Slamming, Depresi Trap, dan Anime Di Lirik Lagu Hexakosioihexekontahexafobia

ugik 13 Maret 2026

Band slamming death metal asal Jawa Timur ini bereksperimen dengan melarutkan berbagai zat seperti hip-hop juga anime ke dalam tubuh mereka. 

Hexakosioihexekontahexafobia merilis single-nya pada 8 Februari 2026 dengan judul “Binding Vow”. Band slamming brutal death metal yang akrab disebut sebagai “Hexa” ini dalam liriknya dibentuk dari banyak unsur, mulai dari hip-hop hingga anime

Lirik lagu ini ditulis berdasarkan kehendak alter ego sang vokalis, Faisal Aditya. Unsur hip-hop yang dimasukkan yakni pakem penulisan lirik. Rima yang dibuat mempertimbangkan penggunaan konsonan yang terstruktur. Penuturan Faisal Aditya, ia terinspirasi oleh $uicideboy$.

“Memang nanti konsep EP mendatang saya buat part-part seperti $B. selain itu, cara penulisan tema dark dan depresi juga kami adopsi,” terang pria yang biasa disebut Contak itu.

Tema yang mereka usung terepresentasi dalam sampul artwork yang divisualisasikan oleh Sethis Artwork. Terdapat lima potongan tangan yang tertusuk tombak. Setiap tangan tersebut menunjukkan isyarat dalam american sign language yang membentuk huruf D-E-A-T-H yang berarti “mati”.

Sedangkan judul lagu “Binding Vow” yang berarti sumpah pengikat terinspirasi dari anime Jujutsu Kaisen. 

“Singkatnya di dunia Jujutsu, Binding Vow adalah perjanjian spiritual atau kontrak yang dibuat Shaman dengan dirinya sendiri atau orang lain untuk mendapatkan peningkatan teknik kutukan,” katanya.

Slamming Dengan Gempuran Konstan

Hexakosioihexekontahexafobia
Logo Band.

Bawaan yang sudah melekat pada masing-masing personil membuat Hexa menjadi band slamming yang mendatangkan petaka bagi kebosanan slamming pada umumnya. Geraman distorsi yang dibangun oleh Mahardika (gitaris) bertalu intens dengan pedal drum Edo yang bekerja layaknya piston. Ini menjadikan mereka berbeda dari band slamming yang lain. 

“sebenarnya slamming brutal death metal yang gak brutal amat dengan sentuhan sampling anime dan trap,” kata Contak. 

Band yang punya arti Phobia 666 ini merupakan side project musisi metal dari Pasuruan dan Malang yang terbentuk sejak tahun 2015. Dari Pasuruan adalah Faisal Aditya (vokalis Intracerebral Hemorrhage), sedangkan dari Malang yakni Edo Syahputra (drummer Malignant Infection, Tigris), dan Mahardika (gitaris Fvck Off, Tigris).

Perbedaan latar belakang dari masing-masing personil ini terus berupaya mereka rajut. Tidak mudah bagi para personil Hexa untuk selalu bertemu. Terkadang, Contak harus bolak-balik izin kerja untuk pergi ke Malang menemui personil yang lain. 

Hexa bukan sekadar band “eksperimental”—mereka adalah anomali yang menyegarkan. Kehadiran mereka membuktikan bahwa melampaui batas antar genre bisa terjadi di tangan musisi yang berani. Bagi para pendengar yang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar distorsi biasa, Hexa menawarkan sebuah pengalaman audio visual yang gelap, teknis, dan sangat adiktif. Mari kita tunggu langkah ekspansi domain mereka selanjutnya di kancah musik tanah air.

Hexakosioihexekontahexafobia
artwork Binding Vow.

Tautan:

Soundcloud: soundcloud.com/hexakosioihexekontahexafobia

Facebook: https://www.facebook.com/hexagore666/

Instagram: instagram.com/hexakosioihexekontahexafobia_

Ugik Endarto

Penulis adalah pegiat di Akar Zine dan Perpustakaan Jalanan Wahana Baca. Sapa dia di instagram @ambivalensii

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait