang inovatif” Mei 2022 lalu. Apalagi citra Gedung kesenian Darmoyudo senilai 17 Miliar yang hampir sangat jarang digunakan untuk kegiatan seni. Gedung megah itu teronggok diam begitu saja, tanpa ada acara-acara seni. Paling digunakan pun hanya mengakomodir seni yang itu-itu saja, untuk acara pemerintah. Pertunjukan seni musik underground? Tiada harapan.

Andai lagu-lagu musisi lokal itu diperdengarkan secara bergantian, ini akan memacu para musisi lainnya untuk lebih giat berkarya. Selain itu juga bisa menyemarakkan kegiatan seni dan budaya yang ada di Pasuruan, sejalan dengan mimpi Gus Ipul di awal-awal kepemimpinannya ingin memajukan bidang itu. Kalau sudah bagus iklim dunia permusikan di Pasuruan, pasti keuntungan finansial yang didapat para musisi juga akan mengalir lancar, album laris-manis, audio streaming banyak pendengar, hingga job manggung semakin kencang memanggil para musisi.

Tulisan ini, bukan bermaksud menggurui. Apalah daya, saya hanya rakyat jelata yang punya uneg-uneg tentang kota yang saya cintai. Memang soal lagu enak atau tidaknya tergantung penilaian subjektif. Tergantung selera masing-masing. Jadi, tidak ada yang perlu dirisaukan tentang ocehan saya yang ngalor-ngidul ini. Tak masalah jika tulisan ini tak masuk di logika para pembaca sekalian. Tapi soal speaker perempatan yang cempreng tadi, saya rasa orang-orang Pasuruan sependapat dengan saya. Ada baiknya speaker-speaker itu diganti, misal nih, pakai JBL EON 612.

2 thoughts on “Boleh Putar Pasuruan Resik, tapi Karya Musisi Lokal juga dong!

  1. Sependapat sih speakernya kurang enak di dengar alhasil sering ngehindari lampu merah haha, tentang penggantian speaker nih ,mohon maap ye banyak yg ngeluh jalan yg berlobang aja belum selesai apalagi untuk urusan “speaker” , saya sih setuju kalo speaker di ganti dengan yg lebih enak di dengar ,

Tinggalkan Komentar ...

Baca Juga

Malvi “Soul of Slamming” Drummer Perempuan Mendobrak Maskulinitas Death Metal

Selama ini musik death metal selalu lekat dengan stereotip maskulin. Artinya, death metal hanya dianggap cocok bagi para pria untuk mengaktualisasikan diri sebagai pria sejati. Sering kita jumpai celetukan bahwa para metalhead anti ‘musik cengeng’. Sehingga persepsi umum yang terbentuk adalah penikmat death metal lebih cocok dengan laki-laki. Namun stereotip itu haruslah dihapus, karena emang […]

Yaya Helvete dan Visinya terhadap Musik Logam Hitam

Kali ini redaksi Metallagi Media berkesempatan berbincang dengan Yaya Helvete, beliau merupakan penabuh drum dibalik Neurotic of Gods, Spellforger, dan project black metal terbarunya, Arkaneian. Project-project terbaru beliau sangat disoroti karena memang secara konsep penuh dengan gebrakan baru dari segi sound dan aransemen musiknya. Karena secara tidak langsung, gebrakan itu punya pengaruh yang signifikan bagi […]