Gema Gergaji Beton Mengutuk Banjir Medan

ugik 9 Februari 2026

“Selama masih ada ketimpangan, penindasan, dan penderitaan yang dianggap biasa, Gergaji Beton akan terus menjadikannya bahan bakar karya – Deffinferno”

Sejak akhir tahun lalu hingga di bulan Februari ini, banyak wilayah di Indonesia alami banjir. Ini membuat geram band thrash metal asal Medan, Gergaji Beton, dan menyalurkan rasa frustasinya ke dalam lagu berjudul “Banjir Anjir” yang dirilis video liriknya pada 31 Januari 2026 di Youtube.

Mereka adalah korban banjir. Selain itu, aktivitas para personil sebagai relawan bersama Komunitas Metal Medan telah banyak memotret kesengsaraan yang terjadi di berbagai daerah, termasuk yang belakangan yang sering terekspos media, yakni Aceh. Mereka menyaksikan langsung betapa buruknya dampak banjir itu termasuk penanganan yang dilakukan pemerintah.

“Lagu ini tercipta karena kami terpukul dengan keadaan banjir di Sumatera dan Aceh,” kata sang gitaris, Deffinferno.

Ini adalah single pertama mereka, sebuah single yang akan menjadi cetak biru karakter, sikap, dan etos bermusik Gergaji Beton.

Mereka ke depannya tampak akan menjadikan band sebagai tempat melampiaskan kemarahan atas ketidakpuasan melihat fenomena sosial yang problematik. Ini dicurahkan oleh Deffinferno dalam wawancara dengan Metallagi.com.

“Tema sosial kami angkat karena itu adalah luka yang kamk lihat, rasakan, dan kami mengalaminya langsung sebagai survivor,” terang Deffinferno.

Bagi Gergaji Beton, musik ekstrim bukan sekadar kebisingan atau hiburan. Ini alat perlawanan dan catatan jujur tentang kehidupan yang juga banyak fakta ketidakadilan, penderitaan, kegagalan sistem, dan suara-suara yang sering diabaikan.

Karakter Musik Gergaji Beton

Gergaji Beton

Dilihat dari single “Banjir Anjir”, karakter musik yang mereka tawarkan terbilang cukup berani. Sound terdengar sengaja dibuat mentah dan kasar, untuk memberi kesan bahwa mereka adalah kelompok musik yang serius dalam protes-protesnya yang lugas.

Penulisan lirik, terbaca jauh dari majas sastrawi seperti pada karya seni umumnya. Mereka memilih diksi-diksi yang justru mudah untuk dicerna, seakan berceloteh kesal ke setiap orang yang ditemui. Mulai dari masyarakat yang suka buang sampah sembarangan hingga ke pemerintah yang lelet mengatasi bencana.

“Tidak ada romantisasi, tidak ada basa-basi—hanya kenyataan yang disampaikan apa adanya,” kata Deffinferno.

Meskipun demikian mentahnya, sound yang dicurahkan sangat solid dengan breakdown yang rapat dan presisi.

Melanjutkan Hidup Dari Mati Suri

Gergaji Beton

Memang Gergaji Beton baru punya satu single. Namun sebenarnya band inisudah terbentuk puluhan tahun lalu. Deffinferno mengatakan bahwa awal mula hanya sebatas band projekan yang dibentuk kisaran tahun 1998 oleh almarhum Ranto, pendiri band Muntah Kawat. Saat itu, band hanya  berjalan kurang lebih 2 tahun.

Kini Deffinferno yang juga personil Muntah Kawat, bersama kawan-kawan lainnya seperti Emil Djin (vokal) Chokay (drum) dan Valdys (bass) dari Integral. Kini mereka telah menyiapkan EP 5 lagu, salah satunya single Banjir Anjir.

 

 

Ugik Endarto

Penulis adalah pegiat di Akar Zine dan Perpustakaan Jalanan Wahana Baca. Sapa dia di instagram @ambivalensii

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait