Salah satu band yang tetap produktif merilis karya di skena permusikan bawah tanah Bolaang Mongondow Raya khususnya di Kota Kotamobagu, adalah unit hardcore Dilarang Berisik.
Dalam rangka memberikan sedikit bocoran untuk EP mereka yang akan dirilis mendatang, Dilarang Berisik merilis sebuah single perlawanan berjudul “Kami Takan Tunduk” lewat No Match Records pada tanggal 31 Juli 2025 silam. Single ini adalah merupakan sebuah materi yang nantinya akan menjadi bagian dari EP yang masih mereka rahasiakan judul dan tanggal perilisannya.
Sebelumnya, Dilarang Berisik telah merilis sebuah single berjudul “Silence”, yaitu sebuah lagu yang menyuarakan perlawanan terhadap sistem dan kritik terhadap sikap anti kritik dari pemerintah, yang terkadang tidak segan melakukan pembungkaman terhadap para aktivis yang menyuarakan keresahannya.
TENTANG DILARANG BERISIK
Dilarang Berisik dibentuk pada tahun 2019 di Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, oleh 4 orang sahabat sekompleks yang kebetulan memiliki hobi dan minat pada janis musik yang sama, yaitu hardcore, mereka adalah Buyung, Coan, Ryan, dan Adit. Memilih nama Dilarang Berisik sebagai sebuah sarkasme. Lingkungan yang belum sepenuhnya menerima musik yang mereka dengar dan mainkan membuat mereka memutuskan untuk menamakan band mereka Dilarang Berisik, yang padahal merupakan band yang notabene memainkan musik yang berisik.
TENTANG SINGLE KAMI TAKAN TUNDUK
Meneruskan perlawanan dari single pertama yang berjudul “Silence”, Dilarang Berisik merilis “Kami Takan Tunduk”, single ke-2 yang sekaligus menjadi bocoran materi dari EP yang akan segera dirilis nanti.
Penulisan lirik “Kami Takan Tunduk” dilakukan oleh Buyung Mamonto yang juga merupakan vokalis, kemudian eksekusi dari pembuatan musik dan finishing dilakukan bersama-sama di basecamp Dilarang Berisik. Untuk tracking-nya, dilakukan di Quantumlab milik Ebet yang juga salah satu musisi bawah tanah di Sulawesi Utara.
Lalu band ini bekerja sama dengan No Match Records yang berperan sebagai publisher dari single “Kami Takan Tunduk”. No Match Records sendiri menjadi sebuah nama yang sangat dikenal di skena permusikan bawah tanah Sulawesi Utara, karena menjadi salah satu wadah yang selalu sedia mensupport para talenta lokal khususnya para pelaku musik keras.
Jika pada single “Silence” mereka memberikan kritik tentang pemerintah yang terkesan anti kritik juga acap kali membungkam para kawan aktivis yang memberikan protes, maka “Kami Takan Tunduk” seakan menjadi lanjutan yang mana, dalam single ini bahasannya lebih menegaskan bahwa perlawanan itu tidak akan berhenti.
Dengan tensi musik yang cepat, layaknya band-band hardcore oldschool, seperti Biohazard, Serigala Malam, hingga Jeruji, lalu bagian vokal yang lantang, juga isi lirik tajam, seakan membuat kelompok musik ini menjelaskan sesuatu yang tak perlu lagi mereka ucapkan, seperti inilah musik hardcore, lugas, tegas, penuh kritik dan cepat.
Overall, lagu itu menjadi sebuah pemuas dahaga bagi teman-teman yang sudah tidak sabar menanti perilisan EP. Kita doakan saja, semoga perilisan dan juga penggarapan EP tidak terkendala sesuatu yang berarti.
Dan yang selalu saya tekankan, semoga perilisan karya seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan Dilarang Berisik ini menjadi sebuah pemantik untuk kawan seperjuangan lainnya untuk konsisten dan produktif dalam membuat sesuatu karya.

