Proyek Hip Hop RDG dari Kotamobagu Rilis ‘Public Enemy’

Imam Muharis 24 Juli 2025

Selama penindasan dari segala lini masih terjadi, musik hip-hop mereka tak akan pernah berhenti berdentum.

Rasa jenuh akan gambaran negeri yang sedang carut-marut, mulai dari kebijakan yang membingungkan, sistem pendidikan yang penuh tanda tanya, hingga gambaran pemerintahan yang terkesan tidak memihak rakyat, memantik RDG untuk lebih giat membuat rilisan.

Tepat pada tanggal 4 Juli kemarin, RDG merilis single terbaru bertajuk “Public Enemy”. Tanpa basa-basi panjang lebar, bagi teman-teman yang penasaran dengan rilisan ini silahkan klik link ini.

RDG memiliki dua arti dalam segi kapanjangan. Boleh diartikan sebagai Rumah Dinas Guru, tempat dimana RDG sering melakukan proses rekaman materi, atau Rap Distorsi Grow yang merupakan representasi musik yang dibawakan RDG.

RDG adalah proyek musik asal Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara yang menyuarakan keresahan dan protes sosial lewat musik dengan benang merah hip-hop yang kental nuansa old school, diramu dengan sedikit bumbu dan unsur musik modern juga hardcore, RDG resmi terbentuk pada akhir lebaran tahun 2024.

Sebelum merilis “Public Enemy”, kelompok musik ini telah merilis total 2 single yakni “Air Mata Tanah Syuhada” yang menyuarakan tentang genosida yang dilakukan oleh zionis terhadap Palestina, dan “Deforestasi” yang menyuarakan tentang protes terhadap penggusuran hutan dan tanah adat yang dilakukan secara masif hingga hari ini.

Bersama dengan “Public Enemy” yang baru saja dirilis, artinya RDG telah merilis tiga total materi single. Semua ini merupakan serangkaian bagian dari EP yang rencananya segera dirilis oleh RDG. Kita doakan saja semoga segala rencana dari RDG berjalan mulus tanpa ada kendala apapun yang berarti.

Tentang Single Terbaru RDG ‘Public Enemy’

“Public Enemy” menjadi judul konfrontatif yang sengaja dipilih oleh RDG untuk materi single ke-3 ini. Rasa muak, jenuh dan jengah akan kondisi politik dalam negeri menjadi isi materinya.

Dari sisi cover art, “Public Enemy” menggambarkan seseorang dengan seragam mewah, merepresentasikan seorang pejabat namun dengan mimik muka layaknya seorang Joker, yang kita ketahui sendiri dalam literatur komik Batman, Joker adalah seorang villain yang memiliki watak licik, seringkali menggunakan cara apapun demi mencapai tujuan dan kesenangannya sendiri, meskipun cara tersebut akan menelan banyak korban.

Satu gambaran satir dari band ini terhadap kaum atas yang sering menghalalkan segara cara, seperti menggonta-ganti kebijakan secara sepihak hanya demi kepentingan beberapa orang, dan tidak perduli dengan imbas negatifnya terhadap masyarakat luas.
“Public Enemy” diawali oleh pelafalan kata “public enemy” yang berulang, lalu dilanjutkan dengan rap yang terdengar tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat, sehingga membuat pelafalan diksinya terdengar jelas.

Lagi-lagi mungkin ini adalah cara dari RDG untuk mencakup pendengar lebih luas. Jika pada beberapa lagu sebelumnya RDG terdengar sangat kental unsur ‘hardcore‘ maka di “Public Enemy” RDG seakan lebih menunjukan sisi hip-hop. Kemudian part selanjutnya dilanjutkan dengan vocal layaknya orang yang sedang freestyle, yakni menambah speed pada pelafalan kata.

Lirik Pedas Penuh Kritik

Melanjutkan apa yang telah dimulai diawal, lagu dilanjutkan dengan lirik pedas penuh kritik dan mungkin saja akan membuat beberapa oknum ingin cepat-cepat menutup telinga. Beberapa bagian dari lirik menyiratkan tentang fenomena pendidikan di Indonesia, dan hal ini bukan hanya sekadar omong kosong untuk terlihat keren, karena para personil RDG melakukan aksi turun langsung ke lapangan untuk melihat fenomena yang akhirnya mereka tuangkan dalam lirik “Public Enemy”.

Beberapa hal yang menjadi sesuatu yang terdengar baru bagi RDG dalam single “Public Enemy” dibanding rilisan sebelumnya adalah musik pada beberapa part vokal yang terdengar lebih melodis dan tidak terlalu terdengar berdistorsi, mereka menambah instrumen berupa piano yang memperkaya warna musiknya.

Seperti yang saya tuliskan di atas, mungkin saja, ini adalah salah satu cara dari RDG untuk melepaskan label terlalu hardcore kepada mereka, karena kembali lagi, meskipun ada bumbu hardcore di beberapa rilisan sebelumnya, tetap saja musik yang mereka bawakan berada pada benang merah musik hip-hop.

Bagi saya pribadi ini seakan menjelaskan bahwa RDG adalah proyek musik yang tidak ingin terbayang-bayang oleh karakter dari para personil dari proyek musik mereka yang lain.

Overall, “Public Enemy” menjadi salah satu rilisan lokal Sulawesi Utara, Bolaang Mongondow Raya/Kota Kotamobagu yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Terlebih yang kita ketahui bersama, proyek musik hip-hop yang mencoba kembali ke akar atau bernuansa oldschool terbilang jarang ada di Bolaang Mongondow Raya/Kotamobagu.

“Public Enemy” menjadi pengingat bahwa saat ini sistem di Indonesia masih tidak baik-baik saja. Semoga saja apa yang mereka lakukan menjadi pemantik untuk teman-teman agar selalu semangat berkarya dan bersuara.

Dan yang terakhir, kepada Metallagi, RDG menitip pesan, “Selama penindasan dari segala lini masih terjadi, kami tak akan pernah berhenti bernyanyi.”

Imam Muharis

Seorang pengelana yang menapaki jalan spiritual dalam dunia musik, khususnya musik yang kelam dan gelap. Sapa di facebook Imam Muharis Kastoredjo

Tinggalkan komentar

Artikel Terkait