White Death melakukan atraksi penyembelihan domba di atas panggung. Bahkan Ozzy Osbourne juga pernah memakan kelelawar di atas panggung. Kenapa banyak seniman musik metal melakukan itu?
Peringatan (trigger warning): Tulisan ini mengandung konten eksplisit penyiksaan hewan yang dapat memicu perasaan tidak nyaman bagi pembaca. Kami menyarankan Anda tidak meneruskan membacanya jika mengalami kecemasan dan mempertimbangkan untuk meminta bantuan profesional.
***
Belakangan ini ramai dikalangan metalhead soal performa White Death di pagelaran Steelfest Open Air pada 18 Mei 2024. Hal ini menyangkut atraksi panggung mereka yang tendensinya dianggap melakukan animal cruelty (penyiksaan hewan) dengan penyembelihan domba di atas panggung, beberapa orang mengaitkannya dengan atraksi band-band black metal di Indonesia yang sebenarnya sudah lama melakukan penyembelihan hewan seperti ayam, kelinci, dan lain-lain dalam sejumlah atraksi mereka.
Teman-teman penikmat musik black metal pasti sudah pernah menonton video serupa, atau bahkan banyak pula yang sudah pernah menyaksikannya langsung. Hal seperti ini memang sering kita temukan dalam atraksi atraksi panggung band-band dengan subgenre black metal, sekalipun tidak menutup kemungkinan bahwa band-band dengan subgenre berbeda juga pernah melakukannya.
Yang bisa kita soroti sebenarnya adalah shock value (daya kejut) yang sering dijadikan alasan bagi praktik ini, karena praktik ini tidak bisa dibilang lumrah juga, tidak semua band raksasa black metal menyembelih langsung hewan secara hidup-hidup. Ada yang hanya membawa bangkai mereka (babi, kambing, burung gagak) tanpa perlu membunuh hewan tersebut secara langsung di depan penonton.
Penyiksaan hewan (animal cruelty) dengan aIasan kebebasan berkesenian memang cukup problematis, sebut saja band-band seperti Martyrdom dari Houston, Gorgoroth, hingga Watain yang merupakan deretan dari sejumlah list band black metal yang sempat mendapat kecaman dari para aktivis perlindungan hewan dan para vegan.
Kritik terhadap praktik ini didasarkan pada hak hak hewan, salah satunya adalah tentang bagaimana seharusnya mereka disembelih, dan alasan yang paling penting bagi aktivis perlindungan hewan adalah bahwa hewan tidak berada di planet ini untuk dijadikan hiburan manusia belaka. Penyembelihan hewan untuk alasan entertainment adalah hal yang keji, ini tentu berbeda dengan tujuan konsumsi.

Praktek semacam ini sebenarnya bukan karena para musisi itu adalah musisi black metal atau orang-orang yang benar-benar keji. Bisa saja ini karena band tersebut salah memilih shock value, apalagi sebenarnya sekarang sudah banyak alternatif yang bisa dijadikan figuran dekoratif dengan teknik dan efek teatrikal yang mampu menyerupai adegan brutal serupa. Atau bisa saja ini karena beberapa orang ingin mengikuti jejak Ozzy Osbourne yang pernah menggigit kepala kelelawar di Konser Black Sabbath pada tahun 1982.
Black metal di Indonesia sudah mulai berkembang dengan musikalitasnya. Tentu kita juga akan jarang menemukan band-band yang hanya menawarkan atraksi visual dengan praktek penyiksaan hewan ini. Kita juga pasti berharap sebelum memilih shocking value visualnya, band-band Indonesia akan berbondong-bondong mementingkan musikalitas mereka terlebih dahulu.
(photo credit: Wikipedia, Watain)
