Belakangan jagat maya Indonesia ramai kembali dengan luapan para komentar warganet dibalik kesuksesan acara Deep Purple “World Tour 2023” di Edutorium UMS Solo pada 10 Maret lalu. Namun terdapat fakta yang sangat membagongkan. Pasalnya hal tersebut menuai kontroversi tentang sikap crew Deep Purple di atas panggung terhadap Rhoma Irama, sang raja dangdut Indonesia, terutama saat antusias penonton mulai pecah.
Bermula pada saat band pembuka Deep Purple yaitu Soneta membawakan secuil intro “Smoke on the Water” milik Deep Purple yang dikemas dengan epik ala dangdut sebelum masuknya lagu “Napsu serakah”. Di saat itulah salah satu crew Deep Purple langsung naik ke atas panggung dan berdiri tepat di depan vokalis Soneta, Rhoma Irama, dan meminta menghentikan show. Hal itu diduga karena Soneta dianggap melanggar ketentuan hak cipta.
Sangat disayangkan, kemungkinan security panggung kurang ketat dalam mengawasi panggung yang berdampak insiden sabotase kepada Rhoma Irama. Sebagai musisi/grup band yang mempunyai pengaruh besar terhadap Industri musik dangdut tanah air, mereka mengambil sikap profesionalitas di atas panggung untuk tetap melanjutkan laju musik hingga selesai dengan langsung masuk ke dalam lagu Napsu Serakah.
Setelah pertujukkan selesai, Rhoma Irama mengklarifikasi. Ia mengatakan Rhoma Irama sempat izin terlebih dahulu kepada pihak Deep Purple bahwa mereka akan membawakan part Smoke on the Water sebagai improvisasi lagu.
“Sebelumnya ok, sebelum pentas ok. Saya sudah konfirmasi dan nggak mau ada apa-apa. Tiba-tiba, accident lah,” kata Rhoma Irama dalam video yang diunggah DH Entertainment, Senin (13/3/2023).
Insiden tersebut mengantongi tragedi memalukan di atas panggung yang kedua kalinya di Indonesia, terutama pada helatan akbar yang turut menghadirkan band-band skala Internasional. Dan tragedi tersebut mengingatkan kita insiden pada tahun 2014 silam saat Power Metal di sabotase oleh Chuck Billy Vokalis Testament di atas panggung pada acara Kukar Rockin Fest.
Menyoal SOP Panggung
Banyak menyayangkan kenapa insiden tersebut bisa terjadi?, lantas seperti apa SOP event skala Internasional yang diterapkan di Indonesia? Semoga saja hal serupa tidak terulang kembali dan bisa menjadi PR bagi para penyelenggara event musik di Indonesia agar lebih tegas untuk memfilter player dan crew band yang tidak mempunyai kepentingan di area panggung, agar tidak mengganggu kehikmatan band-band yang lain saat tampil.
Salah satu contoh kinerja yang patut kita terapkan yakni event Bloodstock Open Air yang di adakan di Britania Raya, United Kingdom. Dilansir dari laman instagram @bloodstockopenair menayangkan kinerja dari security di atas panggung yang tegas dalam melakukan filterisasi terhadap Randy Blythe Vokalis Lamb Of God sebagai bentuk pengamanan yang ketat.
dari video, diketahui Randy Blythe sebagai penampil tidak diperbolehkan naik panggung karena tidak memakai kartu identitas. Mungkin saja security tersebut tidak kenal dengan sosok Randy Blythe atau memang security tersebut memang sedang fokus dengan tugasnya. Namun yang menjadi poin penting di sini adalah semua panitia acara harus fokus pada tugasmasing-masing. Dan yang sering terjadi di Indonesia adalah kelalaian security beserta panitia yang ikut ikutan nonton band-band yang tampil dan akhirnya tidak fokus dengan tugas mereka, entah itu di atas panggung atau di depan panggung.
