Album Baru SLAVEGOD, ‘Disbelief’, Terinspirasi Peristiwa Berdarah Bom Surabaya

Slavegod Band Members

Kamu penikmat musik cadas beraliran grindcore tentunya tidak asing lagi mendengar nama SLAVEGOD. Band yang berasal dari kota Malang, Jawa Timur barusan mengumumkan kabar baik. Kelompok musik yang terbentuk sejak tahun 2013, bulan lalu merilis EP album. Tepatnya 11 Mei 2020 lalu SLAVEGOD akhirnya memuntahkan EP terbaru mereka yang bertajuk ‘Disbelief‘ ada 8 track yang dikemas dengan racikan grindcore ugal-ugalan.

Meski dalam kondisi merebaknya virus covid-19 mereka tetap bulat nyali merilis EP. Menurut sang gitaris, Fiki Muhammad Yusuf, nyali itu tumbuh terinspirasi kata-kata sastrawan Lekra tersohor, Pramoedya Ananta Toer yang menjadi panutannya. “Untuk memeriahkan hidup, kita harus berkarya”, ujar Fiki menirukan Pram. Lantas itulah yang yang menjadikan SLAVEGOD terus berkarya dalam kondisi apapun.

Fiki menjelaskan, lagu dalam EP ‘Disbelief’ banyak menyuarakan tentang kritik sosial. Selain itu juga album ini memuat semacam perenungan terhadap dunia yang semakin tua. “Mengapa semakin maju dan modern zaman, kematian semakin kehilangan citra dirinya yang menakutkan, berubah menjadi sebuah sarana pencapaian tujuan yang suci? Apakah mungkin nafsu penghancuran diri ini muncul dalam aura spiritual sebuah ibadah? jika bukan, apakah mungkin opini problematik ini dibidani oleh internet (sebagai) pusatnya ilmu pengetahuan & budaya kemanusiaan? potongan ini penjelasan dari lagu ‘Merupa Luka’,” Terang Fiki kepada Metallagi.com.

Lainnya, lagu yang dibuat merupakan kemarahan SLAVEGOD atas peristawa dari pengeboman gereja di Surabaya 2018 silam. ‘Disbelief’ merupakan manifestasi dari kematangan berpikir SLAVEGOD dari karya-karya sebelumnya telah dibuat. Yaitu album pertamanya ‘Grinding Apocalypse‘ yang rilis tahun 2016. Saat itu, para personil belum menginjak usia 20 tahun. Mereka mengatakan banyak momen yang sulit dijelaskan dan menjadi realita kehidupan yang terus memacu gairah mereka dalam berkarya . “Sama halnya saat menyaksikan anak-anak muda nongkrong di depan minimarket, saat menutup hidung ketika melintasi buntalan-buntalan dan sampah yang berceceran di pinggir pasar, atau kala mendengar raung sirine di tengah malam”, kata Fiki.

Nama SLAVEGOD dipilih karena spontanitas saja. Selain itu nama SLAVEGOD mudah di ingat karena hanya terdiri dari 2 kata dan bisa dibaca sekaligus 1 kata. Rencana mereka untuk kedepan tentu tour. Tak klimaks rasanya memang pada umumnya jika ada band yang tidak melakukan tour setelah rilis album. EP ini adalah bentuk luapan energi serta potensi grindcore sebagai medium—tanpa batasan, tanpa konteks, juga tanpa tujuan apa pun.

Pesan Fiki untuk semua yang berkontribusi dan memcicip karya, adalah “RUTAM NUWUS NAWAK HEBAK!” kebalikan kata dari Matur Suwun Kabeh yang dalam bahasa Indonesia terima kasih untuk semua kawan.

Kamu bisa lebih mengenal SLAVEGOD melalui akun sosial media mereka;

Kamu juga bisa menyimak teaser dari album “Disbelief” dari SLAVEGOD melalui video di bagian bawah halaman ini

Tinggalkan Komentar ...

Baca Juga

VOX MORTIS: Musik Metal Dan Gerakan Kampanye Kesejahteraan Hewan

Tidak lagi identik dengan tema-tema kematian dan depresi, musik death metal yang diusung oleh band kawakan asal Jakarta, VOX MORTIS, punya jalan ninja yang berbeda. Mereka membawa isu kesejahteraan hewan sebagai sajian utama. Band baru yang dibentuk oleh para musisi kondang Jakarta ini, yakni Doni Herdaru Tona (FUNERAL INCEPTION), Achmad Mustaid (VOMITOLOGY) dan Donirro (LAST […]

BELLPANIC, Psychedelic Rock Pasuruan Rilis “Drunk In Blues”

Musik rock dan berbagai subgenre-nya tampak seolah mati di Kota Pasuruan. Lajunya lambat terseok-seok. Sangat jarang ditemui event maupun kelompok musik rock yang menonjok di kota “inspiring city” ini. Band-band grunge dan punk pun juga tak ada taring. Paling banter anak-anak metal tongkrongan Orgi Studio dan Pasuruan Under Divison yang rajin membuat gigs musik cadas. […]