Ngobrolin Perempuan Dalam Kancah Musik Grindcore Bersama TEKAD

Tekad Band Members

Meskipun dalam kondisi serba terbatas karena virus corona ini, metallagi.com berkesempatan mewawancarai via daring female band Grindcore asal Mojokerto, TEKAD. Seluruh personil band ini perempuan. Band yang digawangi oleh anak-anak muda ini, bahkan gitarisnya masih duduk di bangku SMP. Namun tidak diragukan lagi, sepak terjang mereka di kancah musik underground cukup berbahaya. Panggung besar sekelas Hellprint di Bandung pun sudah dihajarnya tahun 2019 lalu. Ini mematahkan stigma, bahwa musik grindcore atau musik underground umumnya bukan hanya milik laki-laki. Tapi juga perempuan dan anak-anak muda. Jadi, dari sekarang stop ya diskriminasi perempuan dan anak-anak muda yang dikira minim pengalaman dan pengetahuan.

Dewi Wulandari, sang vokalis TEKAD, banyak bercerita pengalaman TEKAD bergeliat dalam lingkaran musik keras. Yakni sejak tahun 2015. Ia mengatakan bahwa TEKAD dari awal sengaja dibentuk sebagai band yang personilnya perempuan. Selain sebagai bentuk emansipasi perempuan, juga karena ingin tampil beda. Di awal banyak yang meragukan bahkan meremehkan bandnya. “Oh jelas ada yang seperti itu hehe, tapi dulu gara-gara banyak yang ngeremehin jadinya malah tambah semangat, ya emang sih kalau skill kita emang masih harus banyak belajar dan latihan dulu, soalnya juga awal bikin band emang belum menguasai alat musik, jadi benar-benar mulai dari nol”, kata perempuan yang akrab disapa Wulan itu.

Kami juga ngobrol dengan Wulan tentang kekhawatiran terjadi pelecehan seksual di scene musik. Entah itu di lingkup musik underground ataupun tidak, menciptakan ruang aman bagi perempuan itu penting. Laki-laki dan perempuan harus sama-sama kompak melawan itu. Pengalaman Wulan, selama ia menyelam di scene music tak pernah menemui kawan-kawan metalheads yang melakukan itu. “Pengalamanku selama ini di dunia permetalan alhamdulillah belum ada temen yang seperti itu, malah temen-temenku mencoba menjaga entah itu dari segi keamanan saat nonton event dan lain-lain”, ungkapnya.

Perempuan berusia 21 tahun itu, punya pengalaman unik soal keterlibatannya sebagai pelaku musik underground. Ia penah dipandang sebelah mata. Namun, ia memilih cuek dengan hal itu. “Aku gak pernah dengerin omongan orang yang gak tau kebenarannya seperti apa saat bareng teman-teman metalhead, kan pada kenyataannya tidak semua yang terlihat buruk itu selalu buruk, dan yang terlihat baik tidak selalu baik, kembali lagi ke pribadi masing-masing sih”, ujar Wulan. Ia mengajak para perempuan lainnya untuk berani unjuk gigi juga di dunia musik underground. “Harus lebih berani… dunia metal tidak menyeramkan”, imbuhnya.

Band yang digawangi oleh Dewi Wulandari (vokalist), Rizky P. Mariana (drummer), Rachma Annysa F. (guitarist), dan Awpia Palammari (Bassist) ini sekarang sedang sibuk menyusun mini album. Dan segera akan merilis merchandise tees setelah wabah covid-19 lenyap. Kamu yang haus tentang info-info musik cadas lokal dan internasional, jangan lupa untuk selalu berkunjung di metallagi.com. Jika kamu ingin berbagi materi tentang band-band unik agar dimuat, langsung saja kontak kami melalui instagram metallagi.com. sekian terima kasih telah membaca.

Tinggalkan Komentar ...

Baca Juga

Anthem baru Fingerprint Untuk Sapa Kamu Para Pengembara Jalanan

FINGERPRINT, band hardcore asal Medan, merilis karyanya di bulan Juli 2021 ini. Diawali dengan perilisan single “Dongan Sahuta” tanggal 7 Juli 2021. Selang dua hari, mereka mengumumkan perilisan album ketiga bertajuk “Determinasi” yang resmi dirilis tanggal 9 juli 2021 dalam versi CD oleh Lawless Records Jakarta. Dan versi kaset pita oleh Disaster Records. Album ini […]

Foreplay Sebelum Penetrasi Klimaks, WARBLOOD FEST Adakan Live Sessions

WARBLOOD FEST sudah berjalan hingga chapter delapan. Harusnya bulan Juli 2021 ini lagi akan digelar yang kesembilan. Namun sayang, karena kondisi PPKM darurat memaksa mereka mengurungkan niatnya. Padahal udah siap banget nih acara digelar. WARBLOOD FEST kesembilan rencananya akan di adakan di salah satu tempat di Penanjakan Bromo seperti acara Mountains of Death gitu, sih. […]